PONTIANAK POST – Fenomena El Nino diperkirakan menguat hingga level sangat kuat pada Agustus-Oktober 2026 dan membuat Kalimantan Barat menghadapi ancaman kekeringan berkepanjangan. Kondisi ini ditandai curah hujan rendah, hari tanpa hujan yang mencapai lebih dari 30 hari di sejumlah wilayah, serta puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus.
Kepala Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat, Bernadus Daniel, mengatakan kondisi tersebut berpotensi memengaruhi durasi, intensitas, dan frekuensi hujan. Berdasarkan prakiraan BMKG, curah hujan rendah dengan sifat hujan bawah normal diperkirakan masih berlangsung hingga September di sebagian besar Kalbar dan bahkan sampai Oktober di sebagian wilayah Kabupaten Ketapang.
“BMKG memprediksi peluang intensitas El Nino mencapai level sangat kuat pada periode Agustus-Oktober 2026,” kata Bernadus dalam keterangan tertulis, Senin (10/8) malam.
Baca Juga: Kalbar Terancam Kemarau Berkepanjangan, BMKG Sebut El Nino Sangat Kuat Tingkatkan Risiko Karhutla
Data BMKG menunjukkan curah hujan Kalbar pada Juli 2026 secara umum hanya berkisar 0-200 milimeter per bulan dengan kategori rendah hingga menengah. Memasuki dasarian pertama Agustus, kondisi curah hujan masih rendah dengan sifat hujan bawah normal.
Wilayah dengan curah hujan rendah tersebar di sebagian Bengkayang, Kapuas Hulu, Kayong Utara, Ketapang, Kubu Raya, Landak, Melawi, Mempawah, Sambas, Sanggau, Sekadau, Singkawang, dan Sintang.
Kondisi lebih ekstrem terpantau di sejumlah wilayah yang mengalami hari tanpa hujan sangat panjang. BMKG mencatat periode lebih dari 30 hari berturut-turut tanpa hujan berpotensi terjadi di sebagian Kayong Utara, Ketapang, Kubu Raya, dan Melawi.
Bernadus menjelaskan, El Nino tidak hanya mengurangi jumlah hujan, tetapi juga berpotensi memperpanjang periode kering. Berdasarkan kajian historis, hampir seluruh wilayah Kalbar pada Juni-November cenderung mengalami kekeringan ketika El Nino berlangsung, dengan intensitas hujan dapat berkurang lebih dari 40 persen.
Baca Juga: Kemarau Menguat di Kalbar, BMKG Catat 1.483 Hotspot dan Ingatkan Ancaman Karhutla Meluas
Situasi dapat menjadi lebih berat apabila El Nino bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Saat ini, indeks IOD tercatat +0,715 atau berada dalam kategori positif dan terdapat indikasi kondisi tersebut berlangsung mulai September hingga Desember 2026.
“Kajian historis menunjukkan kondisi El Nino dan IOD dapat menyebabkan kekeringan meluas seperti yang terjadi pada 2019,” ujarnya.
Menurut Bernadus, kombinasi kedua fenomena tersebut dapat mengurangi suplai massa udara ke Kalbar secara signifikan. Sementara anomali suhu muka laut di sekitar perairan Kalbar saat ini secara umum masih berada dalam kondisi netral.
Baca Juga: Ancaman Karhutla Meningkat di Kalbar, DPRD Desak Penindakan Tegas Pelaku Pembakaran Lahan
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus di sebagian besar wilayah Kalbar. Adapun Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, dan Melawi diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada September.
Dampak cuaca kering mulai terasa tidak hanya pada lingkungan dan kesehatan, tetapi juga aktivitas ekonomi masyarakat. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang muncul di sejumlah wilayah turut memengaruhi mobilitas warga dan aktivitas pekerja lapangan.
Salah satunya dirasakan pengemudi ojek daring. Sandora Sagita mengatakan peralihan pembelajaran sekolah menjadi daring ikut mengurangi permintaan layanan antar-jemput siswa yang sebelumnya menjadi salah satu sumber pesanan.
“Dampaknya bagi driver ojol terutama pada penurunan order antar-jemput siswa karena sekolah beralih daring,” ujar Sandora.
Selain penurunan pesanan, pengemudi juga menghadapi risiko kesehatan dan keselamatan ketika tetap bekerja di tengah kabut asap. Kondisi udara yang buruk dan jarak pandang yang berkurang membuat pemasukan menjadi lebih sulit diprediksi.
“Pengaruh terhadap pemasukan kurang stabil dikarenakan cuaca yang tidak sehat,” katanya.
BMKG juga mencatat konsentrasi PM2,5 di sejumlah wilayah Kalbar dalam beberapa hari terakhir telah mencapai kategori tidak sehat hingga berbahaya. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya potensi karhutla akibat cuaca panas dan minimnya hujan.
Sandora berharap penanganan karhutla dilakukan lebih cepat agar kondisi udara kembali membaik dan aktivitas masyarakat dapat berjalan normal.
“Kami berharap penanganan karhutla segera dilakukan dan keselamatan driver yang bekerja di lapangan juga menjadi perhatian,” ujarnya. (sti/mse)
Editor : Hanif