PONTIANAK POST - Rumah Sakit Sultan Syarif Mohammad Alkadrie (SSMA) imbau masyarakat untuk jangan takut untuk periksa Tuberkulosis (TBC). Selain itu, imunisasi BCG pada bayi tetap menjadi langkah penting dalam perlindungan terhadap bentuk TBC yang berat pada anak.
Perawat RS SSMA, Liqa Qulbiah mengatakan TBC masih menjadi masih banyak yang menganggap TBC sebagai penyakit yang memalukan sehingga penderita memilih menutup diri karena khawatir mendapat stigma atau dikucilkan.
"Padahal, TBC bukan merupakan aib dan dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial. Dengan pemeriksaan sejak dini dan pengobatan yang tepat, TBC dapat disembuhkan secara tuntas," lanjutnya ketika memberikan edukasi kepada pengunjung.
Baca Juga: RSUD Landak Penuh Pasien, Karolin Dorong Revitalisasi Rumah Sakit dan Bangun Pasar Baru
TBC merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, hingga selaput otak. Meskipun demikian, TBC bukanlah penyakit yang harus ditakuti atau disembunyikan. Yang perlu diwaspadai justru keterlambatan dalam mengenali gejala dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
"Gejala TBC seringkali muncul perlahan sehingga kerap diabaikan. Salah satu tanda paling umum adalah batuk yang berlangsung selama dua minggu atau lebih, baik disertai dahak maupun tidak," ujarnya.
Menurutnya, pada sebagian penderita, batuk dapat disertai darah, nyeri dada, atau sesak napas. Selain itu, penderita juga dapat mengalami demam terutama malam hari yang berlangsung cukup lama, berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas, berat badan menurun, serta tubuh terasa lemah dan mudah lelah.
TBC menular melalui udara ketika penderita TBC paru mengeluarkan percikan dahak saat batuk, bersin, berbicara, atau tertawa. Percikan tersebut dapat terhirup oleh orang lain, terutama apabila berada dalam satu ruangan tertutup dengan ventilasi yang kurang baik dalam waktu cukup lama jika imunitas baik maka kita tidak akan tertular
Baca Juga: Kasus TBC di Landak Masih Tinggi, Karolin Evaluasi Kinerja Puskesmas dan Pengobatan Pasien
Liqa mengimbau masyarakat untuk menerapkan etika batuk dengan menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam, menggunakan masker apabila batuk, membuka jendela rumah untuk sinar matahari dan sirkulasi udara yang masuk, dan konsumsi makanan bergizi seimbang.
Apabila seseorang menderita TBC, pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberculosis (OAT) harus segera dimulai dan diselesaikan sampai tuntas yang berlangsung selama sedikitnya enam bulan. Menghentikan pengobatan berisiko resisten obat sehingga proses penyembuhan menjadi lebih lama dan lebih sulit.
"Semakin banyak masyarakat memahami bahwa TBC dapat dicegah, dideteksi sejak dini dan dapat disembuhkan, maka tidak ada alasan untuk merasa malu menjalani pemeriksaan apabila mengalami gejala atau memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC. Mari bersama wujudkan masyarakat yang peduli terhadap TBC." pungkasnya. (mrd)
Editor : Hanif