Karhutla Kalbar Meluas, Norsan Usul Hujan Buatan demi Cegah Asap Makin Parah

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 23:10 WIB
Gubernur Kalbar Ria Norsan memegang selang air saat simulasi penanganan kebakaran di sela-sela Apel Kesiapsiagaan Karhutla di halaman Kantor Gubernur Kalbar. (Adpim Pemprov Kalbar)
Gubernur Kalbar Ria Norsan memegang selang air saat simulasi penanganan kebakaran di sela-sela Apel Kesiapsiagaan Karhutla di halaman Kantor Gubernur Kalbar. (Adpim Pemprov Kalbar)

 

PONTIANAK POST – Ancaman karhutla Kalbar kembali meningkat meski hujan deras sempat mengguyur Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya pada Selasa (28/7) sore. Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan semakin kering, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan memastikan pemerintah provinsi segera mengusulkan operasi modifikasi cuaca kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah kebakaran meluas.

Langkah tersebut diambil ketika titik-titik kebakaran masih muncul di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Di saat yang sama, kualitas udara mulai memburuk dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan.

"Kita akan segera mungkin meminta kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk segera mengirimkan pesawat untuk modifikasi cuaca," kata Gubernur Kalbar Ria Norsan kepada wartawan di Sungai Raya, Selasa (28/7).

Pemadaman Diperkuat, Pencegahan Tetap Jadi Prioritas

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat tidak hanya mengandalkan hujan buatan. Seluruh sumber daya dikerahkan melalui kolaborasi bersama TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan agar penanganan kebakaran berlangsung lebih cepat.

Menurut Norsan, keberhasilan mengendalikan karhutla tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam mencegah munculnya titik api.

"Kita menggerakkan semua kemampuan yang kita miliki bersama TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, dan masyarakat," ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kalbar juga telah menerbitkan surat edaran yang mengimbau masyarakat tidak membuka lahan maupun membakar sampah secara sembarangan selama musim kemarau.

"Secara tulisan melalui surat edaran juga sudah saya sampaikan kepada masyarakat agar tidak membakar sembarangan, supaya kebakaran tidak terjadi lagi," kata Norsan.

Upaya pencegahan dini melalui pembasahan lahan gambut dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko karhutla selama musim kemarau. Pakar gambut tropis Universitas Tanjungpura, Prof. Gusti Z. Anshari, menyebut perlindungan ekosistem gambut harus mengedepankan pencegahan sejak awal karena kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan dan menghasilkan emisi dalam jumlah besar.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa pengembangan strategi pencegahan kebakaran lahan gambut memerlukan pemahaman terhadap kondisi hidrologi gambut, sehingga langkah mitigasi seperti menjaga kelembapan gambut dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kebakaran pada musim kemarau.

Patroli Darat dan Udara Terus Diperluas

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat memperkuat patroli terpadu melalui jalur darat dan udara untuk mendeteksi titik panas sekaligus mempercepat pemadaman.

Hingga kini, tim gabungan telah melakukan penanganan kebakaran di Kabupaten Kubu Raya, Ketapang, Sanggau, Sambas, Kayong Utara, hingga Kota Pontianak.

Ketua Satgas Informasi BPBD Kalbar Daniel mengatakan patroli dilakukan sejak pagi hingga dini hari dengan melibatkan BPBD, Manggala Agni, BMKG, TNI, Polri, relawan pemadam kebakaran, dan berbagai instansi terkait.

"Penanganan karhutla oleh Satgas Terpadu ini agar bandara, pelabuhan, dunia pendidikan, dan kesehatan tidak ikut terdampak akibat karhutla. Kondisi inilah yang sangat kita utamakan dan hindari," ujarnya.

Daniel menambahkan, upaya pencegahan sebenarnya telah dilakukan sejak awal tahun melalui patroli rutin, sosialisasi, dan penerapan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pembukaan Lahan Perladangan Berbasis Kearifan Lokal.

Tim BPBD Kalbar melakukan pemadaman karhutla di sekitar Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Kubu Raya yang berdekatan dengan kawasan Bandara Internasional Supadio, Senin (27/7).
Tim BPBD Kalbar melakukan pemadaman karhutla di sekitar Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Kubu Raya yang berdekatan dengan kawasan Bandara Internasional Supadio, Senin (27/7).

Pemerintah Pusat Minta Lahan Gambut Terus Dibasahi

Pemerintah pusat juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino.

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menginstruksikan pemerintah daerah melakukan penyiraman lahan gambut, lahan mineral, dan tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah sebelum muncul titik api.

"Jangan menunggu terjadi kebakaran baru bertindak, kita harus langsung melakukan tindakan pendinginan untuk mengantisipasi potensi timbulnya api," tegas Jumhur Hidayat.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menggelar rapat terbatas bersama BMKG, BNPB, TNI, Polri, serta kementerian terkait guna memperkuat langkah antisipasi menghadapi El Nino yang diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa El Nino tidak sama dengan musim kemarau, tetapi ketika keduanya terjadi bersamaan, curah hujan akan semakin berkurang sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Khusus di Kalimantan Barat, BMKG memprakirakan curah hujan mulai menurun sejak Mei dengan puncak musim kemarau pada Agustus–September. Karena itu, upaya mitigasi seperti pembasahan lahan gambut dan Operasi Modifikasi Cuaca perlu dilakukan sejak dini.

Kualitas Udara Pontianak Memburuk

Dampak karhutla mulai dirasakan masyarakat. Pada Senin (27/7) pukul 23.00 WIB, Pontianak tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia berdasarkan pemantauan IQAir.

Indeks Kualitas Udara (AQI US) mencapai 248 atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 173 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Kondisi tersebut terjadi di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di sedikitnya delapan kabupaten di Kalimantan Barat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut partikel PM2.5 mampu menembus hingga alveoli paru-paru dan masuk ke aliran darah. Paparan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, memperburuk asma, infeksi paru, hingga penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

PETA POLUSI UDARA: Tangkapan layar peta kualitas udara IQAir menunjukkan kondisi udara di Kota Pontianak berada pada kategori sangat tidak sehat dengan dominasi polutan PM2.5. Kondisi tersebut terjadi di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, sehingga masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas.
PETA POLUSI UDARA: Tangkapan layar peta kualitas udara IQAir menunjukkan kondisi udara di Kota Pontianak berada pada kategori sangat tidak sehat dengan dominasi polutan PM2.5. Kondisi tersebut terjadi di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, sehingga masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa partikel halus PM2.5 memiliki ukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan menembus aliran darah. Paparan polusi udara berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan, penyakit jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta gangguan kesehatan lainnya.

Warga Diminta Waspada Selama Musim Kemarau

Pemerintah mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker saat beraktivitas, serta tidak melakukan pembakaran terbuka yang dapat memperparah kabut asap.

Bagi warga Kalimantan Barat, ancaman karhutla bukan hanya persoalan api yang membakar lahan. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu kesehatan, aktivitas belajar, transportasi, hingga mata pencaharian masyarakat. Karena itu, keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, aparat, relawan, dan kesadaran masyarakat untuk mencegah munculnya titik api sejak dini. **


FAQ

Mengapa Kalbar mengusulkan operasi modifikasi cuaca?

Untuk membantu mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan serta meningkatkan peluang hujan di wilayah yang terdampak.

Wilayah mana saja yang terdampak karhutla?

Penanganan dilakukan di Kubu Raya, Ketapang, Sanggau, Sambas, Kayong Utara, Kota Pontianak, dan sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat.

Mengapa lahan gambut harus terus dibasahi?

Lahan gambut yang mengering sangat mudah terbakar dan api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dipadamkan.

Apa yang harus dilakukan masyarakat saat kualitas udara memburuk?

Kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker, ikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, dan hindari pembakaran terbuka.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
operasi hujan buatan karhutla kalbar kebakaran hutan dan lahan modifikasi cuaca lahan gambut