Untan Dampingi Kelompok Rajati Optimalkan Produksi Ternak Kambing hingga Olahan Bernilai Ekonomi

Hanif • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:28 WIB
Tim Pengabdian Universitas Tanjungpura menyerahkan mesin pencacah hijauan kepada Kelompok Rajati sebagai dukungan peningkatan produksi silase dan ketersediaan pakan ternak di Desa Rasau Jaya III, Kabupaten Kubu Raya.
Tim Pengabdian Universitas Tanjungpura menyerahkan mesin pencacah hijauan kepada Kelompok Rajati sebagai dukungan peningkatan produksi silase dan ketersediaan pakan ternak di Desa Rasau Jaya III, Kabupaten Kubu Raya.

PONTIANAK POST - Di tengah geliat sektor peternakan rakyat yang terus berupaya bangkit dari keterbatasan teknis dan modal, sebuah langkah nyata datang dari Kelompok Rajati, kelompok peternak kambing yang selama ini menggantungkan sebagian penghidupannya pada usaha ternak skala kecil.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dari Universitas Tanjungpura hadir membawa pendekatan yang tidak hanya menyentuh aspek teknis budi daya, tetapi juga merancang ulang bagaimana sebuah siklus produksi ternak kambing dapat dioptimalkan dari hulu hingga hilir, diawali dari perkawinan yang terencana, pengelolaan pakan yang berkelanjutan, hingga pengolahan produk bernilai tambah.

Tim Pengabdian Universitas Tanjungpura bersama Kelompok Rajati usai pelatihan optimalisasi breeding kambing, pembuatan silase, dan diversifikasi produk olahan di Desa Rasau Jaya III, Kabupaten Kubu Raya.
Tim Pengabdian Universitas Tanjungpura bersama Kelompok Rajati usai pelatihan optimalisasi breeding kambing, pembuatan silase, dan diversifikasi produk olahan di Desa Rasau Jaya III, Kabupaten Kubu Raya.

 

Kegiatan ini merupakan wujud pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya darma pengabdian kepada masyarakat, yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara praktik peternakan tradisional yang selama ini dijalankan warga dengan prinsip-prinsip good breeding practices dan teknologi pengolahan pakan serta pangan yang telah teruji secara ilmiah.

Tim pelaksana yang terdiri dari kolaborasi tiga bidang ilmu, yaitu Peternakan, MIPA (Biologi), serta Ilmu dan Teknologi Pangan, menilai bahwa Kelompok Rajati memiliki potensi besar untuk berkembang, asalkan tiga persoalan mendasar dapat diatasi secara sistematis.

Persoalan pertama menyangkut manajemen perkawinan yang selama ini berjalan tanpa perencanaan matang. Perkawinan yang dibiarkan terjadi secara alami tanpa pencatatan silsilah berisiko menimbulkan perkawinan sedarah (inbreeding) yang berdampak pada menurunnya kualitas genetik anak kambing dari generasi ke generasi.

Persoalan kedua adalah ketersediaan pakan hijauan yang berfluktuasi mengikuti musim, sehingga pada musim kemarau peternak kerap kesulitan memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.

Persoalan ketiga adalah minimnya diversifikasi produk olahan, sehingga hasil ternak umumnya hanya dijual dalam bentuk kambing hidup dengan nilai jual yang relatif rendah dibandingkan potensi sesungguhnya.

Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian menyelenggarakan penyuluhan manajemen perkawinan kambing yang diikuti oleh seluruh anggota Kelompok Rajati.

Materi yang disampaikan oleh Dr. Yuli Arif Tribudi, S.Pt., M.P. mencakup penentuan umur dan bobot badan ideal kambing untuk dikawinkan pertama kali, rasio ideal pejantan terhadap betina dalam satu kelompok kandang, cara mengenali tanda-tanda birahi (estrus) yang tepat, hingga pentingnya sistem pencatatan (recording) silsilah sebagai dasar seleksi bibit unggul.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip good breeding practices yang menempatkan keterlacakan genetik sebagai fondasi peningkatan mutu ternak secara berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung interaktif sepanjang sesi penyuluhan. Sejumlah peternak mengajukan pertanyaan seputar tantangan yang selama ini mereka hadapi di lapangan, mulai dari cara mengenali indukan yang siap kawin hingga strategi mencegah perkawinan antarkerabat dalam populasi kambing yang jumlahnya masih terbatas.

Tim pengabdian merespons dengan memberikan panduan praktis yang dapat langsung diterapkan, termasuk rekomendasi sederhana untuk memulai pencatatan silsilah menggunakan metode yang mudah diakses oleh peternak dengan latar belakang pendidikan formal yang beragam.

Kegiatan kedua difokuskan pada pembuatan silase, sebuah teknologi pengawetan pakan hijauan melalui proses fermentasi anaerob.

Dalam pelatihan ini, peserta diajak mempraktikkan langsung tahapan pembuatan silase, mulai dari pencacahan bahan baku hijauan dan limbah pertanian, pemberian bahan aditif sebagai sumber energi bagi bakteri asam laktat, pemadatan bahan ke dalam wadah kedap udara, hingga proses penyimpanan selama periode fermentasi berlangsung.

Teknologi ini dipilih karena kemampuannya menjaga kualitas nutrisi pakan dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan hijauan segar.

Menurut Ibu Dr. Dwi Gusmalawati, lebih dari sekadar solusi teknis, pembuatan silase membuka peluang bagi transformasi limbah pertanian yang selama ini terbuang percuma menjadi sumber pakan bernilai gizi tinggi.

Jerami padi, batang jagung, dan sisa hasil panen lain yang biasanya dibiarkan membusuk di lahan kini dapat diolah menjadi cadangan pakan yang mampu menopang kebutuhan ternak sepanjang musim kemarau.

Pendekatan ini mencerminkan prinsip ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga peternak, di mana limbah satu sektor pertanian menjadi input bernilai bagi sektor peternakan.

Kegiatan ketiga menyasar hilirisasi produk melalui pelatihan pembuatan sosis daging kambing.

Peserta dibimbing memahami teknik pemilihan bagian daging yang sesuai, formulasi bumbu, proses pengisian ke dalam casing, teknik perebusan atau pengukusan yang tepat, hingga aspek keamanan pangan dan pengemasan produk akhir.

Pengolahan daging kambing menjadi sosis dipilih sebagai strategi diversifikasi karena mampu meningkatkan nilai jual produk, sekaligus memperluas segmen pasar seperti anak-anak yang dapat dijangkau oleh Kelompok Rajati, tambah Dr. Oke Anandika Lestari.

Ketiga kegiatan tersebut sejatinya dirancang bukan sebagai program yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai satu rangkaian siklus produksi yang saling menopang.

Perbaikan manajemen perkawinan di hulu memastikan kualitas genetik ternak yang dihasilkan semakin baik dari waktu ke waktu; ketersediaan silase menjamin kecukupan pakan sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim; sementara diversifikasi produk olahan di hilir membuka jalan bagi peningkatan nilai ekonomis hasil ternak.

Tim pengabdian berharap sinergi ketiga aspek ini mampu mendorong Kelompok Rajati bertransformasi dari peternak subsisten menjadi pelaku usaha ternak yang lebih berdaya saing.

Program ini dapat meningkatkan produksi sekaligus nilai ekonomi dan dapat direplikasi oleh kelompok-kelompok peternak lain di wilayah Kalimantan Barat yang menghadapi tantangan serupa, tutur Bapak Arisyanto selaku Ketua Kelompok Rajati.

Tim pengabdian dari Universitas Tanjungpura menyampaikan komitmennya untuk terus melakukan pendampingan lanjutan, sekaligus mengapresiasi dukungan dari Pemerintah Desa Rasau Jaya III dan seluruh anggota Kelompok Rajati yang telah berpartisipasi aktif.

Melalui kolaborasi berkelanjutan antara dunia akademik dan masyarakat, optimalisasi siklus produksi ternak kambing ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi fondasi bagi peningkatan kesejahteraan peternak secara nyata dan berkelanjutan.

Editor : Hanif
breeding Ekonomi untan peternak Ternak Kambing