Tradisi Bakar Wangkang Pontianak Bersiap, Replika Kapal Pembawa Roh Leluhur Mulai Digarap

haryadi PP • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:51 WIB
Pekerja merampungkan pembuatan replika kapal Wangkang di Halaman Pemakaman Yayasan Bhakti Suci di Jalan Adisucipto, Kubu Raya. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
Pekerja merampungkan pembuatan replika kapal Wangkang di Halaman Pemakaman Yayasan Bhakti Suci di Jalan Adisucipto, Kubu Raya. (HARYADI/PONTIANAKPOST)

PONTIANAK POST - Suara dentur perkakas tukang terdengar konstan di lokasi pembuatan replika kapal wangkang. Di Halaman Pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adisucipto, Kubu Raya. Siang itu, Rabu (5/8),

Atet tampak fokus memeriksa setiap jengkal bagian kapal. Dengan ketelitian tinggi, ia memastikan lembaran papan dan kayu terpasang presisi, membentuk bahtera megah yang kelak dipercaya membawa arwah para leluhur menuju kayangan.

Ritual Bakar Wangkang sendiri merupakan tradisi tahunan masyarakat Tionghoa. Upacara sakral ini digelar sebagai wadah penghormatan untuk mengantarkan arwah para leluhur kembali ke alam baka.

Baca Juga: Ubah Makna Tradisi Mengayau, Yohanes Rumpak Minta Pemuda Dayak Merantau demi Bangun Tanah Kelahiran

Dalam menggarap kapal raksasa ini, Atet tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh tiga orang rekannya yang berbagi tugas demi merampungkan setiap detail replika.

Bagi Atet, kerajinan ini bukanlah hal baru. Ia telah menekuni pembuatan replika kapal wangkang selama 20 tahun. Sebuah kurun waktu yang panjang dan penuh dedikasi. Keahlian langka ini didapatkan langsung dari almarhum Anek, sosok maestro kebudayaan Tionghoa yang tersohor di Kota Pontianak, Dalam pembuatan replika naga dan kapal wangkang.

"Almarhum Anek yang mengajari saya membuat replika kapal wangkang. Hampir 15 tahun saya belajar dengan beliau, dan sejak beliau wafat, saya yang meneruskan tradisi ini," ujar Atet mengenang sosok gurunya yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri.

Replika kapal yang tengah dikerjakan Atet memiliki dimensi yang impresif. Kapal tersebut membentang sepanjang 21,79 meter, lebar 3,60 meter, serta tinggi 1,10 meter. Uniknya, ukuran panjang kapal ini selalu bertambah sekitar 2 sentimeter setiap tahunnya.

Baca Juga: Benarkah Singapura Negara Tionghoa? Mengulas Sejarah Migrasi, Budaya Multikultural, dan Identitas Nasionalnya

"Setiap tahun ukuran panjang kapal bertambah. Ini memiliki makna bahwa setiap tahunnya, jumlah roh yang menaiki kapal juga selalu bertambah," jelas Atet.

Sebagai seorang yang memiliki latar belakang pertukangan, Atet merinci bahwa material yang dibutuhkan untuk membangun bahtera ini tidak sedikit. Proses pembuatan membutuhkan sekitar 500 batang kayu cerucuk untuk rangka utama, 300 lembar papan sebagai dinding kapal, serta 50 batang bambu untuk menopang rangka-rangka kecil.

Tak sekadar urusan teknis pertukangan, pengerjaan kapal sakral ini juga terikat erat dengan aturan spiritual.

"Sebelum mulai membuat kapal wangkang, saya diharuskan melakukan sembahyang 'buka mata' terlebih dahulu di lokasi pembuatan," pungkasnya.(yad)

Editor : Hanif
replika kapal Kapal Wangkang leluhur tionghoa penghormatan