Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Melihat Lomba Mengaji Digital Berbasis AI Pertama di Indonesia, Pontianak Jadi Pionir

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 28 Juni 2026 | 21:35 WIB
JUARA LOMBA MENGAJI DIGITAL: Para pemenang lomba mengaji digital berbasis Artificial Intelligence (AI) pada acara penutupan "Muharram Versi Pemenang (MVP) League" di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Pontianak, Minggu (28/6/2026). Perlombaan tersebut memadukan penilaian teknologi AI dan verifikasi dewan juri sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur
JUARA LOMBA MENGAJI DIGITAL: Para pemenang lomba mengaji digital berbasis Artificial Intelligence (AI) pada acara penutupan "Muharram Versi Pemenang (MVP) League" di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Pontianak, Minggu (28/6/2026). Perlombaan tersebut memadukan penilaian teknologi AI dan verifikasi dewan juri sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur'an serta mendukung pengentasan buta aksara Al-Qur'an di Indonesia.

PONTIANAK POST – Platform pembelajaran Al-Qur'an digital, Qara'a, menggelar lomba mengaji digital berbasis Artificial Intelligence (AI) pertama di Indonesia di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dalam rangka menyemarakkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura (Untan), Ruang Theater 2, itu diikuti puluhan santri dari delapan Rumah Qur'an di Kota Pontianak.

Perlombaan bertajuk "Muharram Versi Pemenang (MVP) League" tersebut menjadi sarana monitoring dan evaluasi kualitas pembelajaran para santri yang belajar melalui aplikasi Qara'a. Teknologi AI dipadukan dengan penilaian langsung oleh para ustaz sebagai dewan juri untuk memastikan bacaan peserta tetap sesuai dengan kaidah tajwid.

Teknologi AI Membantu Pembelajaran Al-Qur'an

Co-founder Qara'a, Ahmad Kamel, mengatakan inovasi digital tersebut hadir sebagai solusi bagi Rumah Qur'an yang masih menghadapi kendala dalam memantau perkembangan santri secara manual.

"Kami menyadari masih banyak Rumah Qur'an yang terkendala dalam sistem monitoring santri. Tahun ini, kami berkomitmen hadir membantu melalui inovasi digital, dengan harapan dapat berkontribusi besar dalam upaya mengentaskan buta aksara Qur'an di Indonesia," ujar Ahmad usai menyerahkan hadiah kepada para pemenang di Gedung Konferensi Untan, Minggu (28/6/2026).

Menurut Ahmad, aplikasi Qara'a saat ini telah digunakan oleh lebih dari dua juta pengguna di seluruh Indonesia. Khusus di Pontianak, delapan Rumah Qur'an berpartisipasi dengan mengirimkan puluhan santri terbaik untuk mengikuti perlombaan mengaji digital tersebut.

Berdasarkan Survei Nasional Potensi Literasi Al-Qur'an Masyarakat Indonesia yang dirilis Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI pada 2023, Indeks Literasi Al-Qur'an nasional mencapai angka 66,038 atau masuk kategori tinggi.

Namun, survei terhadap 10.347 responden di seluruh Indonesia itu juga menunjukkan bahwa sebanyak 38,49 persen responden belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an. Survei tersebut menemukan hanya 44,57 persen responden yang mampu membaca Al-Qur'an dengan lancar sesuai kaidah tajwid.

Data tersebut menunjukkan tantangan literasi Al-Qur'an di Indonesia masih cukup besar. Kehadiran platform pembelajaran digital seperti Qara'a dinilai berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk memperluas akses belajar membaca Al-Qur'an, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu, akses guru mengaji, maupun rasa canggung belajar secara tatap muka.

Memudahkan Masyarakat Belajar Mengaji

Ahmad menjelaskan, Qara'a dirancang sebagai platform pembelajaran Al-Qur'an yang dapat diakses masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu maupun merasa canggung belajar secara tatap muka.

Melalui teknologi Artificial Intelligence (AI), aplikasi dapat memberikan umpan balik secara instan terhadap bacaan pengguna. Fitur tersebut memungkinkan proses belajar menjadi lebih fleksibel dan terukur.

Menurut Qara'a, aplikasi tersebut telah digunakan oleh lebih dari 1,8 juta pengguna di Indonesia dan menyediakan fitur koreksi bacaan Al-Qur'an secara real time menggunakan AI serta layanan setor bacaan kepada ustaz yang memberikan umpan balik dalam waktu maksimal 1x24 jam.

Fitur tersebut dirancang untuk membantu masyarakat belajar mengaji secara lebih fleksibel dan memungkinkan orang tua maupun lembaga pendidikan memantau perkembangan belajar secara lebih terukur.

"Melalui aplikasi ini, kami lebih mudah mengetahui perkembangan bacaan setiap santri karena hasil evaluasi dapat dipantau secara berkala dan santri juga lebih antusias belajar karena ada umpan balik yang cepat," ujar salah seorang peserta.

Sebagai informasi, Qara'a memperoleh rating 4,8 dari puluhan ribu ulasan pengguna di platform distribusi aplikasi dan menyediakan lebih dari 100 materi pembelajaran, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah, tahsin, hingga tajwid.

FOTO BERSAMA: Para peserta, dewan juri, dan panitia berfoto bersama usai penutupan lomba mengaji digital berbasis Artificial Intelligence (AI) bertajuk "Muharram Versi Pemenang (MVP) League" di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Pontianak, Minggu (28/6/2026). Kegiatan yang digelar platform pembelajaran Al-Qur
FOTO BERSAMA: Para peserta, dewan juri, dan panitia berfoto bersama usai penutupan lomba mengaji digital berbasis Artificial Intelligence (AI) bertajuk "Muharram Versi Pemenang (MVP) League" di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Pontianak, Minggu (28/6/2026). Kegiatan yang digelar platform pembelajaran Al-Qur'an Qara'a tersebut diikuti puluhan santri dari delapan Rumah Qur'an di Kota Pontianak untuk menyemarakkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
 

Sisi Manusia Tetap Menjadi Prioritas

Meski mengandalkan teknologi AI, Qara'a menegaskan proses pembelajaran dan penilaian tidak sepenuhnya diserahkan kepada mesin. Setiap hasil penilaian tetap melalui proses validasi oleh ustaz dan ustazah yang tergabung dalam platform tersebut.

"AI membantu proses efisiensi, tetapi sisi manusianya tetap kami jaga. Tetap ada ustaz maupun ustazah yang tergabung bersama kami untuk memvalidasi dan membantu proses pengoreksian bacaan agar tetap sesuai dengan kaidah tajwid," kata Ahmad.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran Al-Qur'an yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa menghilangkan sentuhan pendidikan dan pendampingan manusia yang menjadi esensi dalam proses mengaji. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#pembelajaran Al-Qur'an digital #Rumah Qur'an #literasi Al-Qur'an #aplikasi Qara'a #artificial intelligence