PONTIANAK POST - Kemarau tidak hanya membuat cuaca terasa lebih panas di Pontianak. Menurunnya debit Sungai Kapuas membuat air laut lebih mudah masuk ke aliran sungai dan meningkatkan kadar garam pada sumber air baku.
Pemerintah Kota Pontianak mulai mengantisipasi kondisi tersebut dengan meminta masyarakat menghemat penggunaan air bersih.
Di saat yang sama, Pemkot Pontianak berharap pemerintah pusat dapat mengambil langkah tambahan melalui operasi modifikasi cuaca jika kondisi memungkinkan.
Baca Juga: Debit Sungai Kapuas Menurun, Warga Pontianak Keluhkan Air PDAM Asin dan Ancaman Krisis Air Bersih
Pemkot Berharap Ada Hujan Buatan
Pemkot Pontianak berharap ada intervensi untuk meningkatkan kembali debit air di Sungai Kapuas.
Pemerintah kota meminta pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempertimbangkan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan apabila memungkinkan.
“Kita berharap pemerintah, dalam hal ini BNPB, dapat melakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan jika memungkinkan, sehingga hujan dapat turun di sekitar wilayah kota, terutama Kota Pontianak,” ujar Edi dikutip dari Antara (11/8).
Sungai Kapuas Mulai Terpengaruh Air Laut
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan sebagian Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) di Pontianak masih mengandalkan Sungai Kapuas sebagai sumber air baku.
Baca Juga: Warga Pontianak Diimbau Hemat Air, Kemarau Panjang Ancam Pasokan Air Baku PDAM
Persoalannya, kemarau membuat debit sungai menurun. Ketika aliran air dari wilayah hulu melemah, air laut menjadi lebih mudah masuk ke Sungai Kapuas saat pasang.
Menurut Edi, peningkatan kadar garam terutama terjadi pada malam hingga dini hari, sekitar pukul 21.00 WIB sampai 04.00 WIB.
“Kadar garam tertinggi tercatat di instalasi pengolahan air di Nipah Kuning yang mencapai sekitar 2.903 miligram per liter. Sementara itu, kadar garam di Imam Bonjol telah berada di atas 700 miligram per liter, Selat Panjang sekitar 1.100 miligram per liter, sedangkan Parit Mayor masih berada pada kisaran 400 hingga 600 miligram per liter,” jelasnya.
Air Masih Bisa Diolah, tetapi Kondisinya Payau
Meningkatnya kadar garam membuat pengelolaan air baku menjadi lebih menantang. Edi menjelaskan air yang telah melalui proses pengolahan masih dapat digunakan sesuai peruntukannya dengan memperhatikan kadar garam.
Batas sekitar 600 miligram per liter masih diperuntukkan bagi kebutuhan mencuci dan mandi, sedangkan untuk air minum batasnya sekitar 300 miligram per liter.
Untuk mengurangi kadar garam di wilayah tertentu, pasokan air dari instalasi berbeda juga dilakukan dengan cara pencampuran.
“Untuk mengimbangi supaya di Nipah Kuning tidak terlalu asin, dari Imam Bonjol disuplai untuk dicampur. Tetapi kondisi air saat ini masih payau,” ujarnya.
Baca Juga: Warga Sambas Harap Hujan Segera Turun, Cadangan Air Bersih Mulai Menipis Beberapa Hari Lagi
Pemkot Minta Warga Tidak Boros Air
Dengan kondisi tersebut, Pemkot Pontianak meminta masyarakat mengurangi penggunaan air bersih untuk kebutuhan yang tidak mendesak. Imbauan ini menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan sambil pemerintah mengantisipasi dampak kemarau.
“Warga untuk berhemat dalam menggunakan air bersih karena dampak kemarau yang melanda,” kata Edi.
Ia meminta penggunaan air diprioritaskan untuk kebutuhan utama, terutama konsumsi. Langkah penghematan dinilai penting karena kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga pertengahan September berdasarkan perkiraan BMKG.
Harapannya, tambahan curah hujan dapat membantu meningkatkan debit Sungai Kapuas sehingga tekanan aliran sungai kembali lebih kuat dan dampak intrusi air laut dapat ditekan.
Editor : Miftahul Khair