PONTIANAK POST - Hubungan akrab antara guru dan siswa memang dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman.
Namun, kedekatan tidak boleh menghilangkan rasa hormat. Ketika candaan berubah menjadi penghinaan, batas etika pun telah terlampaui.
Dilansir dari Jawapos, Amazing Teacher Trainer Panji Mahardika SPd MPd menanggapi video viral yang memperlihatkan seorang siswa SMA di Purwakarta mengolok-olok hingga mengacungkan jari tengah kepada gurunya beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Bukan Sekadar Dinasihati, Psikolog Ungkap Remaja Perlu Orang Tua dan Guru yang Mau Mendengarkan
Menurut dia, tindakan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan remaja.
Bukan Sekadar Kenakalan
Panji menilai perilaku itu sudah masuk dalam kategori pelanggaran etika.
"Kenakalan remaja masih bisa dimaknai sebagai eksplorasi batas. Tapi ketika sudah ada gestur merendahkan, ekspresi melecehkan, dan dilakukan di ruang formal seperti kelas, itu sudah masuk wilayah krisis adab," ujarnya.
Baca Juga: Tahun Ajaran Baru: Saatnya Guru Beradaptasi dan Berinovasi
Menurut Panji, ruang kelas merupakan tempat yang tetap menuntut adanya penghormatan terhadap guru. Karena itu, tindakan yang bersifat merendahkan tidak dapat dibenarkan meski dibungkus candaan.
Kedekatan Tetap Harus Berbatas
Ia menegaskan hubungan guru dan siswa memang bisa dibangun secara hangat. Namun, kedekatan tersebut harus tetap berada dalam koridor etika.
"Komunikasi itu bisa akrab, tapi tetap beradab. Santai, tapi tidak kehilangan batas. Ukurannya sederhana: tidak merendahkan, tidak melecehkan, dan tidak menghilangkan rasa hormat," jelasnya.
Baca Juga: Guru Tidak Harus Jago Teknologi untuk Mengajar di Era Digital
Panji mengingatkan bahwa kedekatan tanpa batas justru dapat mengaburkan arah relasi pendidikan.
"Boleh dekat, tapi tetap harus ada batas. Kalau tanpa batas, kedekatan bisa berubah jadi kehilangan arah," imbuhnya.
Editor : Chairunnisya