PONTIANAK POST - Anggota MPR/DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Kalimantan Barat, Erlinawati, menggelar Kegiatan Penyerapan Aspirasi Masyarakat (Asmas) di Kampus Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP) belum lama ini. Acara yang berlangsung di aula utama kampus ini melibatkan ratusan mahasiswa dari Program Studi Kesehatan Masyarakat sebagai peserta aktif.
Dengan mengusung tema besar "Pembangunan Nasional Berwawasan Lingkungan," forum ini dirancang sebagai ruang dialektika untuk menyelaraskan arah pembangunan nasional dengan komitmen pelestarian alam di Kalimantan Barat.
Dalam pemaparannya, Erlinawati mengaitkan urgensi isu lingkungan ini dengan fundamen 4 Pilar Kebangsaan, khususnya Pancasila dan UUD NRI 1945. Beliau menegaskan bahwa amanat konstitusi dalam Pasal 33 Ayat 4 secara eksplisit mewajibkan perekonomian nasional diselenggarakan atas prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, mahasiswa kesehatan masyarakat ditantang untuk mengambil peran strategis sebagai motor penggerak di lapangan, sebab derajat kesehatan masyarakat yang optimal mustahil terwujud tanpa adanya daya dukung lingkungan hidup yang sehat dan seimbang.
"Ingat, Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 dengan tegas memerintahkan agar ekonomi kita tumbuh secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Mahasiswa kesehatan masyarakat harus berani mengambil peran strategis dan menjadi motor penggerak di lapangan. Kita harus sadar, derajat kesehatan masyarakat yang optimal tidak akan pernah terwujud jika lingkungan hidup kita rusak dan tidak seimbang. Artinya, konstitusi kita sudah memerintahkan agar pembangunan tidak boleh merusak bumi tempat kita berpijak," tegasnya.
Sinergi pemikiran juga diperkuat oleh paparan dari Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi UMP, Dedi Alamsyah. Beliau menjabarkan bahwa konsepsi pembangunan berkelanjutan harus mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Lebih lanjut, Dedi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi materiil dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Sebagai wujud nyata ketaatan terhadap konstitusi, ia menegaskan perlunya langkah preventif terhadap polusi dan kerusakan lingkungan melalui penerapan AMDAL serta audit lingkungan yang ketat dan konsisten.
Memasuki sesi diskusi, suasana auditorium berubah menjadi dinamis saat para mahasiswa mulai melontarkan berbagai pertanyaan kritis. Mereka menyoroti tantangan nyata di Kalimantan Barat, seperti dampak industri ekstraktif terhadap sanitasi warga, hingga harmonisasi antara investasi ekonomi dengan perlindungan hutan adat. Pertanyaan-pertanyaan tajam tersebut mencerminkan kepekaan akademis yang tinggi sekaligus kepedulian nyata generasi muda terhadap masa depan ekologi daerah mereka.
Menutup rangkaian kegiatan tersebut, Erlinawati mengajak seluruh peserta untuk tidak membiarkan hasil pertemuan ini menguap sebagai wacana teoritis di ruang seminar semata. Seluruh elemen kampus diharapkan segera merealisasikan hasil penyerapan aspirasi ini dalam aksi nyata, di mana parlemen bergerak di jalur kebijakan dan legislasi, sementara mahasiswa menjadi garda terdepan dalam mengedukasi serta mengawasi implementasi pembangunan yang ramah lingkungan demi masa depan Kalimantan Barat yang lestari.
"Mari kita jadikan momentum hari ini sebagai langkah awal yang konkret. Saya di Senayan akan terus menyuarakan regulasi yang pro-lingkungan, namun saya butuh mata, telinga, dan aksi nyata kalian di lapangan untuk memastikan bumi Kalimantan Barat tetap hijau dan sehat untuk anak cucu kita kelak," pungkasnya.(iza)
Editor : Hanif