PONTIANAK POST — PLN memastikan pasokan listrik Kalbar aman dan sistem kelistrikan beroperasi normal setelah pembangkit yang mengalami gangguan teknis kembali beroperasi. Gangguan pada pembangkit berkapasitas 100 megawatt (MW) tersebut sebelumnya menyebabkan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah selama sekitar tiga hari.
General Manager PLN Unit Pembangkit Induk Kalimantan Barat Maria G.I. Gunawan mengatakan gangguan tersebut murni disebabkan persoalan teknis pada pembangkit. Kondisi itu tidak berkaitan dengan ketersediaan pasokan batu bara.
"Kondisi sistem kelistrikan kita sekarang sudah kembali pulih normal. Gangguan yang terjadi sebelumnya murni karena kondisi teknis pada pembangkit dan tidak ada kaitannya dengan isu ketersediaan pasokan batu bara," kata Maria G.I. Gunawan dikutip dari Antara, Jumat (24/7).
Baca Juga: PLN Singkawang Beri Diskon 50 Persen Biaya Tambah Daya hingga 27 Juli
Pembangkit 100 MW Kembali Beroperasi
Gangguan terjadi pada awal Juli 2026 akibat kebocoran boiler pada salah satu pembangkit berkapasitas 100 MW.
Kerusakan tersebut menyebabkan PLN kehilangan daya mampu pasok dalam jumlah cukup besar. Untuk menjaga sistem kelistrikan tetap beroperasi, PLN kemudian melakukan manajemen beban.
Kondisi tersebut berdampak pada masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Pemadaman bergilir berlangsung selama sekitar tiga hari sebelum pembangkit kembali beroperasi pada 11 Juli 2026.
Maria mengatakan proses perbaikan dilakukan secara bertahap hingga pembangkit yang mengalami gangguan dapat kembali masuk ke sistem kelistrikan.
Baca Juga: PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Kalbar Kembali Normal, Pemadaman Bergilir Dihentikan
Sistem Kelistrikan Kalbar Terus Diperkuat
PLN menyatakan penguatan sistem kelistrikan terus dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan listrik masyarakat.
Saat ini, sistem Khatulistiwa dilayani jaringan transmisi 150 kilovolt (kV) yang telah terhubung dari wilayah utara hingga Ketapang.
Namun, belum seluruh wilayah Kalbar terhubung dengan jaringan transmisi. Sekitar 30 lokasi masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang tersebar di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan pemerataan infrastruktur kelistrikan masih menjadi pekerjaan penting. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah yang belum terhubung dengan sistem transmisi utama.
PLN Rencanakan PLTGU 250 MW di Ketapang
Untuk memperkuat sistem kelistrikan Kalimantan Barat, PLN Indonesia Power dan Danantara Indonesia merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Kalimantan Barat-1 atau PLTGU Kalbar-1 berkapasitas 250 megawatt (MW) di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang.
Proyek tersebut masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Berdasarkan laporan yang tersedia, proyek ini ditargetkan mencapai operasi komersial atau commercial operation date (COD) pada 2026.
PLTGU Kalbar-1 disebut sebagai proyek strategis yang dikembangkan melalui kerja sama PLN Indonesia Power dan Danantara Indonesia. Pembangkit ini diharapkan memperkuat keandalan pasokan listrik serta mendukung kebutuhan listrik masyarakat dan sektor industri di Kalbar.
Namun, belum diungkapkan rincian mengenai nilai investasi proyek, skema pendanaan secara spesifik, tahapan konstruksi terbaru, serta tanggal pasti dimulainya operasi komersial.
Baca Juga: DPRD Singkawang Desak PLN Tepati Target Akhiri Pemadaman Listrik pada 11 Juli
Penguatan pembangkit di wilayah selatan Kalbar dinilai penting untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan. Terlebih, kebutuhan listrik terus tumbuh seiring peningkatan konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Pembangkit tersebut diharapkan memperkuat sistem kelistrikan di wilayah selatan Kalbar. Infrastruktur itu juga diproyeksikan mendukung keandalan sistem kelistrikan Kalbar secara keseluruhan.
"Penguatan pembangkit yang ada di sisi selatan, khususnya di Kabupaten Ketapang, akan semakin memperkuat sistem kelistrikan Kalimantan Barat secara keseluruhan," kata Maria.
Penjualan Listrik Tumbuh 9 Persen
Di tengah kondisi pasokan yang kembali normal, kebutuhan listrik masyarakat Kalbar terus meningkat.
Hingga semester pertama 2026, penjualan listrik tercatat tumbuh sekitar sembilan persen. Sektor rumah tangga menjadi penyumbang konsumsi terbesar dengan porsi sekitar 80 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan listrik masyarakat terus meningkat. Kondisi ini sekaligus menuntut PLN untuk memastikan kapasitas pembangkit dan jaringan mampu mengikuti pertumbuhan permintaan.
Akses Listrik Pelosok Masih Jadi Tantangan
Selain menjaga keandalan pasokan, PLN terus memperluas akses listrik bagi masyarakat di wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik.
Hingga Juni 2026, rasio elektrifikasi Kalbar tercatat mencapai 94,53 persen. Sementara rasio desa berlistrik mencapai 86,8 persen.
Angka tersebut menunjukkan masih terdapat masyarakat dan desa yang belum menikmati akses listrik secara penuh. Perluasan jaringan ke wilayah pelosok menjadi bagian penting dari upaya pemerataan pembangunan infrastruktur dasar.
"Pada 2025, PLN telah menyelesaikan pembangunan jaringan listrik di 121 lokasi desa dan pada 2026 mendapat penugasan tambahan untuk melistriki 151 lokasi desa guna memperluas akses listrik hingga wilayah pelosok," tuturnya.
Tantangan PLN: Menjaga Listrik Tetap Menyala
Pemulihan pembangkit 100 MW menjadi kabar penting bagi masyarakat Kalimantan Barat setelah pemadaman bergilir pada awal Juli.
Namun, pertumbuhan konsumsi listrik dan masih adanya wilayah yang bergantung pada PLTD menunjukkan bahwa tantangan sistem kelistrikan belum sepenuhnya selesai.
Penguatan pembangkit, pembangunan jaringan transmisi, serta perluasan elektrifikasi menjadi faktor penting untuk menjaga pasokan listrik Kalbar tetap aman dalam jangka panjang.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara