PONTIANAK POST – Kota Pontianak menjadi kota dengan kualitas udara terburuk atau paling berpolusi di Indonesia berdasarkan pemantauan kualitas udara secara real time pada Senin (27/7) pukul 23.00 WIB. Indeks Kualitas Udara (AQI US) mencapai 248 atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat, sementara konsentrasi PM2.5 menyentuh 173 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Memburuknya kualitas udara itu terjadi di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar menunjukkan penanganan karhutla kini telah berlangsung di sedikitnya delapan kabupaten, dengan sejumlah titik api masih mengeluarkan asap dan membutuhkan penanganan lanjutan.
"Nilai AQI sebesar 248 masuk kategori sangat tidak sehat. Pada level ini, kualitas udara dapat berdampak terhadap seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan."
Pontianak Tertinggi, Lampaui Kota Besar Lain di Indonesia
Data pemantauan kualitas udara menempatkan Pontianak di posisi pertama kota dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di Indonesia. Nilai AQI Pontianak terpaut cukup jauh dibandingkan kota-kota lain dalam daftar.
| Peringkat | Kota | AQI US |
|---|---|---|
| 1 | Pontianak | 248 |
| 2 | South Tangerang | 152 |
| 3 | Bandung | 132 |
| 4 | Medan | 132 |
| 5 | Serpong | 110 |
| 6 | Jakarta | 105 |
| 7 | Pekanbaru | 101 |
| 8 | Tangerang | 79 |
| 9 | Palembang | 78 |
| 10 | Semarang | 77 |
Data kualitas udara tersebut dihimpun dari lima stasiun pemantauan milik Lab Geofisika FMIPA Universitas Tanjungpura, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Greenpeace Indonesia.
Polutan utama yang mendominasi adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 173 µg/m³, sementara suhu udara tercatat sekitar 24 derajat Celsius.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat halus yang dapat masuk hingga ke alveoli paru-paru dan aliran darah. Ketika konsentrasinya tinggi seperti yang tercatat di Pontianak, risiko gangguan kesehatan meningkat, mulai dari iritasi saluran napas, memburuknya asma, infeksi paru, hingga peningkatan kejadian penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.
Karhutla Meluas di Delapan Daerah Kalbar
Meningkatnya polusi udara di Pontianak terjadi bersamaan dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Kalimantan Barat. Berdasarkan laporan harian Pusdalops BPBD Kalbar per 27 Juli 2026, operasi pemadaman kini tidak lagi terpusat di satu daerah, melainkan tersebar di sejumlah kabupaten.
Wilayah penanganan meliputi:
- Kubu Raya: Desa Limbung, Kuala Dua, Punggur Kecil, Arang Limbung, Rasau Jaya.
- Ketapang: Muara Pawan, Kendawangan, Benua Kayong, Manis Mata, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Simpang Dua, Nanga Tayap.
- Kayong Utara: Sukadana, Simpang Hilir, Pulau Maya Karimata.
- Mempawah: Mempawah Timur, Sungai Kunyit, Segedong, Jongkat.
- Bengkayang: Suti Semarang, Sanggau Ledo, Tujuh Belas.
- Sambas: Desa Sungai Bening dan Kecamatan Sajingan Besar.
- Sintang dan Melawi, dengan luas kebakaran berkisar satu hingga dua hektare dan sebagian besar telah berhasil dipadamkan.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan operasi darat terus dilakukan secara terpadu oleh BPBD kabupaten/kota bersama TNI, Polri, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pemerintah desa, hingga masyarakat.
"Operasi darat terus dilakukan oleh BPBD kabupaten/kota bersama TNI, Polri, Manggala Agni, KPH, pemerintah desa hingga masyarakat sesuai kondisi di masing-masing daerah," ujarnya.
Menurut Daniel, kendala utama yang dihadapi petugas di lapangan adalah minimnya sumber air serta sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, terutama di kawasan gambut.
Kubu Raya Masih Menjadi Titik Penanganan Terbesar
Kabupaten Kubu Raya masih menjadi daerah dengan intensitas penanganan paling tinggi. Pemadaman dilakukan di Desa Limbung, Kuala Dua, Punggur Kecil, Arang Limbung hingga Rasau Jaya.
Luas lahan terbakar di sejumlah titik bervariasi, mulai sekitar satu hektare hingga belasan hektare. Sebagian besar lokasi masih mengeluarkan asap sehingga membutuhkan pemadaman lanjutan.
Sementara itu, di Kabupaten Mempawah, salah satu lokasi terluas berada di Desa Peniti Besar, Kecamatan Segedong, dengan luas kebakaran sekitar 12 hektare.
Di Bengkayang, kebakaran terjadi pada beberapa titik dengan luasan empat hingga 12 hektare dan dilaporkan telah berhasil dipadamkan. Adapun di Sambas, kebakaran seluas sekitar lima hektare masih mengeluarkan asap sehingga tetap dipantau petugas gabungan.
Daniel menambahkan, operasi udara melalui patroli dan water bombing juga terus dilakukan. Pada 27 Juli, helikopter patroli dijadwalkan menyisir wilayah Kubu Raya, Kayong Utara, dan Ketapang, sedangkan helikopter water bombing difokuskan di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Menjaga Gambut untuk Menekan Risiko Asap
Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Pontianak menegaskan pentingnya menjaga lahan gambut tetap basah sebagai langkah utama mencegah kebakaran.
Kepala BPEGM Pontianak, Yunus Sudaryanti, mengatakan Kalimantan Barat memiliki 2,79 juta hektare ekosistem gambut, atau sekitar 33,28 persen dari total luas gambut di Pulau Kalimantan.
Sebanyak 58,85 persen ekosistem gambut berada di Areal Penggunaan Lain (APL), sedangkan 41,15 persen berada di kawasan hutan. Kondisi tersebut membuat upaya perlindungan membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, hingga masyarakat.
"Pengelolaan yang terintegrasi tidak hanya menjaga fungsi hidrologis gambut dan mencegah kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan gambut yang berkelanjutan," kata Yunus.
Kabupaten Kubu Raya menjadi daerah dengan luasan gambut terbesar di Kalimantan Barat, yakni sekitar 785,9 ribu hektare, disusul Kapuas Hulu, Ketapang, dan Kayong Utara.
Menurut Yunus, keberhasilan pemulihan gambut tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur pembasahan maupun rehabilitasi vegetasi, tetapi juga partisipasi masyarakat melalui Program Desa Mandiri Peduli Gambut yang mendorong peningkatan kapasitas warga dalam mencegah karhutla.
Sejumlah penelitian menunjukkan kebakaran lahan gambut merupakan salah satu sumber utama peningkatan konsentrasi PM2.5 di Indonesia. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal GeoHealth (2024) menemukan bahwa asap dari kebakaran gambut menghasilkan lonjakan partikel halus PM2.5 hingga mencapai kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan berbahaya bagi jutaan penduduk di Kalimantan.
Penelitian tersebut juga mencatat bahwa asap PM2.5 dari kebakaran gambut mudah menyebar ke wilayah permukiman dan kualitas udara di dalam rumah pun tidak jauh berbeda dengan udara luar, sehingga masyarakat tetap berisiko terpapar meski berada di dalam bangunan.
Dampak bagi Masyarakat
Kondisi udara dengan kategori Sangat Tidak Sehat menjadi peringatan bagi masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus seperti KN95, memperbanyak aktivitas di dalam ruangan, serta memantau perkembangan kualitas udara menjadi langkah yang disarankan hingga kondisi membaik. *
Editor : Aristono Edi Kiswantoro