PONTIANAK POST - Di Kabupaten Kubu Raya, sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Pontianak, berdiri sebuah bandara yang menyimpan jejak sejarah lebih dari delapan dekade.
Bandar Udara Internasional Supadio bukan sekadar terminal naik-turun pesawat, ia boleh jadi adalah saksi bisu perjalanan Kalimantan Barat dari masa penjajahan hingga era modern.
Lapangan Terbang Sungai Durian
Dikutip dari berbagai sumber, bandara ini mulanya adalah lapangan udara militer yang dibangun pada awal 1940-an dengan nama Lapangan Terbang Sungai Durian. Pangkalan ini memiliki sejarah panjang yang berawal dari kawasan yang dulunya masih berupa hutan lebat.
Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Kampung Sungai Durian, khususnya di area Pelabuhan Motor Sungai Durian, lalu lintas di sepanjang Sungai Kapuas pun semakin padat.
Melihat kondisi ini, Pemerintah Belanda mulai mencari solusi alternatif untuk mengurangi beban transportasi, dari kebutuhan itulah landasan terbang pertama di wilayah ini terbentuk.
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, fasilitas ini beralih ke tangan republik. Fungsinya yang semula murni militer perlahan bergeser, dan nama Sungai Durian pun mulai dikenal lebih luas sebagai pintu udara Kalimantan Barat.
Asal-Usul Sebuah Nama
Selama bertahun-tahun bandara ini dikenal dengan nama Lapangan Terbang Sungai Durian merujuk pada kawasan tempatnya berdiri.
Nama Supadio sendiri diambil dari nama Letnan Kolonel Supadio, perwira TNI AU yang pernah bertugas di Pangkowilud II Banjarmasin dan membawahi Pangkalan Udara Sungai Durian.
Baca Juga: Bandara Supadio Punya Tiga Rute Internasional, Buka Peluang Baru bagi Ekonomi dan Mobilitas Kalbar
Dalam buku Sejarah TNI AU Indonesia, disebutkan Supadio adalah perwira kelahiran Patrang, Jember, Jawa Timur pada 30 Agustus 1927. Ia tewas dalam kecelakaan pesawat bersama Kolonel (PNB) Nurtanio Pringgoadisuryo di Bandung pada tahun 1966.
Kepergian sang perwira mendorong berbagai pihak untuk mengabadikan namanya pada pangkalan udara yang pernah ia bawahi.
Atas usul Panglima Komando Wilayah Udara II Kalimantan dan dukungan Dirjen Perhubungan Udara, nama Pangkalan Udara Sungai Durian resmi berganti menjadi Pangkalan TNI AU Supadio melalui SK DPRD-GR Kalbar No SK 4/I-D/I-UM/1969 tanggal 18 Juni 1969.
Sejak saat itulah nama Supadio melekat hingga hari ini, bukan nama tempat, bukan nama raja, melainkan nama seorang perwira yang gugur dalam tugas.
Era Penerbangan Internasional
Memasuki era 1970-an, Supadio mulai terhubung ke dunia luar. Penerbangan internasional pertama ke Kuching di Sarawak dimulai pada 1970-an, dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines.
Baca Juga: Lima Layang-Layang Ganggu Jalur Penerbangan, Bandara Supadio Ingatkan Risiko Keselamatan Pesawat
Pada 1980-an, penerbangan ke Singapura menyusul oleh Garuda Indonesia, lalu pada akhir Oktober 1989 Malaysia Airlines memulai penerbangan ke Pontianak dari Kuching.
Namun guncangan ekonomi regional memutus semuanya. Semua penerbangan internasional dihentikan pada tahun 1998 karena Krisis Keuangan Asia, meski rute ke Kuching dilanjutkan kembali pada pertengahan 1999.
Sempat Turun Kelas, Lalu Bangkit Lagi
Merujuk pada laporan Antara (4/6/2025), perjalanan Supadio tidak selalu mulus. Status internasional Bandara Supadio sempat dicabut bersama 16 bandara lainnya di Indonesia melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 2024 tanggal 2 April 2024.
Namun perjuangan panjang berbagai pihak membuahkan hasil. Bandar Udara Supadio ditetapkan kembali sebagai bandara yang melayani penerbangan internasional berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 30 Tahun 2025.
Editor : Miftahul Khair