PONTIANAK POST - Dibukanya kembali rute penerbangan langsung Singapura–Pontianak–Singapura oleh maskapai Scoot pada 29 Juni 2026 bukan sekadar kabar gembira bagi penumpang yang ingin bepergian ke Negeri Singa.
Bagi pelaku usaha perikanan di Kalimantan Barat, rute ini membuka peluang ekspor langsung komoditas unggulan seperti ikan hidup, udang, dan kepiting tanpa harus memutar jalur lewat kota lain.
Dalam unggahannya di Instagram (1/7), Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Barat menyatakan kesiapan penuh untuk mengawal setiap komoditas yang melintas.
Penerbangan Perdana yang Dinanti Pelaku Usaha
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Barat (Karantina Kalbar) melalui Satuan Pelayanan Bandara Internasional Supadio hadir langsung dalam acara Inaugural Flight maskapai Scoot di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Senin (29/6/2026).
Penerbangan perdana menggunakan pesawat tipe Embraer E190-E2 tersebut resmi membuka kembali rute reguler internasional Singapura–Pontianak–Singapura (SIN–PNK–SIN), menandai kembalinya konektivitas udara langsung antara Pontianak dan pusat perdagangan Asia Tenggara itu.
Kehadiran otoritas karantina dalam momentum ini bukan sekadar seremonial. Karantina Kalbar hadir untuk memastikan kesiapan sistem pengawasan biosekuriti dan fasilitasi perdagangan lintas negara berjalan selaras sejak hari pertama rute ini beroperasi.
Komoditas Perikanan Jadi Andalan
Pemerintah daerah mengidentifikasi potensi besar pada komoditas hasil perikanan Kalimantan Barat untuk merambah pasar Singapura melalui jalur udara baru ini, mencakup ikan hidup, udang, dan kepiting yang selama ini sudah dikenal kualitasnya di pasar regional.
Baca Juga: Gubernur Kalbar Resmikan Penerbangan Langsung Pontianak–Singapura di Supadio
Keberadaan jalur penerbangan langsung dinilai mampu mempersingkat waktu tempuh sekaligus menjaga kesegaran dan kualitas produk ekspor yang selama ini menjadi tantangan utama distribusi komoditas perikanan hidup.
Untuk mendukung potensi lonjakan arus kargo, otoritas bandara telah menyiapkan kapasitas terminal kargo yang memadai hingga 40 ribu ton per tahun.
Kapasitas ini diyakini cukup untuk menampung pertumbuhan volume ekspor komoditas unggulan Kalbar dalam jangka menengah.
Komitmen Karantina dan Integrasi Layanan Digital
Kepala Karantina Kalbar, Ferdi, menegaskan komitmen lembaganya untuk mengawal penuh operasional rute internasional baru ini.
“Karantina Kalimantan Barat siap mendukung penuh operasional rute internasional ini dengan memegang teguh semangat pelindungan maksimal dan pelayanan optimal. Sinergi bersama pengelola bandara serta instansi CIQS akan kami tingkatkan demi memastikan setiap komoditas yang dilalulintaskan terjamin kesehatan dan legalitasnya,” tegasnya.
Seluruh sistem pelayanan dokumen digital karantina kini telah diintegrasikan guna mempermudah pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari negara tujuan.
Sehingga proses ekspor diharapkan lebih cepat dan efisien tanpa mengorbankan standar keamanan hayati yang wajib dipenuhi.
Pintu Baru Menuju Pasar Global
Dengan dibukanya rute langsung ini, Pontianak kini memiliki jalur ekspor udara yang lebih efisien menuju Singapura sebagai salah satu hub perdagangan terbesar di Asia.
Karantina optimis pintu gerbang global baru ini akan membawa kemakmuran yang luas bagi Bumi Khatulistiwa, terutama bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan yang selama ini belum maksimal menikmati nilai tambah dari produk unggulan laut Kalbar. (*)
Editor : Miftahul Khair