PONTIANAK POST – Berdiri kokoh dengan sebelas bambu runcing berwarna kuning yang menjulang ke langit, Tugu Digulis menjadi salah satu ikon bersejarah Kota Pontianak. Di balik bentuknya yang sederhana, monumen ini menyimpan kisah panjang perjuangan rakyat Kalimantan Barat melawan kolonialisme.
Banyak masyarakat mengenal Tugu Digulis sebagai salah satu lokasi penting di Kota Pontianak. Namun, tidak semua mengetahui bahwa sebelas tonggak yang berdiri di kawasan tersebut memiliki makna mendalam.
Berdasarkan catatan Pontianak Heritage Movement dalam tulisan sejarah mengenai Tugu Digulis, monumen tersebut tidak hanya menjadi ikon Kota Pontianak, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan 11 tokoh Kalimantan Barat yang pernah dibuang ke Boven Digoel.
Baca Juga: Mengenal Husein Mutahar, Habib Pencipta Lagu Hari Merdeka, Pendiri Paskibra dan Ajudan Presiden
Berawal dari Gerakan Perjuangan Rakyat Kalbar
Sejarah Tugu Digulis tidak dapat dipisahkan dari perkembangan gerakan pergerakan nasional di Kalimantan Barat. Perjuangan tersebut salah satunya bermula dari terbentuknya Sarekat Islam pada 1914 di Ngabang, kemudian berkembang dengan pembentukan Partai Sarekat Islam pada 1923.
Pemerintah Hindia Belanda saat itu melihat gerakan tersebut sebagai ancaman yang dapat memicu perlawanan seperti yang terjadi di Jawa dan Sumatera. Akibatnya, sejumlah tokoh pergerakan ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel, Papua.
Baca Juga: Pencipta Lagu Hari Merdeka Husein Mutahar, Ternyata Pernah Selamatkan Sang Saka Merah Putih
Dari nama tempat pembuangan itulah kemudian lahir sebutan Tugu Digulis.
Mengenang 11 Tokoh Perjuangan
Dari sebelas tokoh yang dikenang melalui Tugu Digulis, tiga di antaranya meninggal dunia saat menjalani pembuangan di Boven Digoel. Lima tokoh lainnya wafat dalam Peristiwa Mandor, sementara tiga orang meninggal dunia karena sakit.
Baca Juga: Hari Merdeka hingga Hymne Pramuka, Ini Lagu-Lagu Nasional Karya Husein Mutahar yang Melegenda
Kesebelas tokoh tersebut adalah:
- Moehammad Sohor, asal Ngabang.
- Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang.
- Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat di Boven Digoel.
- Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang.
- Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang.
- Gusti Moehammad Situt Machmud, asal Ngabang.
- Gusti Hamzah, asal Ketapang.
- Achmad Su'ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor.
- Ya' Moehammad Sabran, asal Ngabang.
- Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau.
- Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit.
Nama sebagian tokoh tersebut kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Kota Pontianak sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka.
Simbol Perjuangan yang Tetap Berdiri
Keberadaan Tugu Digulis mulai dibangun pada 1986 dan diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada 10 November 1987.
Awalnya, monumen ini berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing berwarna kuning polos. Pada 1995, tugu tersebut mengalami pengecatan ulang dengan warna merah putih. Kemudian pada 2006 dilakukan renovasi sehingga tampil seperti yang terlihat sekarang.
Berdiri di kawasan strategis Kota Pontianak, Tugu Digulis bukan hanya menjadi ruang publik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki perjalanan panjang yang dibangun melalui perjuangan banyak tokoh.
Editor : Silvina