Suasana hangat penuh kekeluargaan mewarnai pertemuan rutin Jamaah Pengajian IPHI Al Arafah yang digelar pada Sabtu, 20 Juni 2026. Di sela kegiatan khataman Al-Qur'an, tausiyah agama, dan silaturahmi, terselip nuansa haru ketika jamaah menerima kehadiran Konsul Malaysia di Pontianak, Azizul Zekri bin Abd Rahim, beserta istrinya, Puan Norizam binti Ismail. Azizul akan mengakhiri tugasnya pada 31 Julin 2026 mendatang.
Pertemuan yang berlangsung sederhana namun penuh keakraban. Para jamaah duduk bersila di atas hamparan karpet sambil mengikuti rangkaian kegiatan pengajian yang telah menjadi agenda rutin setiap bulan.
Bagi Jamaah IPHI Arafah, Azizul bukan sekadar diplomat yang mewakili negara sahabat. Selama bertugas di Pontianak, ia dikenal dekat dengan masyarakat dan aktif menghadiri berbagai kegiatan sosial, budaya, maupun keagamaan. Salah satu komunitas yang cukup dekat dengannya adalah Jamaah Pengajian IPHI Al Arafah.
Dalam sambutannya, Azizul Zekri bin Abd Rahim mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari keluarga besar pengajian tersebut selama menjalankan tugas di Kota Pontianak.
Menurutnya, hubungan yang terjalin selama ini tidak lagi sebatas hubungan pertemanan, tetapi telah berkembang menjadi hubungan persaudaraan yang sangat erat.
"Kami merasa diterima dengan sangat baik. Jamaah pengajian ini sudah seperti keluarga sendiri. Banyak kenangan dan pengalaman berharga yang kami peroleh selama berada di Pontianak. Kota ini akan selalu memiliki tempat istimewa dalam hati kami," ujarnya.
Hal senada disampaikan sang istri, Puan Norizam binti Ismail. Ia mengaku sangat terkesan dengan keramahan masyarakat Pontianak dan kehangatan yang diberikan keluarga besar IPHI Al Arafah.
Menurutnya, selama tinggal di Pontianak dirinya merasa memiliki keluarga kedua yang selalu memberikan perhatian, persahabatan, dan dukungan.
"Kami sangat bersyukur dipertemukan dengan banyak sahabat baik di Pontianak. Kebersamaan yang terjalin selama ini akan menjadi kenangan yang tidak akan kami lupakan," tuturnya.
IPHI Al Arafah sendiri merupakan kelompok pengajian yang lahir dari ikatan persaudaraan jamaah haji yang berangkat bersama melalui KBIH Arafah pada musim haji tahun 2019.
Setelah kembali dari Tanah Suci, para jamaah bersepakat menjaga ukhuwah dengan menggelar pengajian secara rutin setiap bulan secara bergiliran dari rumah ke rumah anggota.
Selain khataman Al-Qur'an dan kajian agama, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta menghimpun infaq yang kemudian disalurkan kepada berbagai lembaga sosial dan keagamaan di Kota Pontianak.
Pada kesempatan itu, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Uzlah Maulana yang mengangkat tema tentang keutamaan Bulan Muharram.
Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia yang dimuliakan Allah SWT dan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Ustadz Uzlah mengajak jamaah memperbanyak amalan sunnah selama bulan Muharram, terutama puasa sunnah dan shalat malam. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menyebut puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yakni bulan Muharram.
Menurutnya, umat Islam sangat dianjurkan melaksanakan puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram dan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Puasa Asyura memiliki keutamaan besar karena menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah berlalu.
Selain puasa, jamaah juga diajak memperbanyak qiyamul lail atau shalat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, beristighfar, dan memperbanyak sedekah kepada sesama. Ia mengingatkan bahwa pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi momentum muhasabah untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan memperbaiki kualitas iman serta amal ibadah.
"Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya," pesan Ustadz Uzlah.
Menjelang akhir acara, para jamaah memanjatkan doa untuk keselamatan, kesehatan, dan kesuksesan Azizul Zekri bin Abd Rahim beserta keluarga dalam menjalankan tugas selanjutnya di Kuala Lumpur. Mereka berharap silaturahmi yang telah terjalin selama ini tetap terjaga meski dipisahkan oleh jarak dan batas negara.
Pagi itu, yang terasa bukan sekadar perpisahan seorang diplomat dengan masyarakat yang pernah dilayaninya.
Lebih dari itu, tersirat sebuah ikatan persaudaraan yang lahir dari majelis ilmu, dipelihara oleh silaturahmi, dan akan terus hidup dalam doa-doa yang dipanjatkan dari Kota Khatulistiwa untuk sahabat-sahabat mereka di negeri jiran. (*)
Editor : Salman Busrah