Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Pengungkapan Kasus Balepress Bongkar Celah Jalan Tikus Perbatasan Kalbar, Kasdam Soroti Tantangan Pengawasan

Uray Ronald • Selasa, 23 Juni 2026 | 22:58 WIB
Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XII/Tanjungpura Brigjen TNI Bambang Sujarwo. (Antara)
Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XII/Tanjungpura Brigjen TNI Bambang Sujarwo. (Antara)

 

PONTIANAK POST– Pengungkapan kasus penyelundupan pakaian bekas impor ilegal atau balepress yang diduga masuk melalui Kalimantan Barat membuka fakta bahwa jalur tikus di perbatasan Indonesia-Malaysia masih menjadi celah utama masuknya barang ilegal ke Indonesia.

Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XII/Tanjungpura Brigjen TNI Bambang Sujarwo mengatakan para pelaku memanfaatkan medan perbatasan yang luas dan sulit diawasi untuk menghindari pengawasan aparat.

"Meski pengamanan terus diperketat, sejumlah kawasan perbatasan yang sulit dijangkau masih dimanfaatkan untuk penyelundupan barang ilegal ke Indonesia," kata Bambang saat konferensi pers pengungkapan jaringan penyelundupan pakaian bekas impor ilegal, Selasa (23/6).

Temuan ini memperlihatkan bahwa pengungkapan balepress bukan sekadar kasus perdagangan ilegal, tetapi juga menjadi peringatan bahwa jaringan kejahatan lintas negara masih aktif mencari celah di wilayah perbatasan Kalimantan Barat.

Baca Juga: Pemerintah Amankan 43 Kontainer Pakaian Bekas Ilegal, Gudang di Kubu Raya dan Mempawah Ikut Disasar

Ratusan Kilometer Perbatasan Jadi Tantangan Pengawasan

Bambang menjelaskan Kalimantan Barat memiliki garis perbatasan darat dengan Malaysia sepanjang sekitar 970 kilometer.

Dari jumlah tersebut, sekitar 399,8 kilometer berada di kawasan blank spot atau wilayah tanpa jangkauan komunikasi yang memadai.

"Perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia memiliki karakteristik yang cukup berat. Selain wilayahnya sangat luas, terdapat ratusan kilometer daerah 'blank spot' yang tidak memiliki sinyal komunikasi sehingga membutuhkan pengawasan ekstra," katanya.

Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan besar bagi aparat yang bertugas menjaga wilayah perbatasan.

Di sejumlah titik, medan berupa hutan lebat dan jalur setapak membuat aktivitas pengawasan membutuhkan personel, teknologi, dan dukungan logistik yang tidak sedikit.

700 Personel Disiagakan di 52 Pos Perbatasan

Untuk memperkuat pengamanan, TNI menempatkan sekitar 700 personel yang berasal dari satuan Batalyon Arhanud Kostrad dan unsur kavaleri Kodam V/Brawijaya.

Mereka bertugas di 52 pos pengamanan yang tersebar di sepanjang wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Meski demikian, Bambang mengakui masih terdapat sejumlah jalur tidak resmi yang digunakan pelaku untuk memasukkan barang secara ilegal.

"Masih ada sejumlah jalan tikus yang sering digunakan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk memasukkan barang ilegal ke wilayah Indonesia. Karena itu, pengawasan tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja," ujarnya.

Menurutnya, para pelaku terus mengubah pola operasi agar tidak terdeteksi aparat.

Jalur-jalur kecil di kawasan hutan menjadi pilihan karena relatif jauh dari pengawasan rutin dan minim aktivitas masyarakat.

Baca Juga: Patroli Brimob di Perbatasan RI–Malaysia Diperketat, Tekan Ancaman Penyelundupan dan Jalur Ilegal

Modus Balepress Masuk Secara Bertahap

Pengungkapan terbaru bukan pertama kali dilakukan aparat di Kalimantan Barat.

Bambang mengungkapkan bahwa pada Februari 2026, pihaknya juga menemukan upaya penyelundupan balepress melalui wilayah perbatasan.

Modus yang digunakan adalah memasukkan barang dalam jumlah kecil dan dilakukan secara bertahap.

"Mereka memasukkan barang melalui jalur-jalur tikus dan dalam jumlah kecil agar tidak mudah terdeteksi. Modus seperti ini terus berkembang sehingga diperlukan kerja sama yang kuat antarinstansi," katanya.

Pola tersebut menunjukkan bahwa jaringan penyelundupan tidak selalu menggunakan pengiriman dalam skala besar.

Sebaliknya, pelaku memecah muatan menjadi kelompok kecil untuk mengurangi risiko penindakan apabila sebagian barang berhasil ditemukan aparat.

Perbatasan Kalbar Masih Jadi Target Kejahatan Transnasional

Selain penyelundupan barang ilegal, kawasan perbatasan Kalimantan Barat juga menjadi sasaran berbagai bentuk kejahatan lintas negara.

Sepanjang 2026, Satgas Pengamanan Perbatasan berhasil mengungkap penyelundupan sekitar 75,636 kilogram sabu-sabu, 11 kilogram ganja, dan 1.664 butir ekstasi.

Menurut Bambang, data tersebut menunjukkan bahwa jaringan kejahatan transnasional masih menjadikan wilayah perbatasan sebagai target utama.

Bagi masyarakat perbatasan, ancaman tersebut bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menyangkut keamanan lingkungan, kesehatan generasi muda, dan stabilitas ekonomi lokal.

Baca Juga: Perbatasan Kalimantan Diduga Jadi Jalur Masuk hingga 500 Kg Narkoba Setiap Bulan

Sinergi Aparat Jadi Kunci Pengungkapan

Bambang menegaskan keberhasilan pengungkapan berbagai kasus penyelundupan tidak terlepas dari kerja sama antara TNI, Polri, Bea Cukai, Kejaksaan, dan instansi terkait lainnya.

Kolaborasi lintas lembaga dinilai menjadi faktor utama dalam mempersempit ruang gerak jaringan penyelundupan yang memanfaatkan wilayah perbatasan.

"Pengawasan perbatasan tidak bisa dilakukan sendiri. Kami terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga perbatasan dan memberantas berbagai bentuk penyelundupan yang masuk ke Indonesia," ujarnya.

Pengungkapan jaringan balepress yang diduga masuk melalui Kalimantan Barat dan didistribusikan hingga Jakarta menjadi bukti bahwa pengawasan perbatasan memiliki peran strategis dalam melindungi industri nasional.

Upaya tersebut juga penting untuk menjaga penerimaan negara, melindungi pelaku usaha yang taat aturan, serta mencegah berkembangnya jaringan kejahatan lintas negara yang memanfaatkan celah di wilayah perbatasan Indonesia.*

Editor : Uray Ronald
#penyelundupan barang ilegal #penyelundupan balepress #jalan tikus perbatasan #pengungkapan kasus penyelundupan #kalimantan barat