Krisis BBM Kalbar Meluas, Warga Pontianak Terpaksa Dorong Motor, Antrean Mengular di SPBU

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 23:11 WIB
Antrean kendaraan mengular hingga ke badan Jalan Ahmad Yani saat menunggu giliran mengisi Pertalite di SPBU Pontianak. Kelangkaan BBM mulai meluas ke sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. (DENY HAMDANI/PONTIANAK POS)
Antrean kendaraan mengular hingga ke badan Jalan Ahmad Yani saat menunggu giliran mengisi Pertalite di SPBU Pontianak. Kelangkaan BBM mulai meluas ke sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. (DENY HAMDANI/PONTIANAK POS)

 

PONTIANAK POST – Krisis BBM Kalbar meluas dari Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ke Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Landak, hingga sejumlah wilayah lainnya. Kelangkaan Pertalite memicu antrean panjang di hampir seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sementara banyak kios bensin eceran kehabisan stok. Sebagian warga bahkan terpaksa mendorong sepeda motor karena kehabisan bensin di tengah perjalanan.

Fenomena ini tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga mulai berdampak pada aktivitas ekonomi harian. Di berbagai sudut Kota Pontianak, antrean kendaraan memanjang hingga ke badan jalan, sedangkan warga memilih mengurangi perjalanan karena khawatir tidak mendapatkan bahan bakar.

 

Warga Berkeliling Mencari BBM, Ada yang Terpaksa Mendorong Motor

Pantauan di sejumlah SPBU Kota Pontianak pada Senin (27/7) menunjukkan antrean kendaraan terjadi sejak pagi hingga siang. Barisan sepeda motor dan mobil memanjang keluar area SPBU, sementara sebagian kios bensin eceran memilih tutup karena tidak lagi memiliki stok.

Bagi sebagian warga, kelangkaan BBM bukan sekadar antrean panjang, tetapi juga mengubah aktivitas sehari-hari.

Rani, warga Pontianak, mengaku telah berkeliling dari kawasan Tabrani Ahmad menuju Jeruju hingga Purnama untuk mencari bensin. Namun, seluruh kios bensin eceran yang didatanginya kosong, sedangkan antrean di SPBU sudah sangat panjang.

"Saya dari Tabrani Ahmad ke Jeruju sampai Purnama cari bensin. Di pengecer kosong semua, sedangkan di SPBU antreannya panjang," ujarnya.

Karena khawatir motornya mogok di jalan, Rani memutuskan meninggalkan kendaraannya di rumah dan menggunakan jasa ojek untuk bekerja.

"Motor saya simpan di rumah saja. Takut mogok di jalan. Lebih baik naik ojek," katanya.

Krisis BBM Mulai Ganggu Aktivitas Warga

Situasi serupa dialami Arif, warga Tanjung Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Setelah mendatangi beberapa SPBU dan kios bensin eceran yang sama-sama kehabisan stok, bensin motornya habis di tengah perjalanan. Ia akhirnya harus mendorong motornya sejauh beberapa ratus meter untuk mencari SPBU lain.

"Saya sudah coba ke beberapa SPBU, antreannya panjang atau stoknya habis. Di kios bensin juga kosong semua. Akhirnya bensin motor habis di jalan dan saya terpaksa mendorong motor," ujarnya.

Cerita serupa mulai bermunculan di berbagai daerah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak kelangkaan BBM tidak hanya dirasakan pengendara, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja, berdagang, maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Harga Pertalite Eceran Melonjak

Kelangkaan pasokan juga memengaruhi harga jual BBM di tingkat pengecer.

Di Kabupaten Kubu Raya, sebagian penjual yang masih memiliki stok menjual Pertalite hingga Rp15.000 per liter, jauh di atas harga normal.

Di sisi lain, sebagian besar kios memilih tutup karena tidak lagi memperoleh pasokan dari SPBU.

Akibatnya, masyarakat berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain dengan harapan masih mendapatkan bahan bakar sebelum stok habis.

SPBU Dipadati Antrean, Lalu Lintas Terganggu

Di SPBU Pal 5 Jalan Husein Hamzah, antrean kendaraan memanjang hingga keluar area pengisian.

Sementara di SPBU Jalan Ahmad Yani Pontianak, antrean sepeda motor meluber ke badan jalan di depan Gedung DPRD Kalbar sehingga berpotensi mengganggu arus lalu lintas.

Sebagian pengendara mengaku memilih tetap bertahan mengantre karena khawatir SPBU lain sudah lebih dulu kehabisan stok.

"Saya takut tidak mendapatkan Pertalite kalau pindah ke SPBU lain. Di beberapa tempat sudah kosong," kata Hafidz, salah seorang pengendara.

Pemda dan DPRD Desak Pertamina Bergerak Cepat

Meluasnya krisis BBM mendapat perhatian pemerintah daerah.

Bupati Kubu Raya Sujiwo meminta PT Pertamina segera mempercepat normalisasi distribusi agar masyarakat tidak semakin terbebani.

Menurutnya, warga saat ini sudah menghadapi musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta tekanan ekonomi.

Bupati Kubu Raya Sujiwo usai menyambut kedatangan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa di Bandara Supadio, Jumat (24/7). (ISTIMEWA)
Bupati Kubu Raya Sujiwo
 

"Rakyat saat ini sudah menghadapi banyak kesulitan. Jangan lagi ditambah dengan persoalan antrean BBM," tegas Sujiwo.

Sujiwo juga meminta pengawasan distribusi diperketat agar penyaluran BBM subsidi benar-benar tepat sasaran.

Senada dengan itu, Anggota Komisi IV DPRD Kalbar Agus Sudarmansyah menilai persoalan yang terus berulang menunjukkan perlunya evaluasi tata kelola distribusi BBM bersubsidi.

Pertamina: Sungai Kapuas Surut Hambat Distribusi BBM

PT Pertamina Patra Niaga menjelaskan keterlambatan distribusi BBM dipicu surutnya debit air Sungai Kapuas.

Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah Kalimantan Barat, Widhi Tri Adhi Hidayat, mengatakan kapal pengangkut BBM harus menunggu air pasang sebelum dapat memasuki alur menuju Depo Siantan.

Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah Kalimantan Barat, Widhi Tri Adhi Hidayat. (ISTIMEWA)
Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah Kalimantan Barat, Widhi Tri Adhi Hidayat. (ISTIMEWA)

 

"Antrean terjadi karena ada keterlambatan kapal masuk ke alur Sungai Kapuas tadi malam. Kapal harus menunggu air pasang terlebih dahulu. Namun, tadi pagi kapal sudah sandar di Depo Siantan dan BBM sudah mulai disalurkan," ujarnya.

Pertamina memastikan stok BBM secara keseluruhan masih mencukupi dan distribusi ke seluruh SPBU di Kalimantan Barat telah kembali dilakukan secara bertahap.

Perusahaan juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan agar distribusi kembali normal.

Krisis Distribusi Jadi Ujian Ketahanan Logistik Kalbar

Kelangkaan BBM kali ini kembali menunjukkan tingginya ketergantungan distribusi energi Kalimantan Barat terhadap jalur Sungai Kapuas.

Ketika debit air surut dan kapal pengangkut terlambat bersandar, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, mulai dari antrean panjang di SPBU, kenaikan harga BBM eceran, hingga terganggunya aktivitas ekonomi warga.

Bagi masyarakat, yang paling mendesak bukan sekadar kepastian stok tersedia, melainkan jaminan distribusi yang lancar agar kebutuhan energi dapat diakses tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam mengantre atau mendorong kendaraan di tengah jalan. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Kelangkaan Pertalite Sungai Kapuas surut antrean BBM Kalimantan Barat spbu pontianak pertamina patra niaga