PONTIANAK POST – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kalimantan mulai berdampak hingga Sarawak, Malaysia. Sebanyak 108 sekolah di Divisi Serian (perbatasan Kalimantan Barat) ditutup sementara setelah kualitas udara mencapai level yang membahayakan kesehatan.
Meski dampak asap lintas batas telah dirasakan masyarakat Sarawak, Pemerintah Malaysia belum menyampaikan protes resmi kepada Indonesia. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyebut komunikasi antara Indonesia dan negara-negara tetangga tetap berlangsung untuk membahas perkembangan kabut asap dan langkah penanganannya. “Tidak ada protes sama sekali,” ujar Juru Bicara I Kemenlu RI Yvonne Mewengkang dalam press briefing Kemenlu di Jakarta, Kamis (13/8).
Yvonne memastikan Indonesia tetap berkomunikasi dengan negara-negara tetangga terkait berbagai isu, termasuk kabut asap lintas batas.
Dampak paling nyata terlihat di sektor pendidikan Sarawak. Sebanyak 108 sekolah di Divisi Serian ditutup sementara untuk melindungi siswa, guru, dan warga sekolah dari paparan udara tidak sehat.
Dikutip dari Malaymail, keputusan tersebut diambil setelah indeks polusi udara di sejumlah wilayah Sarawak mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Data portal Sistem Manajemen Indeks Pencemar Udara Malaysia (APIMS) pada Kamis (13/8) sore menunjukkan 10 wilayah berada dalam kategori tidak sehat.
Wilayah tersebut meliputi Samarahan, Serian, Kuching, Sri Aman, Sarikei, Mukah, dan Sibu di Sarawak. Selain itu, kondisi tidak sehat juga tercatat di Johan Setia, Selangor; Cheras, Kuala Lumpur; dan Minden, Penang.
Indeks polusi udara di sejumlah wilayah Sarawak berada pada kisaran 150–183 atau kategori tidak sehat. Angka tersebut memang menurun dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Rabu (12/8), indeks di Serian sempat mencapai 202 dan Tebedu 212, yang masuk kategori sangat tidak sehat.
Wakil Perdana Menteri Sarawak sekaligus Ketua Komite Manajemen Bencana Negara Bagian, Datuk Amar Douglas Uggah Embas, mengatakan penutupan sekolah merupakan langkah perlindungan terhadap kesehatan warga sekolah.
Meski sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar tetap dilanjutkan dari rumah.
Keputusan tersebut mengacu pada Rencana Aksi Kabut Asap Nasional yang mewajibkan sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak menghentikan kegiatan di lokasi ketika pembacaan indeks polusi udara mencapai 200.
“Pembelajaran dan Pengajaran dari Rumah (PdPR) akan berlanjut selama periode penutupan untuk memastikan kesinambungan pembelajaran siswa tidak terganggu,” ujarnya.
Titik Panas Meningkat
Uggah mengatakan kualitas udara di Sarawak mulai menunjukkan tren memburuk sejak 1 Agustus. Berdasarkan data Pusat Meteorologi Khusus ASEAN, terdapat 75 titik panas di Sarawak selama 1–11 Agustus.
Pada periode yang sama, jumlah titik panas di Kalimantan jauh lebih tinggi, mencapai 3.853 titik.
Uggah mengatakan Pusat Komando Bencana Negara Bagian (SDMC) bersama lembaga terkait terus memantau kualitas udara, kondisi cuaca, titik api, dan kejadian kebakaran di seluruh Sarawak.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki masalah pernapasan atau jantung.
Mereka disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik.
Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) memperkirakan kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Malaysia belum menunjukkan perubahan signifikan dalam tiga hingga lima hari ke depan.
Direktur Senior Pusat Operasi Cuaca dan Gempa Nasional MetMalaysia (POCGN), Maqrun Fadzli Mohd Fahmi, mengatakan hujan yang diperkirakan turun di sejumlah wilayah belum tentu mampu memulihkan kualitas udara secara luas.
Protes Tidak, Komunikasi Iya
Meski asap telah berdampak pada aktivitas masyarakat Sarawak, Malaysia sejauh ini tidak mengajukan protes resmi kepada Indonesia.
Juru Bicara I Kemenlu RI Yvonne Mewengkang menegaskan tidak ada protes yang diterima pemerintah Indonesia hingga Kamis (13/8).
“Tidak ada protes sama sekali,” katanya.
Namun, tidak adanya protes bukan berarti persoalan kabut asap lintas batas tidak dibicarakan. Yvonne memastikan komunikasi antara Indonesia dan negara-negara tetangga tetap berlangsung.
Komunikasi tersebut mencakup perkembangan situasi kabut asap serta langkah-langkah yang dilakukan masing-masing negara.
Juru Bicara II Kemenlu RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengatakan pemerintah Indonesia tetap mengambil langkah penanganan, terlepas dari ada atau tidaknya protes dari negara tetangga.
Langkah tersebut mencakup pemadaman dan penegakan hukum di dalam negeri serta komunikasi dengan negara-negara tetangga.
“Di ASEAN itu juga sudah ada mekanisme yang membahas mengenai isu ini, sehingga kita memanfaatkan mekanisme tersebut untuk memaintain komunikasi, update informasi, dan juga untuk kerja sama,” paparnya.
Dengan demikian, penutupan sekolah di Sarawak tidak serta-merta berkembang menjadi persoalan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia. Dampak kabut asap ditangani melalui komunikasi dan mekanisme kerja sama yang telah tersedia di tingkat ASEAN.
Bagi masyarakat di kawasan perbatasan, persoalan tersebut tetap memiliki dampak langsung. Asap tidak mengenal garis negara, sementara kualitas udara yang memburuk dapat memaksa aktivitas pendidikan dihentikan demi melindungi kesehatan anak-anak. (mia/wan/ttg)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro