PONTIANAK POST – Krisis air bersih di Kalimantan Barat mulai meluas seiring musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Untuk membantu warga yang kesulitan memperoleh air bersih, Kodam XII/Tanjungpura menggelar operasi kemanusiaan dengan mengerahkan ratusan personel dan puluhan armada tangki air ke sejumlah kabupaten/kota, Senin (3/8).
Bantuan didistribusikan langsung ke kawasan permukiman menggunakan truk tangki hingga kendaraan pemadam kebakaran milik satuan jajaran Kodam XII/Tanjungpura. Langkah ini dilakukan sebagai respons cepat terhadap menurunnya ketersediaan air bersih di berbagai daerah.
Kodam XII Turun Tangan Bantu Warga
Kepala Penerangan Kodam XII/Tanjungpura, Kolonel Arh Agung Sinaring, mengatakan distribusi air bersih merupakan bentuk kepedulian TNI Angkatan Darat dalam membantu masyarakat menghadapi dampak musim kemarau.
"Pendistribusian air bersih ini adalah komitmen nyata Kodam XII/Tanjungpura untuk hadir di tengah masyarakat, terlebih dalam situasi sulit akibat musim kemarau. Kami mendayagunakan seluruh potensi satuan, mulai dari Kodim hingga Batalyon agar bantuan ini dapat menjangkau warga yang paling membutuhkan secara cepat dan tepat," ujarnya.
Menurut Agung, Kodam XII/Tanjungpura terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memantau perkembangan kekeringan sekaligus memetakan wilayah yang membutuhkan penanganan segera.
Distribusi bantuan melibatkan seluruh jajaran Kodim dan Batalyon di Kalimantan Barat. Daerah sasaran meliputi Kabupaten Mempawah, Kubu Raya, Sambas, Sanggau, Landak, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, Bengkayang hingga Kota Singkawang.
Ribuan Warga Mulai Merasakan Dampak Kemarau
Di Kabupaten Mempawah, Kodim 1201/Mempawah mengerahkan 20 personel dan dua unit mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi 20 kepala keluarga di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Mempawah Hilir.
Kodim 1207/Pontianak juga menyalurkan dua tangki air bersih kepada warga Dusun Mulyorejo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, yang mulai mengalami penurunan pasokan air.
Sementara di Kabupaten Sanggau, Kodim 1204/Sanggau mendistribusikan 5.000 liter air bersih kepada warga Desa Entakai, Kecamatan Kapuas, melalui Program TNI Manunggal Air Bersih. Bantuan yang berasal dari PDAM Kabupaten Sanggau itu disalurkan kepada tiga rukun tetangga dengan melibatkan 22 personel.
Tak hanya satuan kewilayahan, Yonif 644/Walet Sakti juga mengirimkan dua tangki air bersih untuk 23 kepala keluarga di Desa Sibau Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Bantuan serupa turut disalurkan Yonarmed 16/Tumbak Kaputing dan Yonkav 12/Beruang Cakti di wilayah Landak dan Mempawah.
Kehadiran bantuan tersebut disambut antusias masyarakat yang dalam beberapa pekan terakhir mulai kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kalbar Masuk Prioritas Nasional Hadapi El Nino
Meningkatnya kebutuhan air bersih terjadi bersamaan dengan meningkatnya ancaman kekeringan akibat El Nino. Pemerintah menetapkan Kalimantan Barat sebagai satu dari enam provinsi prioritas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto pada 28 Juli 2026, BMKG menjelaskan OMC dilakukan tidak hanya untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga menjaga cadangan air bersih dan mempertahankan kelembapan lahan gambut.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pemerintah kini mengedepankan langkah pencegahan dibanding pemadaman setelah kebakaran terjadi.
"Tidak hanya kita menunggu adanya titik api, kemudian kita padamkan dengan water bombing. Ketika permukaan air tanah sudah menurun, dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menjatuhkan jutaan meter kubik air sehingga mampu menjenuhkan kawasan tersebut," ujarnya.
Selain Kalimantan Barat, OMC diprioritaskan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Air Bersih Jadi Kebutuhan Mendesak
BMKG menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) tidak hanya bertujuan menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga menjaga ketersediaan air di sekitar 240 waduk di Indonesia. Cadangan air tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, mendukung irigasi pertanian, serta menjaga pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air selama musim kemarau.
Bagi Kalimantan Barat, langkah antisipasi tersebut menjadi semakin penting. Selain menghadapi ancaman karhutla, sejumlah daerah mulai mengalami krisis air bersih yang berpotensi meluas apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. BMKG mencatat sebagian wilayah Kalimantan Barat telah memasuki musim kemarau sejak Juni 2026, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.
Dalam kondisi tersebut, BMKG meminta pemerintah daerah memperkuat upaya mitigasi melalui pengamanan cadangan air bersih, pencegahan karhutla, serta pemantauan wilayah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan. Analisis curah hujan, HTH, dan buletin iklim yang diperbarui secara berkala oleh BMKG Kalimantan Barat menjadi acuan dalam menentukan langkah mitigasi di tingkat daerah.
Ancaman kekeringan juga berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan menegaskan akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak merupakan langkah promotif dan preventif paling efektif untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan. Mengutip data World Health Organization (WHO), Kemenkes menyebut penyediaan air minum dan sanitasi yang layak dapat menurunkan risiko diare hingga 94 persen.
Karena itu, distribusi air bersih kepada warga terdampak kekeringan tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya mencegah penyakit seperti diare, tifoid, dan penyakit kulit yang rentan meningkat saat pasokan air bersih terbatas.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro