PONTIANAK POST - BNPB mengerahkan dukungan helikopter water bombing ke Kalimantan Barat untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah intensitas kebakaran meningkat. BNPB menegaskan operasi udara paling efektif dilakukan saat api masih dalam tahap awal agar penyebaran dapat segera dikendalikan.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan menyampaikan bahwa penggunaan helikopter pengebom air harus dilakukan secara tepat waktu dan berdasarkan tingkat ancaman karhutla di setiap wilayah. Pernyataan tersebut disampaikan saat meninjau penanganan karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (1/8).
Baca Juga: Karhutla Meluas di Delapan Daerah Kalbar, BPBD Intensifkan Operasi Darat dan Water Bombing
Satu Helikopter Digeser untuk Memperkuat Penanganan Karhutla Kalbar
BNPB melakukan reposisi armada helikopter secara dinamis sesuai perkembangan ancaman karhutla di berbagai provinsi. Salah satu langkah tersebut adalah menggeser dukungan helikopter dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Barat karena kebutuhan penanganan kebakaran yang meningkat.
Sebelumnya, Kalimantan Selatan mendapatkan dukungan empat helikopter water bombing. Dari jumlah tersebut, satu unit dipindahkan ke Kalimantan Barat dan satu unit lainnya digeser ke Kalimantan Tengah untuk memperkuat operasi pemadaman di wilayah dengan tingkat ancaman lebih tinggi.
Kebijakan pemindahan armada tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan respons cepat dan fleksibel. Dukungan udara diarahkan ke wilayah prioritas agar upaya pemadaman dapat dilakukan sebelum titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Baca Juga: Karhutla Ancam Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI, BNPB Kerahkan Water Bombing
BNPB Ingatkan Water Bombing Harus Dilakukan Sejak Titik Api Muncul
BNPB menjelaskan helikopter water bombing memiliki peran besar ketika api masih terbatas. Penyiraman dari udara dapat membantu menekan titik api sehingga petugas darat memiliki peluang lebih besar untuk melakukan pemadaman lanjutan.
"Helikopter water bombing bukan dirancang untuk memadamkan kebakaran dengan luasan sangat besar, melainkan digunakan saat api masih terbatas sehingga penyiraman dari udara dapat lebih optimal," kata Budi Irawan.
Menurutnya, ketika karhutla sudah meluas, tambahan jumlah helikopter tidak otomatis mampu memadamkan seluruh kawasan terbakar. Kapasitas air yang dapat dibawa setiap penerbangan memiliki batas sehingga strategi pencegahan sejak awal menjadi faktor penting.
"Karena begitu karhutla meluas, helikopter water bombing mau dikasih dua skuadron, tiga skuadron atau lebih sekalipun, tidak akan padam,” ujarnya.
Penanganan Karhutla Kalbar Dilakukan dengan Dukungan Terpadu
Selain pengerahan helikopter, BNPB menekankan pengendalian karhutla membutuhkan kombinasi berbagai strategi. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dapat dilakukan apabila terdapat potensi awan yang memungkinkan untuk membantu menghasilkan hujan guna mendukung pemadaman.
BNPB juga terus memantau perkembangan indeks ancaman karhutla antarwilayah untuk menentukan kebutuhan dukungan. Pola tersebut dilakukan agar sumber daya yang tersedia dapat ditempatkan sesuai kondisi lapangan.
Bagi Kalimantan Barat, tambahan dukungan udara menjadi bagian dari upaya mempercepat pengendalian kebakaran. Penanganan sejak dini diharapkan mampu mengurangi dampak terhadap masyarakat, kualitas udara, serta lingkungan akibat asap karhutla.
BNPB mengerahkan helikopter water bombing ke Kalbar untuk memperkuat penanganan karhutla dan mencegah api meluas.
Baca Juga: Tiga Kecamatan di Kayong Utara Rawan Karhutla, BPBD Gencarkan Patroli dan Water Bombing
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, sebelumnya mengatakan satgas udara terus disiagakan untuk menangani karhutla di Kalbar.
Pada 29 Juli, helikopter patroli udara dijadwalkan melakukan pemantauan di wilayah Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, dan Landak.
Sementara helikopter water bombing diterjunkan untuk mendukung pemadaman di Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, serta Desa Pulau Kumbang, Kabupaten Kayong Utara.
BPBD Kalbar juga meminta seluruh satuan tugas darat tetap melaksanakan patroli rutin di wilayah masing-masing sebagai upaya deteksi dini.
Editor : Uray RonaldSumber : Antara