Melihat Rumah Hakka Tulou di Kubu Raya, Jejak Arsitektur Tiongkok yang Kini Hidupkan Semangat Pelestarian Budaya

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 14:48 WIB
Rumah Hakka Tulou di Kubu Raya (DOK ANTARA)
Rumah Hakka Tulou di Kubu Raya (DOK ANTARA)

PONTIANAK POST - Di balik bentuknya yang melingkar dan menyerupai benteng tanah, Rumah Hakka atau Tulou di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kini bukan sekadar bangunan bersejarah.

Bangunan ini menjadi panggung nyata pelestarian budaya, seperti terlihat saat menjadi lokasi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Hakka Kalimantan Barat.

Arsitektur Bermakna Kebersamaan

Tulou secara harfiah berarti “rumah tanah”, merujuk pada rumah komunal yang sejak dahulu digunakan masyarakat Hakka sebagai tempat tinggal bersama.

Baca Juga: Banyak Tokoh Besar Berasal dari Hakka, Ada Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie hingga Pendiri Republik Tiongkok

Bentuknya yang melingkar bukan sekadar nilai estetika, melainkan mengandung filosofi kebersamaan.

Seluruh anggota keluarga maupun komunitas tinggal dalam satu kompleks sehingga kehidupan sosial dan gotong royong tetap terjaga.

Rumah Hakka Tulou di Kubu Raya diresmikan Penjabat Gubernur Kalbar saat itu, Harisson, pada Jumat (11/10/2024).

Proses pembangunannya dimulai sejak peletakan batu pertama pada 27 September 2017 dan sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, sehingga baru rampung tujuh tahun kemudian.

Baca Juga: Mengapa Orang Hakka Disebut Keluarga Tamu? Ini Asal Usul dan Kisah Perjalanannya hingga Mendunia

Jadi Lokasi Perayaan HUT ke-12 Hakka Kalbar

Fungsi bangunan ini sebagai pusat pelestarian budaya terlihat nyata saat menjadi lokasi peringatan HUT ke-12 Hakka Kalimantan Barat, Selasa.

Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan mengajak komunitas Hakka untuk terus melestarikan budaya leluhur sebagai identitas sekaligus kekuatan menghadapi arus globalisasi.

“Masyarakat yang terus melestarikan budayanya adalah masyarakat yang tidak akan punah ditelan masa. Budaya adalah kekuatan kita, budaya adalah jati diri kita,” kata Krisantus dikutip dari Antara (15/7).

Pesan soal Jati Diri di Tengah Kemajuan Daerah

Krisantus menilai derasnya arus globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian budaya, sehingga generasi muda perlu terus diperkenalkan dengan akar budaya dan nilai-nilai leluhur.

“Kemajuan sebuah daerah tidak boleh menghilangkan jati diri masyarakatnya. Justru dengan budaya yang tetap lestari, kita memiliki karakter yang membedakan Kalimantan Barat dengan daerah lain,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat Hakka terus menggali, melestarikan, dan mempromosikan kekayaan budaya melalui berbagai ajang strategis, termasuk Pekan Budaya Tionghoa.

Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok

Krisantus juga menegaskan komitmen Pemprov Kalbar menjaga keamanan, kerukunan, dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat yang terdiri atas 24 suku, sekaligus mengajak komunitas Hakka mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi daerah. (*)

Editor : Miftahul Khair
Filosofi Rumah Hakka Tulou Rumah Hakka Budaya Tionghoa Hakka Kalbar