Kemarau Menguat di Kalbar, BMKG Catat 1.483 Hotspot dan Ingatkan Ancaman Karhutla Meluas

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:33 WIB
Upaya pemadaman karhutla di Kota Singkawang beberapa waktu lalu.
Upaya pemadaman karhutla di Kota Singkawang beberapa waktu lalu.

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan seiring rendahnya curah hujan pada periode 10-16 Agustus 2026. BMKG memprakirakan curah hujan pada Dasarian II Agustus berada di kisaran 0-20 milimeter per dasarian dengan sifat hujan umumnya di bawah normal.

Kondisi tersebut diperparah dengan terdeteksinya 1.483 titik panas (hotspot) dalam pemantauan 24 jam terakhir. Cuaca yang relatif panas dan minim hujan meningkatkan potensi lahan mudah terbakar, sementara kabut asap juga mulai menurunkan jarak pandang di sejumlah wilayah.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Reny mengingatkan, masyarakat agar mewaspadai meningkatnya potensi karhutla selama sepekan ke depan. Menurutnya, kondisi cuaca di Kalbar membuat sejumlah wilayah berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.

Baca Juga: El Nino, Pemprov Kalbar Minta Warga Setop Bakar Lahan

"Berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar," jelas Reny, Senin (10/8/2026).

Berdasarkan prakiraan Stasiun Klimatologi Kalbar, curah hujan pada Dasarian II atau periode 11-20 Agustus 2026 diprediksi masih berada pada kategori rendah. Kondisinya relatif sama dengan dasarian sebelumnya, ketika curah hujan pada 1-10 Agustus berada di kisaran 0-50 milimeter per dasarian.

Monitoring hari tanpa hujan (HTH) hingga 10 Agustus juga menunjukkan sebagian wilayah Kalbar telah mengalami periode tanpa hujan selama beberapa hari hingga puluhan hari. HTH terpanjang mencapai 42 hari dan terjadi di Kabupaten Ketapang, tepatnya Kecamatan Muara Pawan, Sungai Besar, dan Nanga Tayap.

Pada Selasa (11/8), cuaca di sebagian besar wilayah Kalbar diprakirakan cerah berawan. Kondisi tersebut berpotensi membuat suhu udara meningkat dan kelembapan menurun sehingga risiko kebakaran lahan perlu diantisipasi.

Baca Juga: Di Tengah Kemarau Panjang, Ratusan Warga Ketapang Lintas Agama Berdoa Bersama Minta Hujan

Data BMKG Kalbar berdasarkan pengamatan sembilan lokasi pada 9-10 Agustus menunjukkan suhu maksimum tertinggi mencapai 35,3 derajat Celsius di Sambas. Suhu udara rata-rata berada pada kisaran 26,4 hingga 28,7 derajat Celsius, sedangkan suhu minimum terendah tercatat 21,3 derajat Celsius di Sintang.

Selain ancaman kebakaran, kualitas udara di sejumlah wilayah juga menjadi perhatian. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, mengatakan hasil pemantauan AQMS Pontianak Tenggara menunjukkan kualitas udara Kota Pontianak dalam 24 jam terakhir berada pada kondisi yang berubah-ubah, tetapi sempat masuk kategori tidak sehat.

“Berdasarkan pemantau kualitas udara di Pontianak Tenggara hingga pukul 8.30 kemarin, kondisi udara memang berubah-ubah namun masuk dalam kategori tidak sehat,” ungkap Usmulyono, Senin (10/8).

Baca Juga: Kabut Asap Mulai Selimuti Kayong Utara akibat Karhutla, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar

Menurutnya, konsentrasi PM2.5 sempat mencapai 106 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat sehingga masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta warga dengan riwayat asma atau gangguan pernapasan, diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus keluar rumah.

Ancaman karhutla juga mendapat perhatian dari Polda Kalbar. Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengajak masyarakat tidak menunggu api membesar untuk melaporkan titik panas maupun kepulan asap.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan bersama-sama menjaga lingkungan. Jika menemukan titik api atau kepulan asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani dengan cepat sebelum meluas,” ujar Bambang.

Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan indikasi kebakaran kepada petugas. Masyarakat dapat menghubungi Call Center 110 Polda Kalbar atau kepolisian terdekat apabila menemukan titik api maupun membutuhkan bantuan.

Sementara itu, BMKG mencatat jarak pandang di bawah 1.000 meter terjadi di Kota Pontianak, Ketapang, dan Kubu Raya akibat kabut. Kondisi ini menunjukkan kombinasi minim hujan, potensi kebakaran, dan kabut asap perlu diantisipasi secara bersama agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih luas bagi kesehatan maupun aktivitas masyarakat. (mrd/bar/iza)

Editor : Hanif
Potensi Karhutla Hotspot karhutla Kemarau kabut asap