BNPB Siagakan Operasi Darat dan Modifikasi Cuaca Hadapi Karhutla Kalbar

Uray Ronald • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 22:59 WIB
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. (Antara)
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. (Antara)

 

PONTIANAK POST - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiagakan pasukan operasi darat dan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Kesiapsiagaan diperkuat karena kondisi El Nino berpotensi memicu kekeringan dan cuaca panas ekstrem.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan Kalimantan Barat menjadi salah satu dari enam provinsi prioritas yang berada dalam status siaga darurat karhutla.

“OMC sudah dilakukan di enam provinsi prioritas dan provinsi-provinsi lain. Enam provinsi siaga darurat itu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi,” kata Suharyanto di Jakarta, Senin (10/8).

Baca Juga: Menkopolkam Desak Kalbar dan Kalteng Hentikan Izin Bakar Lahan Berbasis Kearifan Lokal

OMC di Kalbar Bergantung Awan Hujan

BNPB telah menyiagakan pesawat untuk mendukung pelaksanaan OMC di wilayah prioritas, termasuk Kalimantan Barat. Namun, operasi tersebut bergantung pada keberadaan awan yang memungkinkan dilakukan modifikasi cuaca.

Suharyanto mengatakan BMKG memprediksi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang hingga akhir Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan pelaksanaan OMC.

“Tadi, dari BMKG mengatakan mudah-mudahan nanti sebelum tanggal 18 ada. Nah, setiap ada pertumbuhan awan hujan, kita akan segera laksanakan OMC. Pesawatnya sudah siaga terus di daerah,” ujarnya.

Menurut Suharyanto, ketika cuaca sangat panas dan tidak terdapat awan hujan, operasi darat menjadi lebih efektif untuk mencegah hingga memadamkan karhutla.

Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Pontianak, Sekolah Beralih Daring

Pasukan Darat Jadi Andalan

Suharyanto menjelaskan operasi udara melalui water bombing tetap diperlukan untuk membantu penanganan karhutla. Namun, kemampuan pemadaman udara memiliki keterbatasan, terutama ketika menghadapi kebakaran di lahan gambut.

“Operasi udara itu hanya membantu, water bombing itu hanya mengangkut air empat ton. Nah, kalau tiga water bombing bekerja sama-sama, berarti air yang dijatuhkan ke api hanya 12 ton,” paparnya.

Menurutnya, volume tersebut belum cukup untuk memastikan api di lahan gambut benar-benar padam. Pasukan darat tetap diperlukan untuk melanjutkan pemadaman hingga bara di bawah permukaan benar-benar hilang.

“Itu kalau lahan gambut, paling bisa memadamkan 10 meter persegi, dan itu tidak padam total karena kan masih menyala, jadi harus terus disemprot oleh pasukan darat,” katanya.

Kondisi tersebut membuat kesiapan pasukan darat di Kalimantan Barat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. BNPB meminta pemerintah daerah memastikan personel dan sumber daya pemadaman siap bergerak ketika kebakaran terjadi.

“Jadi tetap semuanya harus siap-siaga pasukan darat. Seandainya nanti ada kebakaran, upayakan lewat pasukan darat karena helikopter BNPB banyak fokusnya di enam provinsi prioritas,” tuturnya.

Baca Juga: BNPB Tambah Dua Helikopter Water Bombing ke Kalbar, Perkuat Operasi Udara Cegah Karhutla

BNPB Siapkan Helikopter Cadangan

BNPB juga menyiapkan tiga helikopter cadangan yang dapat digerakkan ke wilayah yang membutuhkan dukungan penanganan karhutla.

“Kita masih punya cadangan tiga helikopter yang bisa bergerak ke mana-mana, seperti (karhutla) di Bromo kan kita kerahkan tiga heli, dan langsung bisa mengatasi dari 34 titik, tinggal dua titik,” katanya.

Bagi Kalimantan Barat, kesiapan operasi darat menjadi penting ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC. Pemadaman sejak api ditemukan diharapkan dapat mencegah kebakaran meluas dan mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
karhutla kalimantan barat BNPB Kalimantan Barat El Nino Kalbar OMC Kalimantan Barat operasi darat karhutla