Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Kenang Kematian Aktivis Syafarudin, Mahasiswa Sampaikan Aspirasi di Polda Kalbar

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 19 Juni 2026 | 23:39 WIB
Mahasiswa menyampaikan orasi saat aksi mengenang Syafarudin di depan Mapolda Kalbar, Jumat (19/6). Aksi tersebut digelar untuk memperingati 26 tahun kematian mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak yang tewas dalam demonstrasi 14 Juni 2000 sekaligus menyuarakan tuntutan penuntasan kasusnya.
Mahasiswa menyampaikan orasi saat aksi mengenang Syafarudin di depan Mapolda Kalbar, Jumat (19/6). Aksi tersebut digelar untuk memperingati 26 tahun kematian mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak yang tewas dalam demonstrasi 14 Juni 2000 sekaligus menyuarakan tuntutan penuntasan kasusnya.

PONTIANAK POST – Polda Kalimantan Barat mengerahkan personel untuk mengamankan aksi unjuk rasa gabungan mahasiswa yang digelar di Pontianak, Jumat (19/6). Pengamanan dilakukan untuk memastikan penyampaian aspirasi berlangsung aman, tertib, dan kondusif, sekaligus mengenang almarhum Syafarudin yang meninggal dunia saat aksi unjuk rasa pada tahun 2000.

Sebelum aksi dimulai, Polda Kalbar menggelar Apel Kesiapan Personel di Lapangan Jananuraga Mapolda Kalbar. Apel tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa mengganggu ketertiban umum.

Aksi diikuti mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus, di antaranya BEM Polnep, Solmadapar, IBEI, Polita, FKBK, Fomda Kalbar, dan BEM SI. Massa aksi dipimpin oleh Markus.

Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan dan refleksi atas perjuangan almarhum Syafarudin yang meninggal dunia saat mengikuti aksi unjuk rasa pada tahun 2000. Selain mengenang sejarah gerakan mahasiswa, peserta juga menyampaikan sejumlah aspirasi kepada kepolisian.

Syafarudin merupakan mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak (kini Polnep) asal Singkawang yang tewas tertembak saat mengikuti aksi demonstrasi mahasiswa pada 14 Juni 2000. Saat itu, ribuan mahasiswa turun ke jalan mengawal sidang laporan pertanggungjawaban Gubernur Kalimantan Barat, Aspar Aswin, yang dinilai tidak sejalan dengan semangat reformasi dan dituding terlibat berbagai persoalan tata kelola pemerintahan.

Dalam aksi yang berlangsung di kawasan Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Syafarudin mengalami luka tembak di bagian kepala dan meninggal dunia. Hingga lebih dari dua dekade berlalu, kasus kematiannya belum terungkap secara tuntas dan pelakunya belum diketahui. Peristiwa tersebut kemudian dikenal luas sebagai "Tragedi Juni Berdarah" dan menjadi salah satu simbol perjuangan gerakan mahasiswa Kalimantan Barat dalam era reformasi.

Setiap tahun, berbagai elemen mahasiswa di Kalimantan Barat terus memperingati kematian Syafarudin sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat bahwa kasus tersebut belum menemukan kejelasan hukum.

Aksi mengenang Syafarudin tidak hanya dimaknai sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai tuntutan agar penegakan hukum dan keadilan bagi korban pelanggaran hak sipil pada masa reformasi tetap menjadi perhatian publik.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa menyampaikan aspirasi secara tertib. Situasi di lokasi aksi terpantau aman dan kondusif.

Perwakilan massa aksi diterima langsung oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Kombes Pol Raswin Bachtiar Sirait untuk mendengarkan aspirasi yang disampaikan. Pertemuan tersebut turut didampingi Pamenwas serta Kabagwassidik Ditreskrimum Polda Kalbar AKBP Amin Sidiq.

Dialog antara mahasiswa dan kepolisian berlangsung dalam suasana terbuka sebagai bagian dari komitmen menjaga ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan Polri menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum sesuai ketentuan yang berlaku.

"Polda Kalbar berkomitmen mengawal setiap penyampaian aspirasi masyarakat agar dapat berlangsung aman, tertib, dan kondusif," ujar Bambang.

Menurutnya, pengamanan dilakukan dengan pendekatan humanis agar masyarakat dapat menyampaikan aspirasi secara damai tanpa mengabaikan aspek keamanan dan ketertiban.

Setelah seluruh agenda selesai, massa aksi membubarkan diri secara tertib. Personel Polda Kalbar tetap melakukan pengawalan hingga seluruh peserta meninggalkan lokasi kegiatan.

Tidak ada insiden menonjol selama aksi berlangsung. Pengamanan yang dilakukan aparat serta sikap kooperatif peserta aksi membuat seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#aksi mahasiswa Kalbar #pengamanan unjuk rasa #penyampaian aspirasi masyarakat #Syafarudin aktivis mahasiswa #polda kalimantan barat