PONTIANAK POST - Tim dosen Politeknik Tonggak Equator (Polteq) mendorong petani di Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya naik kelas. Melalui pemberdayaan kemitraan masyarakat (PKM), tim dosen Polteq melaksanakan upaya peningkatan nilai tambah hasil pertanian hortikultura. Dalam upaya tersebut, Kelompok Tani (Poktan) Maju Bersama menerima pelatihan dan pendampingan dengan pendekatan terpadu dari panen hingga pemasaran digital pada 13 dan 27 Juni, serta 20 Juli 2026.
Poktan yang diketuai Muniri ini mengembangkan komoditas sayur buah, seperti timun, pare, dan cabe rawit pada lahan gambut dengan teknik tanpa olah tanah (Zero Tillage/TOT). Sistem ini menjaga struktur tanah sekaligus berkontribusi mengurangi emisi karbon, mencerminkan praktik budidaya lebih ramah lingkungan. Namun demikian, pengelolaan hasil panen, khususnya pascapanen dan pemasaran belum optimal.
Renny Anggraini, S.P., M.Si. menyampaikan, program mereka dirancang untuk menjawab persoalan tersebut, yaitu melalui penguatan aspek pascapanen, pengolahan, dan pemasaran.
“Selama ini petani menjual hasil panen langsung ke pengepul tanpa penanganan lanjutan. Produk jualnya masih campuran, sehingga belum memperoleh harga terbaik. Karenanya, kami memberikan pelatihan teknik panen dan penanganan pascapanen untuk menjaga kualitas hasil,” ujarnya.
Tim mendorong penerapan teknologi sederhana, berupa evaporative cooling chamber (ECC) sebagai tempat penyimpanan sementara, guna menjaga kesegaran dan menekan kerusakan sebelum produk dipasarkan.
Aspek hilirisasi juga menjadi fokus program. Dr. Nelsy Dian Permatasari, S.TP., M.P. melatih petani mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah, seperti acar timun, keripik pare, dan abon cabai. Produk olahan tersebut diharapkan menjadi alternatif produk ketika harga komoditas segar turun di pasar.
Pada aspek penguatan usaha, Fera Maulina, S.E.T., M.M., CAP., PMR. memberikan pelatihan manajemen keuangan sederhana dan pelabelan produk. Sehingga diharapkan petani mampu lebih terarah mengelola usaha dan memiliki identitas produk yang siap bersaing di pasar.
Baca Juga: NTP Kalbar Naik: Petani Sawit Untung, Hortikultura Tertekan
Para petani pun diperkenalkan digitalisasi pemasaran, melalui pemanfaatan gadget dan media sosial. “Kami dorong petani memasarkan produknya langsung kepada konsumen, sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak. Serta, ada peluang menjangkau pasar lebih luas,” kata Renny.
Program PKM dari Tim Dosen Polteq disambut positif petani. Antusias peserta tinggi selama pelatihan. Selain sebagai sarana transfer pengetahuan, pelatihan turut membuka wawasan bahwa peningkatan pendapatan tak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga bagimana hasil panen dikelola, diolah, dan dipasarkan.
“Kami sambut baik kegiatan ini. Pelatihan yang diberikan sesuai kondisi petani di lapangan. Kami jadi tahu bahwa hasil panen bisa dipilah dan dikelola lebih baik agar nilainya meningkat,” ujar Muniri, ketua Poktan Maju Bersama.
Melalui program ini, tim PKM berharap petani mampu bertransformasi dari sekadar produsen menjadi pelaku usaha mandiri, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan pasar, sekaligus tetap menjaga praktik pertanian berkelanjutan di lahan gambut. (mde/ser)
Editor : Rafael B. Junior