270 Anak Pontianak Mulai Menempuh Pendidikan di Sekolah Rakyat

Uray Ronald • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 22:33 WIB
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono berdialog dengan siswa saat pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat, Jalan Flora, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, Kamis (30/7/2026). (Pemkot Pontianak)
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono berdialog dengan siswa saat pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat, Jalan Flora, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, Kamis (30/7/2026). (Pemkot Pontianak)

 

PONTIANAK POST – Sebanyak 270 anak Kota Pontianak mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat, Jalan Flora, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara, Kamis (30/7/2026). Sekolah tersebut menjadi ruang pendidikan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan kesempatan belajar yang lebih baik.

Sekolah Rakyat Pontianak menampung siswa jenjang SD, SMP, dan SMA dengan jumlah masing-masing 90 siswa. Seluruh peserta didik berasal dari Kota Pontianak dan telah melalui proses seleksi beberapa bulan sebelumnya.

Baca Juga: Kemensos Target Bangun Sekolah Rakyat di Landak pada Oktober 2026, Syarat Administrasi Sudah Lengkap

Siswa Disaring dari Keluarga Desil 1 dan Desil 2

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan proses seleksi siswa dilakukan bersama tim Kementerian Sosial, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Dinas Pendidikan, dan Dinas Sosial Kota Pontianak.

Menurutnya, siswa yang diterima merupakan anak-anak dari keluarga yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.

“Tahun ini ada 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Totalnya 270 siswa. Semuanya dari Kota Pontianak dan sudah diseleksi beberapa bulan lalu,” ujarnya saat membuka MPLS Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027.

Edi menjelaskan, Sekolah Rakyat hadir untuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga miskin dan sangat miskin.

“Sesuai harapan Bapak Presiden Prabowo, Sekolah Rakyat ini menampung masyarakat miskin dan sangat miskin. Mereka harus kita muliakan, agar ke depan bisa mengubah kualitas kehidupan, terutama keluarganya,” katanya.

Baca Juga: Ketapang Jadi Daerah Pertama di Kalbar, 32 Siswa Diberangkatkan ke Sekolah Rakyat Pontianak

Sekolah Dilengkapi Asrama untuk Mendukung Pembelajaran

Sekolah Rakyat Pontianak berdiri di atas lahan seluas 5,7 hektare. Selain ruang belajar, fasilitas sekolah juga dilengkapi asrama karena para siswa akan tinggal dan mengikuti proses pembelajaran dalam lingkungan sekolah.

Dalam peninjauannya, Edi melihat langsung sejumlah fasilitas, mulai dari aula, rumah ibadah, ruang kelas, hingga asrama.

Secara umum, bangunan sekolah sudah dapat digunakan sebagian. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan penyempurnaan seperti drainase, akses jalan, kelengkapan utilitas, toilet, serta penghijauan kawasan sekolah.

Edi berharap seluruh pekerjaan dapat selesai dalam waktu sekitar satu bulan agar seluruh fasilitas dapat berfungsi optimal.

“Mudah-mudahan dalam satu bulan terakhir ini semua bisa tuntas dan berfungsi optimal, termasuk penghijauan dan uji fungsi utilitas seperti drainase dan toilet,” ujarnya.

Tantangan Adaptasi Anak Tinggal di Lingkungan Baru

Dengan konsep pendidikan berasrama, para siswa harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Perubahan pola hidup dari tinggal bersama keluarga menjadi menetap di sekolah menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi siswa jenjang SD.

Edi berharap para siswa dapat beradaptasi dengan baik dan mendapatkan dukungan dari keluarga.

“Pesan saya, mudah-mudahan mereka betah, sehat, dan bisa bekerja sama dengan orang tua. Terutama yang SD, karena mereka masih anak-anak,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang mendukung anak-anaknya mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.

Menurutnya, dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam proses perubahan kebiasaan dan pembentukan karakter anak selama mengikuti pendidikan di asrama.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Segera Hadir di Kapuas Hulu, Ribuan Anak dari Keluarga Miskin Disiapkan Jadi Penerima Manfaat

Puluhan Guru Disiapkan Mendukung Proses Belajar

Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, Sekolah Rakyat Pontianak saat ini memiliki 34 tenaga pendidik.

Edi mengatakan, guru yang mengajar terdiri dari guru kontrak dan tenaga tetap yang direkrut melalui proses seleksi, termasuk dari Kementerian Sosial.

“Gurunya sementara direkrut guru kontrak dan ada tenaga tetap. Ada 34 guru, nanti akan terus ditingkatkan dan dilengkapi,” jelasnya.

Jumlah tenaga pendidik akan terus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah seiring perkembangan jumlah siswa dan program pembelajaran.

Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan Sekolah Rakyat

Edi menegaskan, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya bergantung pada sekolah dan pemerintah daerah, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak.

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemkot Pontianak, guru, kepala sekolah, kepala asrama, orang tua, dan masyarakat sekitar menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang baik.

Menurutnya, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi tempat bagi anak-anak Pontianak untuk tumbuh menjadi generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, dan kemampuan menghadapi masa depan.

“Mudah-mudahan dengan Sekolah Rakyat ini, anak-anak menjadi harapan masa depan, bisa mengubah kualitas kehidupan keluarganya, dan berprestasi untuk masa depan Indonesia,” pungkasnya.*

Editor : Uray Ronald
Sekolah Rakyat Pontianak MPLS Sekolah Rakyat 2026 pendidikan anak kurang mampu Pontianak sekolah asrama Pontianak Edi Rusdi Kamtono