PONTIANAK POST - Fenomena El Nino yang melanda Indonesia mulai menunjukkan dampak nyata di Kalimantan Barat. Jika selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kini persoalan lain mulai muncul, yakni semakin sulitnya warga mendapatkan air bersih.
Sejumlah daerah dilaporkan mengalami penurunan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah bersama TNI bergerak cepat melakukan berbagai langkah mitigasi agar dampak musim kemarau tidak semakin meluas.
Krisis Air Bersih Mulai Dirasakan Warga
Kesulitan memperoleh air bersih mulai terjadi di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Barat seiring berkurangnya curah hujan selama musim kemarau.
Sebagai respons cepat, Kodam XII/Tanjungpura menggelar operasi kemanusiaan dengan mengerahkan ratusan personel serta puluhan armada tangki air untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak.
Bantuan disalurkan menggunakan truk tangki hingga kendaraan pemadam kebakaran milik satuan jajaran Kodam XII langsung ke kawasan permukiman warga.
Kepala Penerangan Kodam XII/Tanjungpura, Kolonel Arh Agung Sinaring, mengatakan langkah tersebut merupakan bentuk komitmen TNI Angkatan Darat dalam membantu masyarakat menghadapi dampak musim kemarau.
“Pendistribusian air bersih ini adalah komitmen nyata Kodam XII/Tanjungpura untuk hadir di tengah masyarakat, terlebih dalam situasi sulit akibat musim kemarau. Kami mendayagunakan seluruh potensi satuan, mulai dari Kodim hingga Batalyon agar bantuan ini dapat menjangkau warga yang paling membutuhkan secara cepat dan tepat,” ujarnya.
Menurut Agung, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memetakan wilayah yang mengalami kekeringan agar penyaluran bantuan dapat dilakukan secara tepat sasaran.
10 Jadi Prioritas Penyaluran Bantuan
Distribusi air bersih dilakukan hampir di seluruh wilayah Kalimantan Barat yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air.
Daerah yang menjadi sasaran meliputi Kabupaten Mempawah, Kubu Raya, Sambas, Sanggau, Landak, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, Bengkayang hingga Kota Singkawang.
Di Kabupaten Mempawah, Kodim 1201/Mempawah mengerahkan dua mobil tangki air untuk memenuhi kebutuhan 20 kepala keluarga di Kelurahan Tanjung.
Sementara di Kabupaten Kubu Raya, Kodim 1207/Pontianak menyalurkan dua tangki air bersih ke Dusun Mulyorejo, Desa Limbung.
Baca Juga: El Nino 2026 Ancam Kalbar, DPR Minta BNPB Petakan Risiko Karhutla dan Segera Bertindak
Kodim 1204/Sanggau juga mendistribusikan sekitar 5.000 liter air bersih kepada warga Desa Entakai melalui Program TNI Manunggal Air Bersih.
Bantuan serupa turut dilakukan oleh Yonif 644/Walet Sakti di Kapuas Hulu, serta Yonarmed 16/Tumbak Kaputing dan Yonkav 12/Beruang Cakti di wilayah Landak dan Mempawah.
Pemerintah Ubah Strategi Hadapi El Nino
Meluasnya ancaman kekeringan membuat pemerintah mengubah pendekatan dalam menghadapi El Nino tahun ini.
Kalimantan Barat ditetapkan sebagai satu dari enam provinsi prioritas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), bersama Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Ahli Ingatkan Ancaman Super El Nino, Pencegahan Karhutla Harus Dimulai Lebih Awal
Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto pada 28 Juli 2026, BMKG menjelaskan bahwa OMC tidak hanya ditujukan untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga menjaga ketersediaan cadangan air bersih dan mempertahankan kelembapan lahan gambut.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan pemerintah kini lebih mengutamakan langkah pencegahan dibanding penanganan setelah bencana terjadi.
“Tidak hanya kita menunggu adanya titik api, kemudian kita padamkan dengan water bombing. Ketika permukaan air tanah sudah menurun, dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menjatuhkan jutaan meter kubik air sehingga mampu menjenuhkan kawasan tersebut,” katanya.
Air Bersih Kini Menjadi Isu Strategis
BMKG menyebut operasi modifikasi cuaca juga bertujuan menjaga cadangan air di sekitar 240 waduk di Indonesia.
Cadangan tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, mendukung irigasi pertanian, hingga menjaga pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air selama musim kemarau.
Bagi Kalimantan Barat, langkah tersebut dinilai semakin penting mengingat sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau sejak Juni 2026 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah daerah diminta memperkuat pengamanan sumber air, memantau wilayah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan, serta meningkatkan upaya pencegahan karhutla.
Kekeringan Berpotensi Memicu Masalah Kesehatan
Dampak El Nino tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa terbatasnya akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit berbasis lingkungan.
Mengutip data World Health Organization (WHO), penyediaan air bersih dan sanitasi yang memadai mampu menurunkan risiko diare hingga 94 persen.
Karena itu, distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mencegah meningkatnya kasus diare, tifoid, maupun penyakit kulit selama musim kemarau.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Mulai Meluas di Kalbar, Kodam Kerahkan Ratusan Personel Salurkan Bantuan
Ancaman El Nino Kini Semakin Kompleks
Kondisi yang terjadi di Kalimantan Barat menunjukkan bahwa dampak El Nino tidak lagi identik dengan kabut asap dan kebakaran hutan semata.
Menurunnya ketersediaan air bersih mulai menjadi ancaman baru yang langsung dirasakan masyarakat.
Karena itu, berbagai langkah antisipasi seperti distribusi air bersih, Operasi Modifikasi Cuaca, hingga pengamanan cadangan air menjadi strategi penting agar dampak musim kemarau tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Editor : Miftahul Khair