Musim Kemarau Surutkan Sungai Kapuas, BPBD Pontianak Intensif Patroli Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Mirza Ahmad Muin • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 15:21 WIB
Personel BPBD Provinsi Kalimantan Barat membawa gulungan selang air usai melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (21/7/2026). Kementerian Kehutanan mencatat Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbesar di Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026, yakni seluas 28.680,47 hektare atau 26,7 persen dari total luas karhutla nasional sebesar 107.465,47 hektare. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/sgd
Personel BPBD Provinsi Kalimantan Barat membawa gulungan selang air usai melakukan pemadaman kebakaran lahan gambut di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (21/7/2026). Kementerian Kehutanan mencatat Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbesar di Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026, yakni seluas 28.680,47 hektare atau 26,7 persen dari total luas karhutla nasional sebesar 107.465,47 hektare. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/sgd

PONTIANAK POST - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak meningkatkan patroli rutin di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring musim kemarau yang menyebabkan tepian Sungai Kapuas mengering.

Kepala BPBD Kota Pontianak Nasir mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau yang saat ini mulai melanda berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Berdasar pemantauan BMKG, memang kita tengah memasuki musim kemarau. Salah satu dampaknya, Sungai Kapuas mengalami kekeringan akibat kondisi musim kemarau ini," ujarnya, Minggu (26/7).

Baca Juga: BPBD Tunggu Rekomendasi BMKG untuk Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca Guna Percepat Penanganan Karhutla

Menurut Nasir, surutnya Sungai Kapuas merupakan fenomena yang lazim terjadi setiap musim kemarau.

Saat debit air menurun, tepian sungai terlihat berlumpur sehingga masyarakat diminta bijak menggunakan air bersih.

Ia mengingatkan Sungai Kapuas menjadi sumber air baku utama bagi kebutuhan air bersih warga Kota Pontianak.

Karena itu, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air agar pasokan tetap terjaga selama musim kemarau.

Baca Juga: Intake Penepat Jadi Andalan Pontianak Hadapi Kemarau, Sayang Kapasitasnya Masih Terbatas

Selain kekeringan, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla yang dapat memicu kabut asap dan menurunkan kualitas udara.

Nasir mengatakan petugas terus melakukan patroli dan merespons cepat setiap laporan titik api agar tidak berkembang menjadi titik panas (hotspot).

Berdasarkan data BPBD, terdapat lima titik api yang berhasil ditangani, yakni di Jalan Perdana, Jalan Purnama Gang Usu Kamang, Jalan Perdana Ujung Dalam sekitar rumah walet, Simpang Ujung Sepakat 2, dan Parit Cahaya Baru.

Baca Juga: BBM Pertalite Langka di Ketapang, DPRD Kalbar Minta Penambahan Kuota dan Jaminan Pasokan untuk Masyarakat

"Untuk wilayah Pontianak Utara sejauh ini masih kondusif. Mudah-mudahan tidak terdapat temuan titik api di sana," katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin berharap pasokan air bersih dari Perumda Air Minum tetap berjalan normal selama musim kemarau.

Menurutnya, penurunan debit Sungai Kapuas berpotensi memicu intrusi air laut yang dapat meningkatkan kadar garam air sungai dan mengganggu proses produksi air bersih.

"Mudah-mudahan di tahun ini musim kemarau tidak sampai mengganggu pasokan air bersih ke pelanggan masyarakat Pontianak. Mudah-mudahan ini tidak terjadi," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan seluruh pihak terus mengantisipasi dampak musim kemarau agar masyarakat tetap memperoleh layanan air bersih sekaligus terhindar dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. (iza)

Editor : Hanif
musim kemarau patroli karhutla sungai kapuas Air Bersih bpbd pontianak