Bikin Bangga, Anak Pontianak Wakili Indonesia ke Program Global UNESCO

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:48 WIB
Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang terpilih dalam program UNESCO dan aktif memperkenalkan budaya China melalui media sosial. (Xinhua)
Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang terpilih dalam program UNESCO dan aktif memperkenalkan budaya China melalui media sosial. (Xinhua)

 

PONTIANAK POST – Nama Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Pontianak, Kalimantan Barat, masuk dalam daftar talenta muda Indonesia yang terpilih mengikuti program global UNESCO Capture the Future: Global Youth Storytelling Initiative for People and Nature. Melalui program tersebut, Veldesen membawa cerita tentang arsitektur tradisional, masyarakat, dan pelestarian warisan budaya ke ruang internasional.

Veldesen terpilih bersama Salsabilla Nur Feranti melalui program yang diselenggarakan UNESCO lewat Man and the Biosphere (MAB) Programme. Penetapan peserta dilakukan dewan juri MAB Programme di Kantor Pusat UNESCO pada 29 Juli 2026, setelah pendaftaran dibuka sejak 5 Maret hingga 31 Mei 2026.

Bagi Veldesen, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya mempelajari arsitektur, budaya, dan warisan tradisional di China. Dari Pontianak, ia menempuh pendidikan di China hingga tingkat magister dan kini menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjembatani pertukaran budaya Indonesia-China.

Dari Pontianak Menempuh Pendidikan di China

Veldesen lahir di Pontianak pada 2001. Ia tumbuh di tengah lingkungan kota yang memiliki keragaman budaya dan kemudian tertarik mempelajari akar budaya Tionghoa serta kehidupan masyarakat di China.

Ketertarikannya terhadap China semakin kuat setelah ia berangkat ke negara tersebut pada 2017. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah menengah di Shenzhen sebelum melanjutkan studi di Universitas Tsinghua.

Kini, Veldesen menempuh pendidikan magister arsitektur di Tsinghua University. Fokus akademiknya berkaitan dengan arsitektur tradisional, revitalisasi pedesaan, dan pelestarian warisan budaya.

Perjalanan tersebut memiliki makna personal bagi Veldesen. Lebih dari satu abad lalu, leluhurnya berlayar dari Guangdong ke Indonesia untuk mencari penghidupan. Kini, generasi berikutnya justru menempuh perjalanan ke China untuk mempelajari budaya dan pengetahuan yang kemudian ingin dibawa kembali ke Indonesia.

Arsitektur Menjadi Cara Memahami Budaya

Ketertarikan Veldesen terhadap arsitektur tidak berhenti di ruang kelas. Ia aktif mengunjungi berbagai kawasan bersejarah di China untuk mengamati bangunan, teknik konstruksi, ornamen, hingga hubungan antara arsitektur dan kehidupan masyarakat.

Dalam perjalanan ke Shanxi, China utara, misalnya, ia menggunakan buku sketsa untuk merekam bangunan kuno. Ia mengamati struktur kayu dan lekukan atap sambil mencari tahu alasan di balik setiap detail arsitektur.

“Menurut saya, menggambar tidak semata-mata untuk merekam rupa suatu bangunan. Lebih dari itu, menggambar adalah upaya untuk menjalin keterikatan emosional dengannya,” tutur Veldesen.

Baginya, proses menggambar membuat seseorang tidak hanya melihat bentuk bangunan. Detail yang diamati juga membuka pemahaman mengenai pengetahuan dan keterampilan para perajin pada masa lalu.

Belajar dari Warisan Budaya China

Veldesen menjadi salah satu tamu mancanegara dalam International Cultural Heritage Protection Week 2026 di kota tua Yuci, Jinzhong, Provinsi Shanxi.

Forum tersebut mempertemukan diplomat, pakar warisan budaya, akademisi, dan kreator media internasional untuk membahas perlindungan warisan budaya serta pertukaran pengetahuan antarperadaban.

Shanxi menjadi salah satu wilayah yang menarik perhatian Veldesen karena memiliki kekayaan arsitektur kuno. Provinsi tersebut memiliki lebih dari 500 situs warisan budaya utama di bawah perlindungan negara serta tiga Situs Warisan Dunia UNESCO, yakni Kota Kuno Pingyao, Gua Yungang, dan Gunung Wutai.

Dari pengalaman tersebut, Veldesen melihat kesamaan antara arsitektur tradisional China dan Indonesia. Menurut dia, bangunan tradisional di kedua negara tidak dapat dipisahkan dari alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

“Bangunan bukanlah monumen yang berdiri sendiri. Bangunan berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat,” katanya.

Warisan Budaya Tidak Cukup Hanya Disimpan

Veldesen berpandangan bahwa pelestarian warisan budaya tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bangunan lama. Masyarakat yang menjadi bagian dari warisan tersebut juga harus dilibatkan agar tradisi tetap hidup.

“Melindungi bangunan kuno saja tidak cukup. Masyarakat setempat harus tetap menjadi bagian dalam proses tersebut, agar warisan budaya terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pandangan itu juga tercermin dalam kegiatan akademik dan sosial yang pernah dijalaninya. Ia pernah terlibat dalam upaya revitalisasi kawasan masyarakat di Guizhou serta mendokumentasikan Sulaman Ekor Kuda Suku Shui, salah satu warisan budaya takbenda di China.

Ia juga mempelajari pemanfaatan teknologi dalam konservasi, termasuk pemindaian tiga dimensi, pengarsipan digital, dan pameran imersif.

Menurutnya, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu sarana untuk membuat warisan budaya lebih mudah dipelajari generasi muda tanpa menghilangkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik budaya.

Dari China, Membawa Pengetahuan ke Indonesia

Veldesen tidak hanya memperkenalkan budaya China kepada masyarakat Indonesia. Melalui media sosial, ia juga memperkenalkan pariwisata, kuliner, tradisi, dan kehidupan masyarakat Indonesia kepada pengikutnya di China.

Ia membuat konten mengenai tempat bersejarah dan makanan lokal, mencoba berbagai kesenian tradisional, serta membagikan pengalaman belajar membuat keramik, tembikar, kipas pernis, hingga kue bulan.

Pada saat yang sama, ia memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat China. Salah satunya dengan membagikan perayaan Festival Lampion di Pontianak dan menjelaskan berbagai tradisi masyarakat Indonesia.

“Saya mencintai kedua rumah saya, Indonesia dan China,” ujar Veldesen.

Ia berharap pengalaman belajar di China dapat diterapkan dalam pengembangan arsitektur dan pembangunan di Indonesia, terutama dengan tetap mempertahankan pengetahuan lokal.

“Kota-kota di Indonesia sedang dalam pembangunan yang cepat. Pengetahuan dan kearifan yang saya pelajari di China pasti akan berguna suatu hari nanti,” katanya.

Veldesen Membawa Cerita Pontianak ke Panggung Global

Dalam program UNESCO Capture the Future, Veldesen membawa karya berjudul From an Old House to New Hope: Youth and Villagers Reviving Mawei Embroidery.

Karya tersebut mendokumentasikan revitalisasi rumah kayu tradisional masyarakat Shui di Libo, Guizhou, China. Fokusnya adalah hubungan antara generasi muda, masyarakat desa, arsitektur tradisional, dan keberlanjutan warisan budaya.

Pilihan tema tersebut memperlihatkan konsistensi Veldesen dalam mengangkat hubungan antara arsitektur dan masyarakat. Pengalaman yang diperolehnya di China sekaligus menjadi bagian dari upayanya melihat kemungkinan penerapan pengetahuan lokal dalam konteks Indonesia.

Duta Besar RI untuk UNESCO Mohamad Oemar menyambut terpilihnya Veldesen dan Salsabilla sebagai representasi Indonesia. Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan kemampuan generasi muda Indonesia menerjemahkan kekayaan alam dan budaya melalui kreativitas, pengetahuan, dan storytelling.

Berikutnya Bertemu Talenta Muda dari Berbagai Negara

Setelah terpilih dalam program tersebut, Veldesen dan Salsabilla akan mengikuti UNESCO x vivo Co-Creation Camp di Cagar Biosfer Apennine Tuscan-Emilian, Italia, pada 31 Agustus hingga 6 September 2026.

Mereka akan bergabung dengan peserta dari berbagai negara untuk memperkuat keterampilan bercerita dan membangun jejaring internasional.

Bagi Veldesen, perjalanan tersebut bukan sekadar kesempatan memperkenalkan karya. Ia ingin pengalaman yang diperolehnya di China, Indonesia, dan berbagai ruang internasional menjadi bekal untuk mempertemukan pengetahuan, budaya, dan gagasan antarmasyarakat.

“Warisan budaya dapat semakin mendekatkan masyarakat. Melalui kerja sama yang lebih erat dan pembelajaran bersama, China dan Indonesia dapat bahu-membahu melindungi masa lalu sekaligus menginspirasi generasi mendatang,” ujar Veldesen.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
arsitektur tradisional Veldesen Yaputra mahasiswa Tsinghua asal Pontianak UNESCO MAB Programme warisan budaya