PONTIANAK POST – Kalimantan Barat kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati Indonesia melalui penyelenggaraan Pameran Flora dan Fauna Bumi Khatulistiwa yang akan digelar pada 15–19 Juli 2026 di Halaman Kolam Renang Ampera, Jalan Ujung Pandang II, Pontianak. Mengusung tema "Pesona Flora dan Fauna Bumi Khatulistiwa dengan Keanekaragaman Hayatinya", kegiatan ini diharapkan menjadi ajang edukasi, promosi, sekaligus pelestarian kekayaan alam Kalimantan Barat.
Salah satu potensi yang akan menjadi sorotan utama dalam pameran ini adalah durian khas Kalimantan Barat. Daerah ini selama ini dikenal sebagai salah satu sumber plasma nutfah durian terbaik di Indonesia, bahkan memiliki potensi bersaing di tingkat dunia. Berbagai varietas unggulan seperti Jarum Mas, Siblih, dan Sorumbut akan diperkenalkan kepada masyarakat. Sentra produksi durian seperti yang terdapat di Punggur, Balai Karangan, dan Batang Tarang juga menjadi bukti bahwa Kalimantan Barat memiliki kekayaan genetik yang patut dijaga dan dikembangkan.
Melalui pameran ini, Ketua Panitia, Priyono, berharap masyarakat semakin mencintai flora dan fauna lokal serta menyadari pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi ajang promosi, kegiatan ini juga bertujuan memberikan edukasi mengenai teknik budidaya dan perawatan tanaman maupun satwa, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang tertarik menjadi wirausahawan di bidang hortikultura dan peternakan.
Selama lima hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhi berbagai kegiatan menarik, mulai dari pameran tanaman hias, buah-buahan unggulan, dan satwa peliharaan, hingga beragam kontes dan perlombaan yang diperkirakan menjadi daya tarik utama. Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah Kontes Durian, yang selama ini memiliki banyak penggemar, ujar Priyono.
Menurut Ketua Panitia, Priyono, pameran ini juga akan menghadirkan sejumlah narasumber dan juri berkelas nasional maupun internasional. Di antaranya Dietmar Frick, pemerhati durian asal Jerman yang aktif mempromosikan durian Asia di Eropa; Prof. Dr. M. Reza Tirtawinata, Ketua Yayasan Durian Nusantara sekaligus pakar durian Indonesia; serta Prof. Dr. Amin Retnoningdih, M.Si., peneliti yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan varietas durian unggul.
Kehadiran para ahli tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan masyarakat melalui seminar, sarasehan, dan diskusi yang membahas pelestarian, budidaya, hingga pengembangan durian sebagai komoditas unggulan nasional.
Untuk menjangkau masyarakat lebih luas, panitia telah menyiapkan berbagai strategi publikasi melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram, pemasangan spanduk dan pamflet, serta publikasi melalui media cetak, radio, televisi, dan portal berita daring. Selain itu, undangan resmi juga akan disampaikan kepada instansi pemerintah, pelaku usaha, komunitas pecinta tanaman dan satwa, kelompok tani, kalangan akademisi, serta masyarakat umum.
Priyono berharap Pameran Flora dan Fauna Bumi Khatulistiwa tidak hanya menjadi ajang promosi potensi daerah, tetapi juga menjadi momentum memperkenalkan kekayaan hayati Kalimantan Barat kepada masyarakat luas. Menurutnya, pelestarian flora dan fauna merupakan investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan hayati Kalimantan Barat, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, serta memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dan hortikultura unggulan di Indonesia," ujarnya.
Pameran Flora dan Fauna Bumi Khatulistiwa akan berlangsung pada 15–19 Juli 2026 di Halaman Kolam Renang Ampera, Jalan Ujung Pandang II, Pontianak. Kegiatan dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB.
Masyarakat diundang untuk hadir dan menikmati beragam agenda yang telah disiapkan, mulai dari pameran flora dan fauna, seminar edukatif, kontes, hingga berbagai atraksi menarik lainnya. Dengan rangkaian kegiatan tersebut, pameran ini diharapkan menjadi salah satu agenda terbesar di Kalimantan Barat dalam mempromosikan pesona flora dan fauna Bumi Khatulistiwa sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.
Editor : Hanif