PONTIANAK POST — Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV sekaligus memperingati hari ulang tahun ke-3 di Rumah Radakng, Jalan Sultan Syahrir, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (14/8).
Rakernas dibuka Asisten I Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Antonius Y Rawing dan dihadiri Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis. Forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan Dayak dalam pembangunan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas generasi penerus.
Sekjen MADN Yakobus Kumis mengatakan, gagasan pembentukan LPDN bermula saat dirinya melakukan pelantikan Dewan Adat Dayak Kalimantan Selatan pada 12-14 Agustus 2022. Gagasan itu kemudian ditindaklanjuti melalui rapat kerja nasional hingga LPDN resmi berkembang sebagai organisasi perempuan Dayak di tingkat nasional.
Baca Juga: Cornelis Ajak Masyarakat Dayak Kibarkan Merah Putih Sambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI
“Hari ini di usianya yang ke-3 dan dalam rapat kerja nasional ke-4, kami menyatakan mendukung penuh kegiatan ini dan apresiasi atas kegiatan Rakernas LPDN dan ulang tahun,” kata Yakobus.
Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kualitas masyarakat Dayak. Peran tersebut terutama dimulai dari keluarga karena perempuan, khususnya ibu, tidak hanya melahirkan tetapi juga memiliki peran penting dalam mengasuh, mendidik dan membentuk karakter anak.
“Lembaga Perempuan Dayak berada di garda terdepan mewujudkan bangsa Dayak yang berkualitas,” ujarnya.
Yakobus menilai kualitas keluarga menjadi fondasi terbentuknya masyarakat yang kuat. Karena itu, perhatian terhadap peran perempuan perlu diperkuat, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam pembangunan masyarakat.
Baca Juga: Semarak HUT ke-81 RI, Polsek Ngabang dan Ormas Bala Dayak Bagikan 500 Bendera Merah Putih
“Kalau keluarga berkualitas dan kuat ini muncul di dalam keluarga-keluarga, tentu nanti akan terbentuk masyarakat yang kuat dan berkualitas,” katanya.
Asisten I Pemprov Kalbar Antonius Y Rawing mengatakan Rakernas LPDN diharapkan tidak berhenti sebagai agenda organisasi, tetapi menghasilkan gagasan dan program konkret yang menjawab persoalan perempuan dan keluarga.
Ia menyebut perempuan memiliki peran penting dalam membangun ketahanan keluarga dan membentuk karakter generasi penerus.
“Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Dari keluarga yang kuat, akan lahir masyarakat yang kuat dan berkualitas,” ujar Antonius.
Pemprov Kalbar, kata dia, berharap LPDN terus berkontribusi dalam agenda pembangunan, termasuk pendidikan keluarga, pemberdayaan ekonomi perempuan, perlindungan anak hingga pelestarian budaya Dayak.
Sementara itu, Ketua Umum LPDN Nyelong Inga Simon mengatakan penguatan peran perempuan dalam keluarga menjadi salah satu fokus utama pembahasan Rakernas IV.
Baca Juga: Abdul Kadir, Pahlawan dari Tanah Sintang yang Satukan Dayak dan Melayu Melawan Belanda
LPDN mendorong perempuan meningkatkan kualitas pendidikan anak, pola asuh serta kapasitas ekonomi produktif agar dapat membantu memperkuat ketahanan keluarga.
“Yang kita dorong, kita bahas dalam Rakernas ini bagaimana peran LPDN, ibu-ibu untuk meringankan beban keluarga. Kata kuncinya tingkatkan kualitas sekolah, pendidikan, tingkatkan pola asuh,” kata Nyelong.
Ia mengingatkan pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Pendidikan formal harus berjalan beriringan dengan pendidikan dan pengasuhan di lingkungan keluarga.
Nyelong juga menyoroti tantangan pengasuhan di tengah pesatnya penggunaan teknologi. Menurut dia, orangtua tetap harus hadir dalam proses tumbuh kembang anak dan tidak menyerahkan seluruh pengasuhan kepada pihak lain.
Baca Juga: Usulan Perda Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang Menguat Demi Kepastian Hukum dan Jadwal Tetap
“Ini penting kita ingatkan agar pendidikan rumah tangga bisa sejalan dengan pendidikan formal,” ujarnya.
Selain pendidikan dan pola asuh, LPDN menyiapkan program pemberdayaan ekonomi melalui kelompok usaha bersama berbasis komunitas. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi keluarga.
Nyelong mengatakan pendampingan menjadi faktor penting karena kemampuan masyarakat dalam menerima pengetahuan dan mengadopsi teknologi tidak sama.
“Karena kemampuan kami berbeda-beda, pengetahuan kami berbeda-beda, tingkat kemampuan adopsi teknologi juga berbeda-beda. Kata kuncinya atas dinamika itu maka kami perlu pendampingan,” jelasnya.
LPDN juga menyusun agenda jangka panjang yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. Sementara program jangka pendek difokuskan pada penyelesaian agenda lima tahunan hingga 2028.
“Rakernas ke-IV ini program jangka panjangnya adalah mengeluarkan program untuk menuju Indonesia Emas tahun 2045. Jangka pendeknya menyelesaikan lima tahun yang berakhir 2028,” kata Nyelong. (den)
Editor : Miftahul Khair