Debit Sungai Kapuas Menurun, Warga Pontianak Keluhkan Air PDAM Asin dan Ancaman Krisis Air Bersih

Mirza Ahmad Muin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 12:58 WIB
Warga kesusahan saat akan mengeluarkan sampan yang berada di lumpur Sungai Kapuas yang mengalami penyusutan dan air asin saat kemarau tiba. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
Warga kesusahan saat akan mengeluarkan sampan yang berada di lumpur Sungai Kapuas yang mengalami penyusutan dan air asin saat kemarau tiba. (HARYADI/PONTIANAKPOST)

PONTIANAK POST - Musim kemarau membuat debit Sungai Kapuas menurun dan memicu intrusi air laut ke wilayah Pontianak. Kondisi tersebut berdampak pada kualitas air PDAM Tirta Khatulistiwa yang dalam beberapa hari terakhir terasa payau hingga asin di sejumlah rumah pelanggan.

Direktur PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak Abdullah membenarkan adanya perubahan rasa pada air yang mengalir ke pelanggan. Menurutnya, berkurangnya debit air dari hulu membuat tekanan aliran sungai melemah sehingga air laut lebih mudah masuk ke wilayah perairan Kapuas.

“Memang air PDAM mengalami sedikit payau. Ini karena memasuki musim kemarau, sehingga debit air dari hulu berkurang. Alhasil dorongan air tidak kuat ditambah air laut masuk mengakibatkan intrusi air laut, sehingga menyebabkan produksi air sedikit payau,” ujar Abdullah, Selasa (11/8).

Baca Juga: El Nino Diprediksi Sangat Kuat hingga Oktober, Kekeringan dan Karhutla Mulai Ganggu Ekonomi Kalbar

Kondisi serupa dirasakan warga yang tinggal di tepian Sungai Kapuas. Jamilah, warga Gang Mendawai 2, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, mengatakan air sungai mengalami penyusutan setiap pagi dan berubah menjadi payau hingga terasa asin.

“Kalau pagi hari airnya surut dan terasa payau. Jadi susah untuk mandi. Walaupun terpaksa dipakai, sabun tidak bisa berbusa karena airnya asin. Kondisi yang sama juga terjadi saat mencuci pakaian,” ujar Jamilah.

Menurut Abdullah, kadar air payau tersebut bersifat fluktuatif. Pada waktu tertentu, kadar garam masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan, yakni 300 miligram per liter untuk air minum dan 600 miligram per liter untuk air bersih.

Untuk menjaga pasokan air tetap berjalan, PDAM mengoperasikan fasilitas cadangan air baku di Penepat. Instalasi pengolahan air di Imbon juga tetap dijalankan sebagai bagian dari upaya mempertahankan pelayanan kepada pelanggan selama musim kemarau.

Baca Juga: Kalbar Terancam Kemarau Berkepanjangan, BMKG Sebut El Nino Sangat Kuat Tingkatkan Risiko Karhutla

Abdullah mengatakan persoalan yang dihadapi tidak hanya menyangkut kualitas air, tetapi juga kuantitas. Penurunan debit Sungai Kapuas membuat pasokan air baku berkurang, sementara intrusi air laut menambah tantangan dalam proses produksi.

Meski air yang dialirkan kepada pelanggan masih terlihat jernih, Abdullah mengakui terdapat sedikit flek pada kondisi tertentu. Ia meminta masyarakat menggunakan air PDAM secara bijak, terutama untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

“Untuk saat ini, gunakan air bersih secukupnya. Gunakanlah air bersih secara bijak, untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Tidak diperkenankan air PDAM digunakan untuk dikonsumsi,” katanya.

Baca Juga: Kemarau Tekan Layanan Air Bersih Tirta Raya, Sungai Kapuas Dangkal dan Konsumsi Warga Melonjak

Ia menambahkan, kemarau yang berlangsung panjang juga berpotensi meningkatkan biaya operasional produksi air bersih. Kondisi tersebut terjadi karena debit air sungai terus menurun dan pengolahan air baku membutuhkan penanganan lebih besar.

Jika kondisi berlangsung dalam waktu lama, peningkatan biaya operasional tersebut berpotensi berdampak terhadap tarif layanan. Karena itu, PDAM terus memantau kondisi sumber air baku dan perkembangan intrusi air laut.

Keluhan pelanggan juga mulai muncul. Anjar, salah seorang pelanggan PDAM Pontianak, mengatakan air yang mengalir ke rumahnya terasa asin selama beberapa hari terakhir.

“Sudah enam hari ini produksi air PDAM asin. Tetapi ada jam-jamnya. Kadang asinnya kuat, kadang juga tidak begitu asin,” ujarnya.

Meski demikian, Anjar mengatakan distribusi air ke rumahnya masih berjalan lancar. Ia berharap kemarau tidak berlangsung terlalu lama sehingga penyusutan Sungai Kapuas tidak semakin parah dan pelayanan air bersih tetap terjaga.

Sementara itu, warga tepian Kapuas menghadapi persoalan yang lebih kompleks. Jamilah mengaku sejumlah warga mulai mengalami gangguan kesehatan, termasuk diare, yang menurutnya muncul setelah kualitas air memburuk.

“Beberapa warga mulai mengalami sakit seperti diare. Saya sendiri sudah tiga kali menderita diare akibat kondisi air yang buruk ini,” tuturnya.

Krisis air juga membuat pengeluaran rumah tangga bertambah. Jika sebelumnya satu galon air minum dapat digunakan selama dua hingga tiga hari, kini persediaan tersebut hanya bertahan sekitar sehari karena harus digunakan untuk minum, mencuci beras, membersihkan sayuran hingga menggosok gigi.

Jamilah berharap pemerintah memberikan perhatian khusus kepada warga yang terdampak, terutama melalui distribusi air bersih selama kualitas air sungai dan jaringan air mengalami perubahan.

“Saya berharap adanya perhatian serta penanganan khusus dari Pemerintah Kota Pontianak untuk mendistribusikan bantuan air bersih guna meringankan beban masyarakat,” harapnya. (yad/iza)

Editor : Hanif
intrusi air laut air payau PDAM sungai kapuas kemarau panjang