PONTIANAK POST — Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat Heri Mustamin mendorong perusahaan perkebunan membangun embung sebagai sumber air cadangan untuk mempercepat penanganan karhutla Kalbar. Embung dinilai penting agar sumber air tersedia ketika api muncul di tengah musim kemarau.
Heri mengatakan karhutla merupakan ancaman yang berulang setiap tahun. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api meluas.
“Kalau kita cerita karhutla ini sebenarnya bukan kejadian satu kali, dua kali. Setiap tahun, bahkan hampir satu tahun itu beberapa kali, maka perlu langkah konkret untuk antisipasinya,” kata Heri di Pontianak, Senin (10/8).
Baca Juga: Polres Kubu Raya Bersihkan Saluran Air ke Embung, Antisipasi Karhutla Saat Musim Kemarau 2026
Embung Disiapkan Sebelum Musim Kemarau
Menurut Heri, penyediaan tampungan air perlu dilakukan karena kebakaran hutan dan lahan berulang ketika memasuki musim kemarau.
Ia mendorong setiap perkebunan kelapa sawit, baik yang dikelola perusahaan maupun masyarakat, memiliki embung atau tampungan air untuk pemadaman awal.
Embung dapat dibuat dalam bentuk waduk berukuran kecil. Tampungan tersebut diisi ketika musim hujan sehingga cadangan air tetap tersedia saat kemarau.
“Pada saat kemarau air ini masih bisa digunakan. Sehingga apabila terjadinya api kecil, perkebunan-perkebunan itu sudah tidak lagi sulit untuk mendapatkan air untuk menyiram,” tuturnya.
Sejauh ini, belum ada angka resmi tentang jumlah seluruh embung/sumber air di kawasan perkebunan Kalbar, maupun jumlah kawasan rawan karhutla yang belum memiliki sumber air cadangan.
Namun, ada data beberapa data konkret yang bisa dipakai sebagai pembanding. Sinar Mas Agribusiness and Food pada 2023 menyebut memiliki 172 embung air bersama sarana karhutla lainnya yang tersebar di berbagai area perkebunannya.
Dalam konteks Kalbar, perusahaan itu juga memberikan sarana pemadaman di enam kecamatan, yakni empat di Ketapang dan dua di Kapuas Hulu.
Sejumlah pemda juga sudah beberapa kali menekankan pentingnya pembangunan embung guna memastikan ketersediaan sumber air yang dapat diakses untuk penanganan dini karhutla.
Urgensinya cukup besar mengingat tingginya kasus karhutla di Kalbar setiap tahun. BNPB mencatat luas lahan terbakar di Kalbar mencapai 28.680,47 hektare hingga 25 Juli 2026.
Di sisi lain, BPBD Kalbar, kepolisian, manggala agni dan tim penanggulangan di lapangan juga sering mengeluhkan sulitnya mendapatkan sumber air untuk pemadaman.
Parit dan Saluran Air Perlu Dinormalisasi
Heri tidak hanya mendorong pembangunan embung. Saluran air dan parit di kawasan perkebunan juga perlu dinormalisasi agar mampu menampung air secara optimal.
Saluran tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air ketika terjadi kebakaran di sekitar kawasan perkebunan.
Ketersediaan sumber air di dekat lokasi rawan kebakaran dinilai dapat mempercepat respons awal. Langkah tersebut juga diharapkan mengurangi risiko api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Kebutuhan sumber air cadangan menjadi semakin penting karena BMKG memperkirakan curah hujan di Kalbar mulai menurun sejak Mei 2026, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.
Penurunan tersebut diprakirakan berlanjut hingga puncak musim kemarau pada Agustus-September sebelum curah hujan kembali meningkat pada Oktober.
BMKG menegaskan bahwa istilah kemarau tidak berarti wilayah sama sekali tidak mengalami hujan. Kemarau merupakan kondisi ketika curah hujan berada di bawah ambang batas klimatologis.
Kondisi tersebut membuat kesiapan sumber air di kawasan perkebunan menjadi penting. Ketika hujan berkurang dan kondisi lahan semakin kering, ketersediaan embung, parit, dan tampungan air di dekat lokasi rawan dapat mempercepat penanganan ketika api mulai muncul.
Kesiapsiagaan Dimulai Sebelum Api Muncul
Heri meminta pemerintah, perusahaan, dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan sejak awal musim kemarau.
Pengawasan terhadap kawasan yang mudah terbakar juga perlu diperkuat untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin.
Menurut dia, pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihindari. Percikan api dapat terbawa angin dan menyulut vegetasi kering di sekitarnya.
“Kalau sudah masuk musim kemarau ini semuanya sudah harus siaga. Kejadian ini bukan satu kali saja. Setiap ada kemarau, kebakaran hutan juga terjadi,” katanya.
Baca Juga: Sulitnya Sumber Air Hambat Pemadaman Karhutla di Kubu Raya
Perubahan Kondisi Lahan Meningkatkan Risiko Karhutla
Heri mengatakan perubahan kondisi tutupan vegetasi dan kelembapan lahan membuat sejumlah kawasan hutan dan perkebunan semakin rentan terbakar ketika musim kemarau.
Karena itu, langkah antisipasi perlu dilakukan sebelum kondisi lahan semakin kering. Usulan pembangunan embung menempatkan ketersediaan air sebagai salah satu bagian penting dalam pencegahan karhutla di tingkat tapak.
Sumber air yang tersedia di sekitar kawasan perkebunan memungkinkan penanganan dilakukan ketika api masih kecil, sebelum berkembang dan menyulitkan proses pemadaman.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara