Kabut Asap Kalbar Pengaruhi Distribusi MBG, SPPG Sesuaikan Produksi hingga Alihkan Makanan

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:09 WIB
ILUSTRASI: Petugas menyiapkan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk didistribusikan kepada pelajar di Kalbar. (ANTARA)
ILUSTRASI: Petugas menyiapkan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk didistribusikan kepada pelajar di Kalbar. (ANTARA)

PONTIANAK POST - Kabut asap di Kalimantan Barat tidak hanya membuat aktivitas belajar mengajar berubah menjadi daring. Ia juga berdampak pada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Regional Makan Bergizi Gratis (MBG) Kalimantan Barat, Agus Kurniawan, mengatakan SPPG diliburkan mengikuti kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Barat yang mengalihkan sementara pembelajaran tatap muka menjadi daring pada 11-14 Agustus 2026.

“Kebijakan kami liburkan untuk SPPG berdasarkan edaran dari Dinas Pendidikan karena sekolah libur dan aktivitas belajar dilakukan secara daring,” kata Agus di Pontianak, kemarin.

Baca Juga: Asap Karhutla Makin Parah, Siswa SMA/SMK/SLB se-Kalbar Terapkan Belajar Online

Sekolah Daring, Distribusi MBG Ikut Disesuaikan

Menurut Agus, kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada SPPG yang mendistribusikan makanan ke jenjang SMA, SMK, dan SLB, tetapi juga layanan yang menjangkau sekolah dasar. Pengalihan pembelajaran akibat kabut asap berlaku dari jenjang SD hingga SMA.

“Edaran ini juga berlaku untuk SPPG yang mendistribusikan makanan hingga ke tingkat jenjang sekolah dasar, libur sekolah karena kabut asap itu juga dari SMA hingga ke SD,” ujarnya.

Agus mengatakan belum ada batas waktu khusus mengenai peliburan SPPG. Operasional akan kembali berjalan setelah kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali normal berdasarkan kebijakan Dinas Pendidikan.

“Kapan berakhir edaran sampai aktivitas belajar kembali berjalan secara normal berdasarkan edaran dari Dinas Pendidikan,” katanya.

Baca Juga: DPRD Kalbar Dorong Perusahaan Bangun Embung Antisipasi Karhutla

Tidak Semua Sekolah Berhenti Tatap Muka

Meski kebijakan pembelajaran daring diberlakukan, SPPG tetap melakukan koordinasi dengan satuan pendidikan yang masih menjalankan kegiatan belajar tatap muka.

Jika terdapat sekolah yang masih menerima siswa secara langsung, jumlah makanan yang diproduksi akan disesuaikan dengan peserta didik yang hadir.

Penyesuaian tersebut dilakukan karena kondisi setiap sekolah dapat berbeda setelah adanya kebijakan pengalihan pembelajaran akibat kabut asap.

Dengan menyesuaikan jumlah produksi, distribusi makanan dapat mengikuti jumlah siswa yang masih menjalani pembelajaran secara langsung.

Agus menjelaskan keputusan meliburkan SPPG dilakukan mengikuti kondisi kabut asap yang dinilai cukup parah dan dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan peserta didik.

“Kondisi ini diliburkan karena kabut asap yang parah takutnya berdampak sehingga sekolah diliburkan sehingga kami mengikuti kebijakan itu,” ujarnya.

Makanan yang Sudah Diproduksi Dialihkan

Perubahan kebijakan sekolah juga sempat terjadi setelah sejumlah SPPG menyelesaikan produksi makanan pada Senin (10/8).

Menurut Agus, saat itu SPPG baru mendapatkan informasi mengenai libur sekolah akibat kabut asap sehingga makanan yang sudah telanjur diproduksi harus segera disesuaikan penyalurannya.

Makanan tersebut tidak dibiarkan menumpuk. SPPG mengalihkan distribusinya ke sejumlah tempat, termasuk pesantren.

“Ini dilakukan karena SPPG juga baru mendapatkan informasi terkait libur akibat kabut asap, sehingga agar tidak ada penumpukkan makanan dan pemborosan makanan didistribusikan ke beberapa tempat, termasuk pesantren,” ujar Agus.

Operasional Menunggu Sekolah Kembali Normal

Dengan kebijakan pembelajaran daring yang berlaku sementara, operasional SPPG di Kalimantan Barat masih mengikuti perkembangan aktivitas sekolah.

SPPG yang melayani sekolah dengan pembelajaran tatap muka tetap melakukan penyesuaian jumlah produksi berdasarkan peserta didik yang hadir.

Sementara itu, SPPG yang terdampak langsung oleh penghentian pembelajaran tatap muka diliburkan hingga kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal sesuai kebijakan Dinas Pendidikan.

Dalam kondisi tersebut, perubahan pola belajar siswa turut mengubah pola produksi dan distribusi makanan MBG, sementara makanan yang sudah telanjur diproduksi dialihkan ke tempat lain agar tidak terjadi penumpukan dan pemborosan.

Editor : Miftahul Khair
Mbg Belajar Daring karhutla