Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Mengenal Nenek 87 Tahun Penjaga Tradisi Bakcang Pontianak

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 19 Juni 2026 | 23:16 WIB
MENGUKUS BAKCANG: The Ngak Tjeng (87) mengangkat kukusan di dapur rumahnya di Pontianak. Dari tangan renta perempuan ini, tradisi dan nilai budaya Tionghoa terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
MENGUKUS BAKCANG: The Ngak Tjeng (87) mengangkat kukusan di dapur rumahnya di Pontianak. Dari tangan renta perempuan ini, tradisi dan nilai budaya Tionghoa terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

PONTIANAK POST — Di sebuah rumah sederhana di Pontianak, aroma daun bambu kukus masih mengepul dari dapur milik The Ngak Tjeng (87). Perempuan lanjut usia itu menjadi salah satu figur penting dalam pelestarian tradisi bakcang Pontianak yang terus hidup hingga Festival Bakcang 2026.

Pada Kamis (18/6), aktivitas pembuatan bakcang kembali berlangsung di rumahnya. Di usia yang sudah lanjut, ia tetap mengangkat kukusan, melipat daun, dan meracik isian ketan secara mandiri. Tradisi yang ia rawat puluhan tahun itu kini menjadi bagian dari dokumentasi budaya Kota Pontianak.

Meski tidak berbasis produksi massal, konsistensi The Ngak Tjeng dalam mempertahankan proses tradisional menjadi nilai utama, di mana setiap bakcang dibuat dengan teknik manual tanpa mekanisasi, menjadikannya bukan sekadar produk kuliner, tetapi bagian dari praktik budaya yang hidup.

Dapur Kecil yang Menjaga Warisan Besar

Di dapur rumahnya, The Ngak Tjeng bekerja dengan ritme yang tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Daun bambu dilipat, diisi ketan, daging, jamur, kacang, dan telur asin, lalu diikat sebelum dikukus berjam-jam.

Ia lahir di Punggur pada 1939 dan sejak muda telah mengenal proses pembuatan bakcang sebagai bagian dari tradisi keluarga Tionghoa. Hingga kini, ia tetap menjadi salah satu penjaga pengetahuan kuliner tradisional tersebut.

“Kalau tidak ada yang membuat, lama-lama anak muda tidak tahu lagi bagaimana tradisi ini dijalankan,” ucapnya.

Tokoh Tionghoa, Andrea Acui Simanjaya menilai bahwa praktik kuliner tradisional seperti pembuatan bakcang memiliki peran penting dalam proses transmisi pengetahuan lintas generasi, terutama dalam masyarakat multikultural seperti di Kalimantan Barat.

Piagam penghargaan The Ngak Tjeng atas kontribusinya dalam pelestarian tradisi bakcang di Kota Pontianak. Penyerahan dilakukan di Alun-Alun Kota Pontianak dan disaksikan oleh Wali Kota Pontianak, tokoh masyarakat, serta para tamu undangan yang hadir.
Piagam penghargaan The Ngak Tjeng atas kontribusinya dalam pelestarian tradisi bakcang di Kota Pontianak. Penyerahan dilakukan di Alun-Alun Kota Pontianak dan disaksikan oleh Wali Kota Pontianak, tokoh masyarakat, serta para tamu undangan yang hadir.

“Tradisi kuliner bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang pengetahuan sosial yang diwariskan melalui praktik sehari-hari. Di dalamnya terdapat nilai keluarga, identitas, dan memori kolektif yang tidak bisa digantikan oleh dokumentasi tertulis semata. Karena itu, sosok-sosok seperti The Ngak Tjeng menjadi sangat penting dalam menjaga kesinambungan budaya hidup,” ujar dia.

Ia menambahkan, hilangnya pelaku tradisi akan berdampak langsung pada terputusnya rantai pengetahuan budaya yang selama ini diwariskan secara lisan dan praktik langsung di lingkungan keluarga.

“Ketika praktik ini berhenti, yang hilang bukan hanya resep, tetapi juga cara hidup dan cara memaknai kebersamaan dalam komunitas,” katanya.

Bakcang Bukan Sekadar Makanan, Tapi Identitas Budaya

Bagi The Ngak Tjeng, bakcang bukan hanya makanan berbahan ketan yang dibungkus daun bambu. Lebih dari itu, bakcang adalah simbol keluarga, kebersamaan, dan ingatan kolektif masyarakat Tionghoa di Pontianak.

Ia juga dikenal sebagai pembuat berbagai kuliner tradisional lain seperti chai kue dan kue-kue khas perayaan Imlek. Namun bakcang memiliki makna paling dalam dalam perjalanan hidupnya.

Di tengah perubahan gaya hidup modern dan makanan instan, keberadaan perajin tradisional seperti dirinya menjadi semakin langka.

 

Festival Bakcang 2026 dan Rekor 1.000 Porsi

Tradisi yang dijaga The Ngak Tjeng turut menjadi bagian dari Festival Bakcang 2026 di Pontianak yang digelar oleh Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP) di kawasan Alun-Alun Kapuas.

Festival tersebut mencatat pembagian 1.000 bakcang kepada masyarakat dan dinyatakan sebagai capaian rekor yang disaksikan Wali Kota Pontianak, tokoh masyarakat, serta Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat.

Ketua KBTP, Hendry Pangestu Lim, mengatakan festival ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga ruang edukasi dan pelestarian tradisi.

“Festival Bakcang bukan sekadar hiburan. Ini ruang edukasi dan pelestarian budaya,” ujarnya.

Kepala UPT Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat menyerahkan piagam penghargaan atas pemecahan rekor pembagian 1.000 bakcang di Kota Pontianak dalam Festival Bakcang yang digelar di Alun-Alun Kota Pontianak. Penyerahan piagam tersebut disaksikan Wali Kota Pontianak, tokoh masyarakat, serta masyarakat yang hadir.
Kepala UPT Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat menyerahkan piagam penghargaan atas pemecahan rekor pembagian 1.000 bakcang di Kota Pontianak dalam Festival Bakcang yang digelar di Alun-Alun Kota Pontianak. Penyerahan piagam tersebut disaksikan Wali Kota Pontianak, tokoh masyarakat, serta masyarakat yang hadir.

Perempuan Lansia sebagai Penjaga Memori Budaya

Dalam struktur budaya Tionghoa, perempuan kerap berperan sebagai penjaga tradisi keluarga. Hal itu tercermin dari perjalanan hidup The Ngak Tjeng yang konsisten menjaga praktik kuliner warisan leluhur.

Tokoh Tionghoa Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, menilai keberadaan sosok seperti The Ngak Tjeng menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

“Beliau bukan sekadar pembuat bakcang, tetapi penghubung generasi,” katanya.

 

Pelestarian Budaya dan Tantangan Generasi Muda

Di tengah arus modernisasi, regenerasi pembuat bakcang menjadi tantangan tersendiri. Banyak generasi muda tidak lagi menguasai teknik tradisional pembuatan makanan khas ini.

Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat mencatat proses pembuatan bakcang sebagai bagian dari dokumentasi budaya hidup yang perlu dilestarikan, bukan hanya dalam bentuk benda, tetapi juga keterampilan.

Kepala UPT Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat, Meidy Vinandar Pratama, menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan benda-benda koleksi yang tersimpan di ruang pamer, tetapi juga mencakup praktik budaya yang masih hidup di tengah masyarakat atau yang dikenal sebagai living heritage.

“Warisan budaya tidak hanya berupa benda yang disimpan di museum, tetapi juga berupa pengetahuan, keterampilan, dan praktik budaya yang masih dijalankan oleh masyarakat. Hal-hal seperti pembuatan bakcang oleh pelaku budaya merupakan bagian dari living heritage yang harus didokumentasikan dan diwariskan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dokumentasi terhadap praktik budaya hidup menjadi penting untuk memastikan pengetahuan tradisional tidak terputus antar generasi, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat.

“Ketika sebuah tradisi masih dipraktikkan, di situlah nilai sejarahnya tetap hidup. Tugas museum adalah merekam, mendokumentasikan, dan memastikan pengetahuan itu dapat diakses generasi berikutnya,” lanjutnya.

Menyusuri Sungai Kapuas sambil menikmati bakcang dan kicang pada Festival Hari Bakcang 2026  yang digelar MABT Indonesia, Jumat (19/6/2026). (MARSITA RIANDINI/PONTIANAKPOST).
Menyusuri Sungai Kapuas sambil menikmati bakcang dan kicang pada Festival Hari Bakcang 2026  yang digelar MABT Indonesia, Jumat (19/6/2026). (MARSITA RIANDINI/PONTIANAKPOST).

Warisan yang Tidak Boleh Hilang

Bagi The Ngak Tjeng, tradisi hanya akan bertahan jika terus dilakukan, bukan sekadar dikenang. Selama tubuhnya masih mampu, ia tetap ingin berada di dapur, menjaga rasa dan ingatan yang diwariskan keluarga.

Di Pontianak, dari dapur kecil seorang nenek 87 tahun, sebuah warisan budaya tetap bertahan di tengah perubahan zaman. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#The Ngak Tjeng Pontianak #tradisi bakcang Tionghoa #Festival Bakcang 2026 Pontianak #pelestarian budaya Kalimantan Barat #kuliner tradisional Tionghoa