Konten Kreator Asal Kalimantan Barat Promosikan Warisan Budaya di Tiongkok

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 00:01 WIB
MEREKAM SEJARAH: Veldesen Yaputra memperlihatkan sketsa arsitektur bangunan bersejarah yang dibuatnya selama mengikuti forum pelestarian warisan budaya di Tiongkok. Melalui gambar tangan, ia mengajak generasi muda lebih dekat dengan sejarah dan pentingnya menjaga cagar budaya.
MEREKAM SEJARAH: Veldesen Yaputra memperlihatkan sketsa arsitektur bangunan bersejarah yang dibuatnya selama mengikuti forum pelestarian warisan budaya di Tiongkok. Melalui gambar tangan, ia mengajak generasi muda lebih dekat dengan sejarah dan pentingnya menjaga cagar budaya. (ANTARA/Xinhua)

 

PONTIANAK POST - Di tengah deretan bangunan kuno berusia ratusan tahun di Provinsi Shanxi, Tiongkok, seorang pemuda asal Pontianak, Kalimantan Barat, memilih mengabadikan arsitektur bukan melalui kamera, melainkan dengan goresan pensil di atas buku sketsa.

Bagi Veldesen Yaputra, konten kreator dan mahasiswa magister arsitektur di Universitas Tsinghua, setiap garis yang digambar menjadi cara memahami sejarah sekaligus merawat warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Veldesen menjadi salah satu peserta internasional dalam International Cultural Heritage Protection Week 2026 bertema Unity for Prosperity, Heritage for Eternity yang digelar di Kota Tua Yuci, Jinzhong, Provinsi Shanxi, Tiongkok. Forum tersebut mempertemukan diplomat, akademisi, pakar pelestarian warisan budaya, dan kreator media internasional untuk membahas perlindungan warisan budaya serta pembelajaran bersama antarperadaban.

Berawal dari Pontianak yang Multikultural

Lahir di Pontianak pada 2001, Veldesen tumbuh di lingkungan yang dihuni beragam suku, budaya, dan agama. Keberagaman itu membentuk ketertarikannya pada sejarah dan identitas budaya, termasuk akar budaya Tionghoa yang dimilikinya.

Rasa ingin tahu tersebut membawanya mempelajari bahasa Mandarin sejak usia muda. Pada 2017, ia berangkat ke Tiongkok untuk memperdalam bahasa sekaligus mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan negeri tersebut.

Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut di Universitas Tsinghua, tempat ia mempelajari desain lingkungan sebelum melanjutkan program magister arsitektur dengan fokus pada arsitektur tradisional, revitalisasi kawasan pedesaan, dan pelestarian warisan budaya.

"Menurut saya, menggambar tidak semata-mata untuk merekam rupa suatu bangunan. Lebih dari itu, menggambar adalah upaya untuk menjalin keterikatan emosional dengannya," ujar Veldesen.

Belajar dari Shanxi, Gudang Arsitektur Kuno Tiongkok

Selama mengikuti kegiatan di Shanxi, Veldesen mengaku terkesan dengan keseriusan pemerintah Tiongkok dalam menjaga bangunan bersejarah.

Provinsi Shanxi dikenal sebagai salah satu pusat warisan budaya Tiongkok dengan lebih dari 500 situs warisan budaya utama yang berada di bawah perlindungan negara, terbanyak di antara seluruh provinsi di negeri tersebut. Shanxi juga memiliki tiga Situs Warisan Dunia UNESCO, yakni Kota Kuno Pingyao, Gua Yungang, dan Gunung Wutai.

Dalam beberapa tahun terakhir, Shanxi mengintegrasikan teknologi digital seperti pemindaian tiga dimensi (3D), pengarsipan digital, hingga pameran imersif untuk mendukung konservasi warisan budaya agar tetap lestari sekaligus mudah diakses masyarakat.

"Tiongkok telah mengajarkan saya bahwa konservasi warisan budaya tidak sekadar tentang melestarikan bangunan tua, melainkan juga tentang merawat budaya, sejarah, dan vitalitas masyarakat," katanya.

Inspirasi bagi Indonesia

Menurut Veldesen, pengalaman Tiongkok memberikan banyak pelajaran bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam mengelola dan melestarikan warisan budaya.

Ia menilai Indonesia dan Tiongkok memiliki kesamaan karena arsitektur tradisional keduanya tumbuh dari hubungan erat antara manusia, alam, dan budaya lokal.

"Kesamaan terbesar antara Tiongkok dan Indonesia adalah arsitektur tradisionalnya berhubungan erat dengan alam, budaya, dan masyarakat setempat. Bangunan bukanlah monumen yang berdiri sendiri. Bangunan berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat," ujarnya.

Veldesen juga melihat peluang besar kerja sama kedua negara dalam pemanfaatan teknologi digital, mulai dari pemindaian 3D, kecerdasan buatan (AI), hingga dokumentasi digital untuk melestarikan bangunan bersejarah.

Warisan Budaya Harus Hidup Bersama Masyarakat

Bagi Veldesen, keberhasilan pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga bangunan bersejarah tetap berdiri. Masyarakat harus menjadi bagian utama dalam proses tersebut agar nilai budaya terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Melindungi bangunan kuno saja tidak cukup. Masyarakat setempat harus tetap menjadi bagian dalam proses tersebut agar warisan budaya terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat," katanya.

Ia berharap semakin banyak arsitek muda, mahasiswa, dan peneliti dari Indonesia maupun Tiongkok memperoleh kesempatan bertukar pengalaman mengenai pelestarian budaya.

"Ketika Anda menggambar setiap detailnya dengan cermat, Anda mulai memahami kearifan para perajin kuno beserta kisah di balik arsitektur tersebut," ujarnya.

Ke depan, Veldesen ingin menjadi jembatan kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang pelestarian warisan budaya, arsitektur, serta pengembangan budaya.

"Saya meyakini bahwa warisan budaya dapat semakin mendekatkan masyarakat. Melalui kerja sama yang lebih erat dan pembelajaran bersama, Tiongkok dan Indonesia dapat bahu-membahu melindungi masa lalu sekaligus menginspirasi generasi mendatang," tutupnya.

Inspirasi bagi Kalimantan Barat

Pengalaman Veldesen menjadi pengingat bahwa Kalimantan Barat juga memiliki kekayaan warisan budaya yang perlu terus dijaga, mulai dari rumah adat Dayak, rumah Melayu, kawasan pecinan tua, hingga bangunan bersejarah di Pontianak dan Singkawang.

Pemanfaatan teknologi digital serta pelibatan masyarakat dinilai dapat menjadi langkah penting agar warisan budaya tersebut tetap lestari sekaligus dikenal generasi muda.

Pengalaman Veldesen di Tiongkok dinilai relevan dengan upaya pelestarian warisan budaya di daerah asalnya. Sebab, Kalimantan Barat juga memiliki kekayaan cagar budaya yang cukup besar.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan, hingga 2025 terdapat 146 cagar budaya yang telah ditetapkan di berbagai kabupaten/kota.

Pelestarian aset budaya tersebut terus didorong melalui pendataan, digitalisasi, edukasi, dan pemanfaatan agar tetap menjadi identitas budaya sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi muda. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
arsitektur tradisional konten kreator Indonesia Pelestarian Warisan Budaya cagar budaya tiongkok