PONTIANAK POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah. Ketiga daerah tersebut menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar berdasarkan hasil perhitungan periode Januari hingga Juni 2026.
Ketua Satuan Tugas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan prioritas penanganan dilakukan agar kebakaran tidak meluas dan asap yang ditimbulkan tidak semakin mengganggu aktivitas masyarakat.
"Berdasarkan hasil perhitungan luas lahan terbakar periode Januari hingga Juni, tiga kabupaten yang menjadi perhatian utama adalah Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah," kata Daniel di Pontianak, Senin (3/8) dikutip dari Antara.
Asap Berpotensi Ganggu Transportasi, Pendidikan, dan Kesehatan
Menurut Daniel, ketiga wilayah tersebut menjadi fokus operasi darat dan udara karena asap hasil kebakaran berpotensi mengganggu transportasi, kegiatan belajar mengajar, serta kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan asap dari kawasan tersebut juga berpotensi memengaruhi operasional Bandara Supadio, aktivitas pelabuhan, dan telah mulai memasuki Kota Pontianak sehingga diperlukan penanganan yang lebih masif.
Patroli Udara Verifikasi Titik Panas
BPBD memulai operasi penanggulangan dengan patroli udara untuk memverifikasi dan memvalidasi informasi titik panas yang diperoleh dari BMKG sebelum menentukan langkah pemadaman.
Daniel mengatakan patroli udara tidak hanya memeriksa titik panas yang telah terdeteksi, tetapi juga sering menemukan titik api baru yang belum tercatat sehingga dapat segera dilaporkan kepada satuan tugas darat maupun udara.
"Data titik panas menjadi kompas bagi kami, tetapi bukan satu-satunya acuan. Patroli di lapangan tetap diperlukan untuk menemukan dan memverifikasi titik api yang sebenarnya," tuturnya.
Baca Juga: BPBD Kalbar Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana Asap hingga November, 200 Hotspot Terdeteksi
BMKG Catat 466 Titik Panas di Kalimantan Barat
Berdasarkan data BMKG, jumlah titik panas di Kalimantan Barat mencapai 466 titik. Dari jumlah tersebut, tiga titik berkategori rendah, 459 titik berkategori sedang, dan empat titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Daniel menambahkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat berpotensi mengalami karhutla pada periode 1–7 Agustus 2026 karena curah hujan diprakirakan masih berada pada kategori ringan sehingga belum mampu menekan risiko kebakaran.
Strategi Pemadaman Disesuaikan dengan Jenis Lahan
BPBD mengutamakan pemadaman darat apabila lokasi kebakaran mudah dijangkau dan memiliki sumber air yang memadai. Namun, jika akses menuju lokasi sulit atau sumber air terbatas, helikopter akan dikerahkan untuk melakukan water bombing.
Menurut Daniel, metode pemadaman dari udara lebih efektif diterapkan pada lahan mineral karena api hanya membakar permukaan tanah.
Sementara itu, kebakaran di lahan gambut membutuhkan penanganan yang lebih intensif. Api dapat menjalar hingga beberapa meter di bawah permukaan tanah sehingga memerlukan penyiraman berulang yang dilanjutkan dengan teknik penyuntikan air ke lapisan gambut melalui operasi darat.
"Koordinasi antara patroli udara, satuan tugas darat, dan instansi terkait terus diperkuat agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara cepat dan efektif," katanya.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara