Karhutla Mengancam, Pemprov Kalbar Tingkatkan Patroli dan Deteksi Dini Jelang Puncak Kemarau

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 23:06 WIB
Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan berdialog dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, yang datang ke Kalbar, Kamis (6/8) malam.(Adpim Pemprov Kalbar)
Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan berdialog dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, yang datang ke Kalbar, Kamis (6/8) malam.(Adpim Pemprov Kalbar)

 

PONTIANAK POST — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan terjadi pada Agustus. Langkah yang ditempuh meliputi percepatan patroli, deteksi dini, serta operasi pemadaman terpadu untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan mengatakan peningkatan kewaspadaan dilakukan setelah terpantau bertambahnya titik panas di sejumlah wilayah, terutama di Kabupaten Ketapang.

"Sampai saat ini terjadi peningkatan titik panas di sejumlah wilayah, terutama di Kabupaten Ketapang. Kondisi ini mengharuskan seluruh jajaran bergerak cepat tanpa penundaan agar titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," kata Krisantus Kurniawan saat Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla bersama Kepala BNPB RI di Posko Utama Karhutla Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (7/8).

Baca Juga: BNPB Tambah Dua Helikopter Water Bombing ke Kalbar, Perkuat Operasi Udara Cegah Karhutla

Agustus Diperkirakan Menjadi Puncak Ancaman Karhutla

Krisantus menjelaskan periode rawan karhutla di Kalbar umumnya berlangsung pada Juli hingga Oktober. Berdasarkan pola pada tahun-tahun sebelumnya, puncak kerawanan diperkirakan terjadi sepanjang Agustus.

Menurut dia, penanganan karhutla di Kalbar memiliki tantangan besar karena sebagian wilayah didominasi hutan dan lahan gambut. Kebakaran di lahan gambut tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan bawah tanah sehingga menghasilkan asap pekat yang berdampak terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Patroli Terpadu Diperkuat Bersama BNPB, TNI, dan Polri

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, Pemprov Kalbar bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kabupaten/kota, serta Satgas Karhutla memperkuat patroli terpadu, deteksi dini, dan pemadaman cepat melalui operasi darat maupun udara.

Meski demikian, Krisantus mengakui kondisi cuaca yang kering serta karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar masih berpotensi memunculkan titik api baru.

Untuk memperkuat penanganan, Pemprov Kalbar mengharapkan dukungan pemerintah pusat melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), penambahan sarana dan prasarana, serta dukungan pasokan air bagi operasi pemadaman.

Baca Juga: Luas Kebakaran 2026 Lampaui Tahun Lalu, Kalbar Masuk Enam Provinsi Prioritas Penanganan Karhutla

BNPB Minta Respons Cepat Setiap Titik Panas

Kepala BNPB RI Letjen TNI Suharyanto menegaskan seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah harus meningkatkan kewaspadaan sesuai arahan Presiden RI agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Ia mengingatkan Kalbar pernah mengalami karhutla yang menimbulkan korban jiwa, khususnya di Kabupaten Ketapang. Karena itu, setiap kemunculan titik panas harus segera direspons melalui tindakan cepat di lapangan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Suharyanto juga menginstruksikan penguatan kolaborasi antara BNPB, TNI, Polri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah daerah, Satgas Darat, dan Satgas Udara. Upaya tersebut mencakup optimalisasi operasi water bombing serta peningkatan kapasitas awak pesawat untuk penanganan kebakaran di lahan gambut.

BMKG: Potensi Hujan Masih Rendah Enam Pekan ke Depan

Suharyanto mengatakan laporan BMKG menunjukkan wilayah Kalbar diperkirakan belum memiliki potensi pembentukan awan yang signifikan dalam enam pekan ke depan sehingga peluang terjadinya hujan masih rendah.

Baca Juga: Aturan Bakar Lahan 2 Hektare Berpotensi Memicu Karhutla: BNPB Minta Dihentikan Sementara

Kondisi ini menjadi dasar peningkatan kewaspadaan terhadap karhutla karena potensi hujan belum signifikan untuk membantu proses pemadaman alami.

"Kondisi tersebut mendorong seluruh pemerintah daerah, instansi terkait, dunia usaha, dan masyarakat meningkatkan patroli, deteksi dini, edukasi, serta penegakan hukum guna mencegah meluasnya karhutla," katanya.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
karhutla kalimantan barat patroli karhutla Agustus puncak musim kemarau Kalbar bnpb pemprov kalbar