Karhutla Kalbar Sulit Dipadamkan, Medan Berat dan Minim Air Hambat Penanganan

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 00:04 WIB
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)

 

PONTIANAK POST – Karhutla Kalbar di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya masih menghadapi kendala serius. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat menyebut lokasi kebakaran yang sulit dijangkau, minimnya sarana pemadaman, serta terbatasnya sumber air menjadi penyebab utama api belum dapat dikendalikan secara maksimal.

Situasi tersebut semakin memprihatinkan setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang menelan korban jiwa. Seorang warga dilaporkan meninggal dunia diduga akibat terjebak kabut asap saat melintasi kawasan yang terbakar.

Medan Sulit dan Lahan Gambut Jadi Tantangan Terbesar

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, mengatakan karakteristik lahan gambut di Ketapang dan Kubu Raya membuat proses pemadaman jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan biasa.

"Selain lokasi karhutla yang sulit dijangkau, minimnya sarana prasarana pemadaman juga menjadi kendala sehingga penanganan belum bisa dilakukan secara maksimal," kata Ridwan di Pontianak, Rabu.

Menurutnya, api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan bawah tanah. Kondisi tersebut diperparah oleh terbatasnya sumber air di sejumlah titik kebakaran.

Ia menjelaskan, tim terpadu bersama satuan tugas darat dan udara terus melakukan patroli untuk mendeteksi titik api. Apabila kebakaran tidak dapat dijangkau melalui jalur darat, helikopter water bombing akan dikerahkan untuk membantu proses pemadaman.

Korban Jiwa Jadi Alarm Kemanusiaan

Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, karhutla di Ketapang telah memakan korban jiwa.

Kepala BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengatakan seorang warga meninggal dunia setelah diduga kehilangan kesadaran saat melintasi kawasan yang dipenuhi asap kebakaran.

"Korban diduga menerobos kabut asap saat hendak pulang. Karena kekurangan oksigen, korban pingsan dan terjatuh di lokasi yang terdapat api sehingga meninggal dalam kondisi terbakar," ujarnya.

Selain korban meninggal, seorang warga lanjut usia mengalami luka bakar dan telah dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Lebih dari 40 Hektare Terbakar, BPBD Minta Helikopter Disiagakan di Ketapang

Menurut Yunifar, kebakaran di Desa Pelang diperkirakan telah meluas hingga lebih dari 40 hektare. Sulitnya memperoleh sumber air masih menjadi hambatan utama dalam upaya pemadaman.

Ia mengatakan hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Ketapang kini memiliki titik kebakaran, sehingga diperlukan respons yang lebih cepat dari pemerintah pusat.

Karena itu, BPBD Ketapang meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui BPBD Kalbar menempatkan helikopter patroli dan water bombing di Bandara Rahadi Oesman Ketapang.

"Saat ini hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Ketapang terdapat titik kebakaran. Kami berharap helikopter dapat disiagakan di Ketapang untuk mempercepat penanganan," katanya.

Dampak Karhutla Tidak Hanya pada Lingkungan

Karhutla yang terus meluas berpotensi mengganggu kualitas udara, aktivitas masyarakat, transportasi, hingga kesehatan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

BPBD Kalbar mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
water bombing kebakaran hutan dan lahan lahan gambut ketapang kubu raya