PONTIANAK POST – Kalimantan Barat (Kalbar) menghadapi ancaman kekeringan dalam beberapa bulan ke depan. Stasiun Klimatologi BMKG Kalimantan Barat menyebut peluang El Nino mencapai level sangat kuat pada periode Agustus hingga Oktober 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat, Bernadus Daniel, mengatakan fenomena El Nino dapat memengaruhi durasi, intensitas, dan frekuensi hujan di wilayah Kalbar.
“El Nino memengaruhi durasi, intensitas, dan frekuensi terjadinya hujan, namun dampaknya pada durasi kejadian ekstrem seperti lamanya rentetan hari kering dan berkurangnya curah hujan kumulatif terbukti lebih signifikan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (10/8).
Berdasarkan data historis kejadian El Nino, jelas dia, hampir di seluruh wilayah Kalbar pada periode bulan Juni hingga November mengalami kekeringan secara konsisten. Begitu juga dengan intensitas hujan yang secara signifikan berkurang hingga di bawah 40 persen pada periode yang sama.
Baca Juga: Kemarau Menguat di Kalbar, BMKG Catat 1.483 Hotspot dan Ingatkan Ancaman Karhutla Meluas
Lebih jauh ini menyebutkan kajian historis lainnya menunjukkan adanya kondisi El Nino dan IOD (Indian Ocean Dipole) yang dapat menyebabkan kekeringan meluas seperti terjadi pada tahun 2019. Hal ini menyebabkan suplai masa udara di wilayah Kalbar berkurang siginfikan, sehingga kondisi tersebut lebih parah jika dibandingkan dengan saat kejadian El Nino saja.
“Analisis kondisi curah hujan pada bulan Juli 2026 secara umum berkisar antara 0-200 mm/bulan dengan kategori Rendah hingga Menengah,” sebutnya.
Curah hujan kategori rendah terjadi di sebagian wilayah Bengkayang, Kapuas Hulu, Kayong Utara, Ketapang, Kubu Raya, Landak, Melawi, Mempawah, Sambas, Sanggau, Sekadau, Singkawang, dan Sintang. Monitoring hari tanpa hujan kategori Sangat Panjang atau lebih dari 30 hari berturut-turut tidak terjadi hujan, berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kayong Utara, Ketapang, Kubu Raya, dan Melawi.
Di sisi lain, kondisi Kualitas Udara dengan konsentrasi PM2,5 menyentuh kategori tidak Sehat hingga berbahaya dalam beberapa hari terakhir.
“Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus pada sebagian besar wilayah di Kalimantan Barat, serta bulan September pada sebagian wilayah seperti Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, dan Melawi,” sebutnya.
Pihaknya memprediksi bahwa curah hujan dalam tiga dasarian atau 30 hari ke depan secara umum diprediksi dalam kategori rendah, dengan sifat hujan secara umum bawah normal. Kondisi curah hujan rendah, dengan sifat hujan bawah normal diprediksi berlanjut hingga Bulan September 2026 pada sebagian besar wilayah Kalimantan Barat, serta hingga bulan Oktober 2026 pada sebagian wilayah Kabupaten Ketapang. (sti)
Editor : Hanif