Riak Bertutur di Kampung Caping, Anak-Anak Pesisir Sungai Kapuas Sukses Jadi Penulis Cilik

Wandi PP • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 17:27 WIB
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat Uniawati foto bersama dengan penulis cilik dari pesisir sungai kapuas dalam Festival Literasi Kapuas di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, Sabtu (8/8). (WANDI/PONTIANAK POST
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat Uniawati foto bersama dengan penulis cilik dari pesisir sungai kapuas dalam Festival Literasi Kapuas di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, Sabtu (8/8). (WANDI/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Cerita dan pengalaman anak-anak yang tumbuh di kawasan pesisir Sungai Kapuas dihimpun dalam karya Antologi Pesisir. Karya tersebut resmi diperkenalkan kepada masyarakat dalam Festival Literasi Kapuas di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, Sabtu (8/8).

Festival Literasi Kapuas berlangsung selama tiga hari, 7–9 Agustus 2026, dengan mengusung tema “Riak Bertutur”. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026 yang diarahkan untuk meningkatkan literasi sekaligus melestarikan bahasa dan budaya lokal melalui karya sastra.

Program Krida Kapuas Karya menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang melibatkan anak-anak di kawasan pesisir Sungai Kapuas. Mereka tidak hanya diajak membaca dan menulis, tetapi juga menggali cerita dari lingkungan dan pengalaman sehari-hari untuk dituangkan menjadi karya.

Baca Juga: Pemkab Kapuas Hulu Gandeng Balai Bahasa Kalbar, Tertibkan Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik

Ketua penyelenggara, Dimas Saputra, bersama Rahma Anggit Khairunnisa yang merupakan Duta Bahasa Terbaik I Provinsi Kalimantan Barat, mengatakan program tersebut merupakan bentuk pengabdian Duta Bahasa Kalimantan Barat kepada masyarakat.

“Program ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengar dan setiap sudut Sungai Kapuas menyimpan kekayaan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Dimas.

Para peserta menjalani pendampingan menulis kreatif selama satu bulan dengan total 10 kali pertemuan. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari eksplorasi ide, penyusunan kerangka cerita, penggalian informasi dari narasumber, penulisan naskah, pembuatan ilustrasi, pendampingan ahli bahasa, penyuntingan, hingga sulih suara.

Kepala Perpustakaan Bahagia Mendawai Kampung Caping, Sinta Devianti, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan literasi anak sekaligus membangun kedekatan antara kegiatan literasi dengan kehidupan masyarakat setempat.

Baca Juga: Balai Bahasa Kalbar Gelar Pendampingan Pembangunan ZI-WBK Bersama BPMP Kalbar

Menurut dia, lingkungan tempat anak-anak tumbuh dapat menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi dalam menghasilkan karya. Dengan demikian, kegiatan literasi tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mendorong anak mengenali lingkungan dan budaya di sekitarnya.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat Uniawati, mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan program, mulai dari orang tua peserta, pengelola Kampung Caping, Perpustakaan Bahagia Mendawai, komunitas literasi, hingga alumni Duta Bahasa Kalimantan Barat.

Uniawati menilai Kampung Caping memiliki kekayaan cerita dan budaya yang potensial dikembangkan menjadi karya literasi. Menurutnya, pengalaman anak-anak yang tumbuh di kawasan pesisir merupakan keunggulan yang dapat menjadi sumber cerita.

“Kalian punya keunggulan karena hidup di pesisir. Ada banyak hal yang bisa diceritakan dari lingkungan masyarakat yang tumbuh di alam seperti ini, yang tidak dialami oleh teman-teman kalian di komunitas masyarakat lainnya,” katanya. 

Cerita anak-anak pesisir Sungai Kapuas kini tidak hanya berhenti sebagai pengalaman pribadi. Cerita tersebut dihimpun menjadi karya yang dapat dibaca, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Salah satu penulis cilik, Muhammad Rizieq Abizar, mengaku senang mengikuti program tersebut. Ia juga meraih piala kategori Kapuas Penulis Cilik Sulih Suara Terbaik dalam Festival Literasi Kapuas “Riak Bertutur”.

Baca Juga: Balai Bahasa Kalbar Pantau Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik

Bagi Rizieq dan peserta lainnya, program tersebut menjadi ruang untuk belajar mengolah pengalaman menjadi cerita. " Saya sangat senang sekali dapat piala sebagai Penulis Cilik Sulih Suara Terbaik, "pungkasnya. (wan)

Editor : Miftahul Khair
festival literasi kapuas riak bertutur Kampung Caping Balai Bahasa