Antisipasi Karhutla Saat El Nino, Gubernur Kalbar Minta Tunda Pembakaran Lahan

Novantar Ramses Negara • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:32 WIB
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan. (ANTARA)
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan. (ANTARA)

PONTIANAK POST - Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meminta masyarakat menunda pembukaan lahan dengan cara membakar hingga kondisi El Nino berakhir. Imbauan itu disampaikan karena cuaca panas dan kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus memperburuk kualitas udara.

“Kami juga meminta kepada masyarakat menunda dulu untuk membuka lahan berladang sampai dengan El Nino ini selesai,” kata Norsan di Pontianak, Kamis (13/8).

Norsan mengatakan kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, pembukaan lahan dengan metode pembakaran dinilai memiliki risiko lebih besar selama periode cuaca kering.

Baca Juga: Menteri LH Keluarkan Larangan Bakar Lahan, Bentrok dengan Perda Kalbar

Meski meminta masyarakat menunda pembakaran, Norsan mengingatkan warga yang tetap membuka lahan dengan cara tersebut agar mematuhi ketentuan yang berlaku. Pembakaran harus dilakukan secara terkendali dan masyarakat tidak boleh meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam.

Sebelum melakukan pembakaran, masyarakat juga diminta berkoordinasi atau melapor kepada kepala desa. Lahan yang akan dibakar harus dibuat sekat atau parit di sekelilingnya untuk mencegah api merembet.

“Yang kedua menyekat lahan yang akan dibakar, dengan membuat parit di keliling,” ujarnya.

Menurut Norsan, langkah pencegahan tersebut penting untuk mengantisipasi api meluas. Namun, dalam kondisi El Nino, menunda pembakaran tetap menjadi pilihan paling aman untuk menekan risiko karhutla.

Baca Juga: 186 Titik Panas Terdeteksi di Sintang, Pemkab Minta Warga Hentikan Bakar Lahan Saat Kemarau

Dampak karhutla tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Norsan mengatakan pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap. Di wilayah yang kualitas udaranya memburuk, kegiatan belajar anak sekolah dapat dihentikan sementara untuk mengurangi risiko paparan asap. “Yang dikhawatirkan adalah anak-anak terkena ISPA. Jadi diliburkan dulu,” katanya.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus keluar rumah. Pemerintah daerah memastikan fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit, tetap siap menangani warga yang mengalami gangguan akibat paparan asap.

Direktur RSUD Soedarso Pontianak Hary Agung Tjahyadi mengatakan kesiapan layanan kesehatan mencakup ketersediaan obat-obatan, oksigen, serta kebutuhan penanganan pasien dengan gangguan pernapasan.

“Yang penting semuanya harus punya kesiapan untuk memberikan penanganan yang baik,” kata Hary.

Menurut Hary, masyarakat dengan gangguan atau penyakit pernapasan perlu lebih waspada ketika kualitas udara memburuk. Penanganan dilakukan secara berjenjang, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan apabila kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: Air Pemadaman Karhutla Makin Terbatas, Franky Sibarani Minta Warga Stop Bakar Lahan saat Kemarau

Sementara itu, hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Pontianak pada Kamis (13/8) membawa dampak positif terhadap kualitas udara. Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat laporan harian ISPA turun menjadi 53 kasus pada Jumat (14/8) dari 211 kasus sehari sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko mengatakan kasus ISPA sempat mengalami kenaikan tajam dalam sepekan terakhir. Pada 8 Agustus tercatat 294 kasus, kemudian melonjak menjadi 409 kasus pada 9 Agustus.

Angka tersebut kemudian turun menjadi 320 kasus dan 186 kasus, sebelum kembali naik menjadi 211 kasus. Sehari setelah hujan mengguyur Pontianak, laporan harian ISPA turun menjadi 53 kasus.

“Selang satu hari lagi kasusnya meningkat 211 kasus. Di hari ini kasus ISPA turun dengan laporan 53 kasus,” kata Saptiko.

Baca Juga: El Nino, Pemprov Kalbar Minta Warga Setop Bakar Lahan

Menurut Saptiko, hujan menjadi salah satu faktor yang kemungkinan membantu memperbaiki kondisi udara dan mengurangi paparan kabut asap.

“Dengan adanya hujan, membuat udara Kota Pontianak semakin membaik. Sehingga kabut asap semakin berkurang dan kasus ISPA di Kota Pontianak ikut menurun,” ujarnya.

Saptiko mengingatkan turunnya kasus setelah hujan belum berarti ancaman ISPA berakhir. Jika kondisi kering kembali terjadi dan karhutla meningkat, kualitas udara berpotensi kembali memburuk.

Karena itu, Dinas Kesehatan meminta puskesmas, terutama yang berada di wilayah rawan karhutla, tetap siaga. Masker, obat-obatan hingga oksigen disiapkan untuk mendukung penanganan warga yang mengalami gangguan pernapasan.

Dampak kekeringan dan karhutla juga dirasakan warga di Kabupaten Kubu Raya. Sebanyak 49 kepala keluarga atau sekitar 208 warga di Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, mendapat bantuan air bersih.

Dari 208 penerima bantuan tersebut, 67 orang merupakan anak-anak dan 15 lainnya lansia. Warga disebut mengalami kesulitan memperoleh air bersih selama sekitar dua bulan.

Baca Juga: Menkopolkam Desak Kalbar dan Kalteng Hentikan Izin Bakar Lahan Berbasis Kearifan Lokal

Direktur Eksekutif Dompet Ummat Nurhayati mengatakan bantuan disalurkan setelah pihaknya menerima laporan mengenai keterbatasan sumber air. “Air adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda,” ujar Nurhayati.

Kekeringan juga berdampak terhadap kebutuhan sanitasi. Warga melaporkan sejumlah keluhan kesehatan, seperti sakit mata dan demam, serta kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari.

Warga Dusun Sidomulyo, Sri Mawarni, mengatakan sebagian masyarakat bahkan mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air.

“Biasanya untuk minum kami menggunakan air hujan, tetapi kualitas air hujannya juga kurang baik. Kami hanya menantikan hujan,” tuturnya. (mse/iza)

Editor : Miftahul Khair
ria norsan ispa karhutla kalbar el nino bakar lahan