PONTIANAK POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat terus mengintensifkan operasi water bombing untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Pemadaman dari udara dilakukan berdasarkan permintaan Satgas Darat pada lokasi yang dinilai membutuhkan penanganan cepat.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Daniel mengatakan, operasi water bombing masih menjadi salah satu langkah utama dalam mempercepat penanganan karhutla di lapangan.
Pada Rabu (5/8) misalnya, helikopter Super Puma H225 yang berbasis di Pontianak kembali melakukan water bombing di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang.
Operasi tersebut merupakan lanjutan pemadaman yang telah dilakukan sehari sebelumnya atas permintaan Satgas Darat. Hingga saat ini, helikopter tersebut telah mencatat akumulasi kontrak ketiga selama 62 jam 57 menit penerbangan, dengan 355 kali bombing, menjatuhkan sekitar 1,42 juta liter air dalam 15 sorti.
Selain di Ketapang, operasi pemadaman dari udara juga dilakukan di Kabupaten Kubu Raya. Helikopter Sikorsky UH-60L dikerahkan melakukan water bombing di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, berdasarkan permintaan Satgas Darat.
Armada tersebut telah membukukan 68 jam 22 menit penerbangan, 362 kali bombing, dengan total 1,448 juta liter air yang dijatuhkan dalam 16 sorti.
Sementara itu, satu unit helikopter Sikorsky EH-60A juga disiapkan untuk mendukung operasi pemadaman di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Armada tersebut baru menyelesaikan proses administrasi sehingga akumulasi jam terbang, dan kegiatan operasionalnya masih belum tercatat.
Baca Juga: BMKG Sebut Kalbar Bakal Minim Hujan 6 Pekan ke Depan, BNPB Minta Siaga Penuh Hadapi Karhutla
Daniel menambahkan, BPBD Kalbar juga mengingatkan seluruh operator helikopter water bombing agar memastikan lokasi yang akan dijatuhi air tidak terdapat petani, penjaga lahan, maupun gubuk di sekitar area sasaran.
“Operator juga disarankan melakukan satu kali putaran terlebih dahulu sebelum menjatuhkan air ke lokasi,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat maupun petani yang sedang menggarap lahan di area terbuka diminta memasang tanda berupa bendera pada empat sudut lahan.
“Langkah tersebut bertujuan memudahkan identifikasi dari udara sekaligus menghindari risiko saat operasi water bombing berlangsung,” terangnya.(bar)
Editor : Hanif