PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat (Kalbar). Tim gabungan terus melakukan pemadaman darat, patroli, hingga operasi water bombing untuk mencegah meluasnya kebakaran, terutama di daerah yang didominasi lahan gambut.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Daniel mengatakan, hingga laporan pembaruan 2 Agustus 2026, penanganan karhutla masih difokuskan di sejumlah kabupaten yang memiliki titik kebakaran aktif.
"Karhutla masih terjadi di beberapa wilayah Kalbar. Seluruh satgas terus melakukan pemadaman, patroli darat, patroli udara, serta operasi water bombing sesuai kondisi di lapangan," ujarnya.
Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Kalbar, operasi penanganan pada 1 Agustus mencatat kebakaran terjadi di Kabupaten Kubu Raya, Sambas, Kayong Utara, Sintang, dan Sanggau. Sebagian besar lokasi yang terbakar berada di lahan gambut dengan vegetasi semak belukar, dan campuran.
Di Kabupaten Kubu Raya, pemadaman dilakukan di sejumlah titik, di antaranya Jalan Objek Laut Desa Limbung, Jalan Sultan Hamid Desa Kuala Dua, Jalan Angkasa Pura II Parit Seruat Wonodadi Desa Arang Limbung, dan Parit Pangkalan Desa Permata Jaya. Kemudian juga di Jalan Objek Darat Sukomulyo Desa Limbung, hingga wilayah Rasau Jaya. “Beberapa lokasi masih mengeluarkan asap, bahkan terdapat titik api yang belum sepenuhnya padam,” terangnya.
Sementara di Kabupaten Sambas, kebakaran dilaporkan terjadi di Desa Tanah Hitam, Kecamatan Paloh. Kondisi terakhir di lokasi masih berasap, dan di beberapa area api masih menyala sehingga pemadaman terus dilakukan oleh tim gabungan.
Di Kabupaten Kayong Utara, kebakaran terjadi di Desa Riam Berasap Jaya, Kecamatan Sukadana. Sedangkan di Kabupaten Sintang, kebakaran di Desa Setungkup, Kecamatan Ketungau Hilir, dilaporkan berhasil dipadamkan. “Adapun di Kabupaten Sanggau, penanganan berlangsung di wilayah Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir dengan kondisi terakhir masih berasap,” tambahnya.
Daniel mengatakan, salah satu kendala utama yang dihadapi petugas di hampir seluruh lokasi kebakaran adalah minimnya sumber air. Kondisi tersebut menyebabkan proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama, terutama pada lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
"Minimnya sumber air masih menjadi kendala di lapangan. Karena itu, penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan satgas darat, dan dukungan operasi udara," katanya.
Operasi penanganan melibatkan berbagai unsur, diantaranya BPBD Kalbar, BPBD kabupaten, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, damkar swasta, hingga Satgas Udara BNPB.
Baca Juga: Hadapi Puncak Kemarau, Polri Gandeng BPBD dan Perusahaan Perkuat Antisipasi Karhutla di Sanggau
Selain pemadaman darat, operasi udara juga terus dioptimalkan melalui patroli udara dan water bombing. Pada operasi 2 Agustus 2026, patroli udara difokuskan di wilayah Kubu Raya, Kayong Utara, dan Ketapang.
“Sementara operasi water bombing diarahkan ke Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, serta Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara,” ujarnya.
BPBD Kalbar pun tak henti-hentinya mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. “Kemudian segera melaporkan apabila menemukan titik api kepada aparat setempat, serta meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau guna mencegah meluasnya karhutla,” tutupnya.(bar)
Editor : Hanif