PONTIANAK POST– Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih menyusul meningkatnya intrusi air laut ke Sungai Kapuas akibat musim kemarau.
Kondisi tersebut berdampak pada kualitas air baku yang digunakan sejumlah Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) di Pontianak. Kadar garam air Sungai Kapuas meningkat terutama saat air laut pasang pada malam hingga dini hari.
“Warga untuk berhemat dalam menggunakan air bersih karena dampak kemarau yang melanda,” kata Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Selasa (11/8).
Kadar Garam Sungai Kapuas Meningkat
Edi menjelaskan, sumber air baku Perumda Air Minum di Pontianak masih mengandalkan Sungai Kapuas.
Menurut dia, peningkatan kadar garam terjadi terutama sekitar pukul 21.00 WIB hingga 04.00 WIB ketika air laut mengalami pasang.
Kondisi tersebut juga dipengaruhi minimnya hujan di wilayah hulu. Debit aliran Sungai Kapuas yang mengecil membuat air laut lebih mudah masuk ke aliran sungai.
“Kadar garam tertinggi tercatat di instalasi pengolahan air di Nipah Kuning yang mencapai sekitar 2.903 miligram per liter. Sementara itu, kadar garam di Imam Bonjol telah berada di atas 700 miligram per liter, Selat Panjang sekitar 1.100 miligram per liter, sedangkan Parit Mayor masih berada pada kisaran 400 hingga 600 miligram per liter,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan air baku membutuhkan penyesuaian agar air tetap dapat digunakan sesuai peruntukannya.
Baca Juga: Warga Pontianak Diimbau Hemat Air, Kemarau Panjang Ancam Pasokan Air Baku PDAM
Air Payau Masih Bisa Diolah
Edi mengatakan air hasil pengolahan masih dapat digunakan sesuai peruntukannya dengan memperhatikan kadar garam.
Menurut dia, kadar garam sekitar 600 miligram per liter masih diperuntukkan bagi kebutuhan mencuci dan mandi. Sementara untuk air minum, batasnya sekitar 300 miligram per liter.
“Untuk mengimbangi supaya di Nipah Kuning tidak terlalu asin, dari Imam Bonjol disuplai untuk dicampur. Tetapi kondisi air saat ini masih payau,” ujarnya.
Upaya pencampuran tersebut dilakukan untuk mengimbangi kadar garam air baku yang tinggi di salah satu instalasi pengolahan air.
Kemarau Diperkirakan hingga Pertengahan September
Kondisi intrusi air laut terjadi ketika kemarau menyebabkan debit Sungai Kapuas berkurang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi kemarau dapat berlangsung hingga pertengahan September.
Periode kemarau yang cukup panjang membuat pemerintah perlu melakukan langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan dan kualitas air bersih.
“Kami meminta masyarakat menggunakan air bersih secara bijak dan memprioritaskan kebutuhan utama, terutama untuk konsumsi. Penghematan ini penting mengingat kondisi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan,” kata Edi.
Imbauan tersebut ditujukan agar penggunaan air dapat dikendalikan selama kondisi air baku Sungai Kapuas terdampak intrusi air laut.
Baca Juga: Krisantus: Sudah Ancam Ekonomi Kalbar, Pengerukan Sungai Kapuas Tak Bisa Ditunda Lagi
Pemkot Pontianak Berharap Hujan Buatan
Selain mengimbau masyarakat menghemat air, Pemerintah Kota Pontianak berharap pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat mempertimbangkan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan debit Sungai Kapuas sehingga tekanan aliran sungai kembali menguat dan dampak intrusi air laut dapat dikurangi.
“Kita berharap pemerintah, dalam hal ini BNPB, dapat melakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan jika memungkinkan, sehingga hujan dapat turun di sekitar wilayah kota, terutama Kota Pontianak,” ujar Edi.
Untuk sementara, pemerintah mengandalkan penghematan penggunaan air oleh masyarakat dan pengelolaan air baku di instalasi pengolahan guna menghadapi kondisi kemarau dan meningkatnya kadar garam Sungai Kapuas.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara