Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Lima Orangutan Kembali ke Hutan Kalimantan Setelah Puluhan Tahun Direhabilitasi

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 19 Juni 2026 | 23:54 WIB
Seekor orangutan melangkah menuju habitat alaminya saat proses pelepasliaran di hutan Kalimantan. Kelima orangutan tersebut sebelumnya menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng setelah diselamatkan dari berbagai ancaman, termasuk kebakaran hutan dan kehilangan habitat. (ANTARA)
Seekor orangutan melangkah menuju habitat alaminya saat proses pelepasliaran di hutan Kalimantan. Kelima orangutan tersebut sebelumnya menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng setelah diselamatkan dari berbagai ancaman, termasuk kebakaran hutan dan kehilangan habitat. (ANTARA)

PONTIANAK POST – Lima orangutan yang telah menjalani rehabilitasi selama bertahun-tahun akhirnya kembali menghirup kebebasan di hutan Kalimantan. Yayasan BOS bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan sejumlah mitra melepasliarkan lima individu orangutan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).

Pelepasliaran ini menjadi lebih dari sekadar agenda konservasi. Bagi Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru, momen tersebut menandai awal kehidupan baru setelah melewati masa panjang pemulihan akibat kehilangan habitat, konflik dengan manusia, hingga dampak kebakaran hutan.

Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, mengatakan setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa kisah perjuangan yang tidak singkat.

“Setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan yang panjang. Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru telah melalui bertahun-tahun rehabilitasi untuk belajar kembali menjadi orangutan liar,” ujarnya, Jumat (19/6).

Menurut Jamartin, pelepasliaran bukanlah akhir dari proses rehabilitasi, melainkan awal dari kehidupan baru mereka di habitat alami.

Kelima orangutan yang terdiri dari tiga betina dan dua jantan tersebut dinyatakan siap hidup mandiri setelah menjalani tahapan rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Di antara lima orangutan yang dilepasliarkan, Himba memiliki kisah yang menyentuh. Orangutan jantan berusia 15 tahun itu ditemukan saat masih bayi dengan luka bakar serius akibat kebakaran hutan.

Selama 14 tahun menjalani rehabilitasi, Himba belajar memanjat, mencari pakan alami, hingga bertahan hidup di alam. Kini ia dikenal sebagai individu yang aktif menjelajah dan memiliki kemampuan adaptasi yang baik.

Kisah Himba menjadi gambaran bagaimana upaya penyelamatan satwa liar dapat memberikan kesempatan kedua bagi individu yang terdampak kerusakan lingkungan.

Perjalanan panjang juga dialami Lykke, orangutan betina berusia 23 tahun. Ia tiba di Nyaru Menteng bersama induknya ketika masih berusia sekitar satu bulan.

Hampir 22 tahun menjalani rehabilitasi membuat Lykke tumbuh menjadi individu yang mandiri. Tim rehabilitasi mencatat ia lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon dan menunjukkan perilaku alami yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di hutan.

Sementara itu, Farida yang berasal dari Tumbang Samba menunjukkan kemampuan eksplorasi dan adaptasi yang baik selama masa pra-pelepasliaran.

Bersama Nett dan Semeru, mereka kini menjadi bagian dari populasi orangutan liar di kawasan konservasi Kalimantan.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, mengatakan pelepasliaran orangutan merupakan bagian penting dari upaya memulihkan keseimbangan ekosistem.

Pelepasliaran kali ini merupakan pelepasliaran ke-47 yang dilakukan bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah.

Orangutan hasil rehabilitasi dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan. Yayasan BOS bersama BKSDA Kalimantan Tengah melepasliarkan lima orangutan yang telah menjalani rehabilitasi selama bertahun-tahun sebelum kembali ke habitat alaminya. (YAYASAN BOS)
Orangutan hasil rehabilitasi dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan. Yayasan BOS bersama BKSDA Kalimantan Tengah melepasliarkan lima orangutan yang telah menjalani rehabilitasi selama bertahun-tahun sebelum kembali ke habitat alaminya. (YAYASAN BOS)

“Kami mengapresiasi kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orangutan dan habitatnya, sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” katanya.

Di tengah berbagai ancaman terhadap habitat hutan tropis Kalimantan, setiap individu orangutan yang berhasil kembali ke alam liar memiliki arti penting bagi kelangsungan spesies yang kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 50 ribuan ekor di Pulau Kalimantan. Karena itu, pelepasliaran tidak hanya menyelamatkan satu individu satwa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan populasi orangutan di masa depan.

Kepala TNBBBR Mochamad Satori menegaskan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan salah satu benteng penting bagi kelangsungan hidup orangutan di alam liar.

Menurutnya, kehadiran orangutan tidak hanya penting bagi keberlangsungan spesies itu sendiri, tetapi juga bagi kesehatan ekosistem hutan tropis.

“Kehadiran mereka di alam memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hutan tropis, sehingga perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas pihak dan dukungan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai penyebar biji alami, orangutan berperan membantu regenerasi hutan. Karena itu, keberhasilan pelepasliaran bukan hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menjaga masa depan hutan Kalimantan yang menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna lainnya. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#konservasi orangutan Kalimantan #Yayasan BOS #Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya #rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng #pelestarian satwa liar Indonesia