Dr. Rubini, Dokter Pejuang Kalbar yang Melawan Jepang dengan Ilmu dan Pengabdian

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:02 WIB
Nama pahlawan dr Rubini diabadikan sebagai nama rumah sakit pemerintah di Kabupaten Mempawah. (DOK PONTIANAK POST)
Nama pahlawan dr Rubini diabadikan sebagai nama rumah sakit pemerintah di Kabupaten Mempawah. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak selalu dilakukan dengan senjata. Di Kalimantan Barat, sosok Dr. Raden Rubini Natawisastra menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat juga dapat menjadi jalan perjuangan.

Sebagai seorang dokter, Dr. Rubini mengabdikan hidupnya untuk melayani kesehatan rakyat. Namun ketika penjajahan Jepang datang, ia tidak hanya menjalankan tugas medis, tetapi juga ikut memperjuangkan kebebasan melalui gerakan perlawanan.

Mengutip tayangan sejarah dari kanal YouTube @provkalbar.official, Dr. Raden Rubini Natawisastra merupakan salah satu tokoh perjuangan Kalimantan Barat yang memiliki jasa besar dalam bidang kesehatan sekaligus perlawanan terhadap penjajahan Jepang.

Baca Juga: Abdul Kadir, Pahlawan dari Tanah Sintang yang Satukan Dayak dan Melayu Melawan Belanda

Dokter Keliling yang Melayani Rakyat Pedalaman

Dr. Rubini merupakan lulusan STVIA, sekolah kedokteran ternama pada masa Hindia Belanda. Ia kemudian bertugas di Pontianak pada 1934.

Ia bekerja di Rumah Sakit Sungai Jawi yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Santo Antonius.

Baca Juga: Kekuatan Pahlawan Nasional Jenderal Soedirman Ternyata Bukan Senjata

Tidak hanya bekerja di ruang pelayanan kesehatan, Dr. Rubini dikenal sebagai dokter keliling. Ia menembus berbagai wilayah Kalimantan, menyusuri sungai-sungai besar untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat pedalaman.

Baginya, menyembuhkan dan membantu masyarakat merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa.

Menggunakan Jabatan untuk Melawan Jepang

Baca Juga: Tugu Digulis Simpan Kisah Perjuangan 11 Tokoh Kalbar, Banyak Di Antaranya Berasal dari Ngabang

Situasi berubah ketika Jepang menduduki Kalimantan Barat. Dr. Rubini tidak tinggal diam.

Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan pada masa pemerintahan Jepang. Posisi tersebut dimanfaatkannya sebagai perlindungan untuk menjalankan peran perjuangan.

Di balik tugas resminya, Dr. Rubini tetap aktif sebagai tokoh masyarakat dan terlibat dalam gerakan bawah tanah untuk menyusun perlawanan terhadap Jepang.

Baca Juga: Mengenal Husein Mutahar, Habib Pencipta Lagu Hari Merdeka, Pendiri Paskibra dan Ajudan Presiden

Gugur Bersama Pejuang Kalbar

Namun, perjuangan tersebut akhirnya diketahui oleh polisi militer Jepang atau Kempetai.

Pada 1943 hingga 1944, Dr. Rubini ditangkap. Ia mengalami penyiksaan sebelum akhirnya dieksekusi bersama 47 tokoh pergerakan lainnya.

Baca Juga: Mengenang Bardan Nadi Sutrisno, Pejuang Kalbar yang Disebut sebagai Orang Indonesia Pertama Dieksekusi Mati oleh Belanda

Ia gugur bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai pejuang kemanusiaan yang mempertaruhkan hidupnya demi rakyat dan tanah air.

Pengabdian yang Mendapat Pengakuan Negara

Atas jasa dan pengorbanannya, Dr. Raden Rubini Natawisastra dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 96/TK Tahun 2022 pada 3 November 2022.

Baca Juga: Terungkap, Begini Jejak Dakwah Soeharto di Papua yang Masih Dikenang hingga Kini

Kisah hidup Dr. Rubini mengajarkan bahwa perjuangan untuk bangsa dapat dilakukan melalui berbagai jalan. Tidak hanya dengan senjata, tetapi juga melalui ilmu, kepedulian, dan keberanian membela kebenaran.

 

Editor : Silvina
perlawanan terhadap jepang' kisah dr rubini sosok dokter pejuang Pejuang Kalbar dr Rubini