PONTIANAK POST - Pontianak selama ini dikenal sebagai kota multikultural. Berbagai etnis seperti Melayu, Tionghoa, Dayak, Bugis, Jawa, Madura, dan kelompok lainnya hidup berdampingan di ibu kota Kalimantan Barat ini. Keragaman tersebut kerap menjadi kebanggaan sekaligus identitas yang terus digaungkan dalam berbagai forum publik.
Namun pertanyaan pentingnya, apakah toleransi yang sering dibicarakan itu benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat atau hanya menjadi slogan yang nyaman diucapkan?
Keberagaman memang menjadi kekayaan sosial Pontianak. Berbagai perayaan budaya dan keagamaan sering melibatkan kehadiran masyarakat lintas etnis dan agama. Di permukaan, suasana harmonis tampak terjaga.
Tetapi toleransi sejatinya tidak diukur dari banyaknya seremoni atau foto kebersamaan. Toleransi diuji ketika masyarakat berhadapan dengan perbedaan, prasangka, hingga konflik kepentingan. Pada titik itulah nilai penghormatan terhadap sesama benar-benar dipraktikkan.
Pendidikan Menjadi Fondasi
Salah satu cara paling efektif menanamkan toleransi adalah melalui pendidikan. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang membangun karakter dan pemahaman terhadap keberagaman.
Implementasi Kurikulum Merdeka melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) membuka peluang bagi peserta didik untuk mengenal budaya yang berbeda. Kegiatan dialog budaya, kunjungan ke komunitas, maupun interaksi langsung dengan kelompok yang memiliki latar belakang berbeda menjadi pengalaman penting untuk membangun empati.
Institut Dayakologi, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu ruang belajar bagi mahasiswa dan pelajar untuk memahami keberagaman budaya Kalimantan Barat. Pengalaman semacam ini perlu diperluas agar tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku.
Program "live in" atau tinggal bersama komunitas yang berbeda latar belakang selama beberapa hari dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran toleransi yang lebih efektif. Melalui pengalaman langsung, peserta tidak hanya memahami perbedaan, tetapi juga belajar menghargainya.
Tantangan Era Media Sosial
Di era digital, tantangan toleransi semakin kompleks. Media sosial dapat menjadi sarana penyebaran pesan perdamaian dan keberagaman. Namun pada saat yang sama, platform digital juga menjadi ruang subur bagi hoaks, ujaran kebencian, dan prasangka.
Tidak sedikit konflik sosial bermula dari informasi yang tidak diverifikasi. Keinginan untuk cepat membagikan informasi sering kali mengalahkan kehati-hatian dalam memeriksa kebenaran.
Karena itu, literasi digital menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat perlu dibekali kemampuan memilah informasi sekaligus memahami dampak sosial dari setiap unggahan yang disebarkan.
Prasangka yang Masih Tersisa
Meski kehidupan masyarakat Pontianak relatif harmonis, bukan berarti prasangka antar-kelompok telah hilang sepenuhnya. Prasangka dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari stereotip hingga diskriminasi yang sering kali berlangsung secara halus.
Pengalaman konflik sosial bernuansa etnis yang pernah terjadi di Kalimantan Barat menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak boleh dianggap selesai. Kerukunan harus terus dirawat melalui dialog, pendidikan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara.
Kelompok yang kurang memahami pentingnya toleransi juga rentan dipengaruhi narasi politik identitas yang memanfaatkan isu etnis dan agama demi kepentingan tertentu.
Toleransi Harus Menjadi Praktik
Toleransi tidak cukup dijadikan slogan dalam pidato, seminar, atau spanduk-spanduk kampanye. Toleransi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik.
Pemerintah, lembaga pendidikan, media, organisasi masyarakat, dan keluarga memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun budaya saling menghormati.
Pontianak telah memiliki modal sosial yang kuat berupa keberagaman. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberagaman tersebut tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan toleransi bukan terletak pada seberapa sering kata itu diucapkan, melainkan seberapa nyata ia dipraktikkan dalam kehidupan bersama. (Richardus Giring-Institut Dayakologi)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro