Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Tragedi Mandor Jadi Pengingat Sejarah Keluarga Korban Pembantaian Jepang di Kalbar

Idil Aqsa Akbary • Sabtu, 4 Juli 2026 | 10:43 WIB
Hermawan Soewono (kanan) bersama adiknya, Heru Soewono, berziarah di Taman Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak, baru-baru ini. (ISTIMEWA)
Hermawan Soewono (kanan) bersama adiknya, Heru Soewono, berziarah di Taman Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak, baru-baru ini. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Berdiri cukup lama di depan deretan makam tanpa banyak kata, Hermawan Soewono sesekali menundukkan kepala. Tatapannya menyapu satu per satu pusara di Taman Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak. Di tempat itulah, sejarah keluarganya tersimpan bersama ribuan kisah pilu korban pembantaian Jepang pada 1943-1944.

Bersama sang adik, Heru Soewono, Hermawan datang bukan sekadar mengikuti peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat (Kalbar). Perjalanan itu menjadi cara mereka menyapa kembali sosok Saliman SastroLoekito, sang kakek yang menjadi salah satu korban tragedi kemanusiaan terbesar di Kalbar.

Bagi Hermawan, Mandor bukan hanya sebuah tempat yang tercatat dalam buku sejaraTragedi Mandor Jadi Pengingat Sejarah Keluarga Korban Pembantaian Jepang di Kalbarh. Kawasan itu menjadi pengingat bahwa keluarga mereka pernah kehilangan sosok yang begitu berarti.

Baca Juga: Kenang Kematian Aktivis Syafarudin, Mahasiswa Sampaikan Aspirasi di Polda Kalbar

"Ini rasa yang campur aduk. Sedih, bangga, sekaligus berterima kasih. Melihat langsung tempat para pejuang gugur, salah satunya adalah kakek kami bernama Saliman SastroLoekito yang merupakan salah satu kepala sekolah di SDN Kota Singkawang, dan juga tokoh masyarakat, rasanya seperti dipanggil untuk tidak melupakan," tuturnya dengan suara bergetar.

Bagi keluarga Soewono, kisah tentang Saliman SastroLoekito terus diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita itu tidak dibiarkan hilang bersama waktu. Sebaliknya, menjadi pengingat bahwa di balik kebebasan dan kedamaian yang dinikmati saat ini, ada begitu banyak pengorbanan yang telah dibayar mahal.

Hermawan meyakini, Tragedi Mandor bukan sekadar catatan masa lalu. Peristiwa itu menyimpan pelajaran tentang arti kemanusiaan, persatuan, dan pentingnya menjaga perdamaian agar sejarah kelam tidak kembali terulang.

"Sejarah ini harus terus hidup. Anak-anak muda Kalbar harus tahu bahwa begitu banyak tokoh, guru, ulama, bangsawan, dan masyarakat biasa yang menjadi korban. Jangan sampai mereka hanya mengenal Mandor sebagai nama tempat tanpa mengetahui peristiwa besar yang pernah terjadi di sini," katanya.

Baca Juga: Hari Berkabung Daerah Kalbar Jadi Momentum Mengenang Tragedi Mandor dan Para Pahlawan

Tragedi Mandor menjadi salah satu lembar paling kelam dalam sejarah Kalbar. Pada masa pendudukan Jepang sepanjang 1943 hingga 1944, sekitar 21.037 orang dilaporkan menjadi korban pembantaian. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pemimpin kerajaan, tokoh masyarakat, kaum intelektual, guru, pemuka agama, hingga masyarakat sipil.

Untuk mengenang para korban, Pemerintah Provinsi Kalbar menetapkan 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007. Peringatan itu menjadi pengingat bahwa tragedi tersebut bukan hanya milik keluarga korban, melainkan bagian dari sejarah bersama masyarakat Kalbar.

Bagi Hermawan, setiap langkah di Taman Makam Juang Mandor menghadirkan kedekatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seolah-olah ia sedang menyapa kembali sang kakek yang gugur bersama ribuan korban lainnya.

Ia berharap, Mandor tidak hanya dikenang setiap kali peringatan Hari Berkabung Daerah digelar. Lebih dari itu, tempat tersebut harus terus menjadi ruang belajar bagi generasi muda agar memahami harga sebuah kemerdekaan dan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

"Kalau kita melupakan sejarah, kita akan kehilangan identitas. Semoga Mandor terus menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus selalu dijaga, dan tragedi seperti ini tidak boleh pernah terulang lagi," pungkasnya.(bar)

Editor : Hanif
#Hari Berkabung Daerah Kalbar #kalimantan barat #Pengingat Sejarah #jepang #Tragedi Mandor