PONTIANAK POST - Ritual Penti kembali digelar keluarga Manggarai asal Flores, Nusa Tenggara Timur, di Kota Pontianak. Rangkaian kegiatan dimulai Sabtu malam (15/8) dan berlangsung selama dua hari.
Cuaca Kota Pontianak yang kurang bersahabat dalam beberapa waktu terakhir tidak menyurutkan semangat keluarga Manggarai untuk melaksanakan Penti setiap tahun. Gelaran budaya tersebut kembali dilaksanakan di rumah salah seorang tetua adat di Kecamatan Pontianak Utara.
Penti diawali dengan ritual Teing Hang. Sementara puncak rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui ritual Torok Ela yang dirangkai dengan permainan tradisional Caci.
“Selain berterima kasih kepada orang-orang tua dan leluhur di Manggarai, kita juga berterima kasih kepada leluhur yang ada di sini (Kalbar, Red). Karena kita sudah bersatu dan menjadi warga di sini,” kata Ignasius Madur, pemandu adat dalam kegiatan tersebut.
Menurut Ignasius, Penti yang digelar warga Manggarai setiap pertengahan tahun merupakan ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga memohon petunjuk dan bimbingan dari Yang Maha Kuasa untuk menjalani tahun berikutnya.
“Di acara ini juga, kita menyatukan seluruh keluarga dan kerabat. Dari ritual Penti, kita mau bersama membangun demi kesejahteraan bersama juga,” kata Gerardus usai ritual Torok Ela, Minggu (16/8) pagi.
Gerardus Danggus, salah seorang tetua Manggarai, mengatakan perayaan Penti juga menjadi momentum untuk berterima kasih kepada leluhur di daerah asal maupun leluhur di tempat mereka berdomisili.
Secara esensial, dalam budaya masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tradisi Penti lekat dengan perayaan syukur atas hasil panen. Namun, maknanya lebih luas dari sekadar pesta panen.
Penti juga berfungsi sebagai pesta tahun baru adat atau celung cekeng wali ntaung, yang berkaitan dengan pergantian musim, sekaligus menjadi momentum pemulihan hubungan spiritual.
Menghormati Leluhur di Tanah Asal dan Perantauan
Ritual Penti 2026 dihadiri kerabat dari luar Kota Pontianak, seperti Bengkayang dan Tayan. Masing-masing perwakilan diberi kesempatan menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan kepada para leluhur.
Harapannya, dengan kuasa Yang Maha Esa, segala pekerjaan yang dilakukan selama setahun ke depan dapat berjalan lancar.
Vitalis Telang, Ketua Panitia Budaya Penti Manggarai di Pontianak, mengatakan ritual Penti digelar selama dua hari. Sejumlah rangkaian ritual dilaksanakan, mulai dari tura cai, kapu ase ka’e, hingga teing hang ceki.
Sementara itu, puncak kegiatan dilaksanakan melalui wewa gong, kedi, dan torok ela.
“Dalam syukuran Penti, warga tak lupa mengundang arwah nenek moyang. Hal itu dilakukan sebagai penghormatan kepada leluhur dan meminta petunjuk dalam pelaksanaan adat tradisi yang dilakukan,” katanya.
Menurut Vitalis, Penti di Manggarai, Flores, merupakan salah satu upacara adat untuk merayakan syukur atas hasil panen yang dilakukan bersama seluruh warga desa.
Di Kota Pontianak, pelaksanaan Penti bersifat umum. Tradisi tersebut mencerminkan rasa syukur manusia kepada Tuhan atau wujud tertinggi (Mori Keraeng), penghormatan terhadap leluhur (empo), alam, serta sesama manusia.
Mereka mengatakan, bukan hanya leluhur warga Manggarai di tanah asal yang disebut dan diundang, melainkan juga leluhur yang berada di tanah rantau. Hal tersebut dilakukan dalam ritual Teing Hang maupun Torok Ela.
Clemens Garun, salah satu warga Manggarai di Jalan Panca Bakti, Pontianak Utara, Kelurahan Batulayang, tempat pelaksanaan acara, menambahkan Teing Hang atau memberi makan arwah merupakan salah satu ritus adat Manggarai-Flores, NTT. Ritus tersebut berupa pemberian sesajian kepada roh leluhur sebagai bentuk persembahan, sekaligus memiliki maksud memohon perlindungan dan menyampaikan rasa syukur.
Penti sebagai Perekat Keluarga di Perantauan
Salah seorang tokoh muda Manggarai di Pontianak, Ferdi Wangku, mengatakan makna Penti bagi masyarakat Manggarai adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat yang diterima, terutama hasil panen.
“Makna Penti lainnya, memberi makanan bagi para leluhur yang telah meninggal. Kita percaya bahwa mereka yang telah meninggal tetap hidup, yaitu hidup kekal bersama Tuhan di surga,” katanya.
Menurut Ferdi, Penti juga menjadi sarana untuk menyatukan masyarakat Manggarai. Di tempat perantauan, perayaan tersebut sekaligus menjadi obat rindu terhadap kampung halaman di Manggarai.
Vitalis menambahkan, upacara adat Penti juga dirangkai dengan Misa, upacara keagamaan umat Katolik yang dipimpin Pastor RP Donatus Jensi, CDD bersama Pastor Elenterius Bon, SVD.
Caci, Tradisi Ketangkasan yang Sarat Persaudaraan
Salah satu kegiatan yang paling dinantikan warga Manggarai dalam rangkaian Penti adalah permainan Caci.
Caci merupakan permainan ketangkasan yang diikuti kaum laki-laki Manggarai. Di daerah asalnya, peserta permainan dapat mengalami luka serius. Dalam kasus tertentu, permainan tersebut bahkan dapat mengakibatkan korban jiwa.
“Sedangkan di sini (Pontianak, Red), tidak dilakukan persis sama seperti kompetisi di Manggarai. Di sini lebih pada mengungkapkan rasa gembira dan kerinduan akan permainan ini. Terutama bagi mereka yang pernah memainkannya sewaktu di Manggarai,” kata Nasus.
Meski dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan, beberapa pemain Caci yang turun ke arena mengalami luka lecutan di tubuh. Luka terlihat di bagian punggung, lengan, hingga perut akibat terkena cambukan lawan.
Caci merupakan permainan saling cambuk antarpemain. Namun, setelah pertandingan berakhir, para pemain justru saling berpelukan dan tertawa.
Permainan tersebut pada akhirnya menjadi ajang mempererat persaudaraan, bukan sekadar kompetisi yang menempatkan lawan sebagai musuh.
Busana dan Perlengkapan Caci
Para pemain tidak tampil sembarangan. Mereka mengenakan kain songke berwarna dasar hitam dengan beragam motif. Kain tenun khas Manggarai tersebut digunakan sebagai sarung yang menutup tubuh bagian pinggang hingga ke bawah.
Bagian tubuh atas dibiarkan terbuka sebagai sasaran cambuk lawan.
Nasus mengatakan setiap peserta juga menggunakan panggal, yakni penutup bagian dahi. Panggal berbentuk segi empat memanjang dan diberi tambahan lengkungan menyerupai tanduk kerbau di sisi kiri dan kanannya.
Wajah pemain dililit kain sehingga hanya bagian mata yang terlihat untuk mengawasi lawan.
Dalam setiap penampilan terdapat dua orang pemain yang bergantian saling mencambuk. Peserta yang mendapat giliran mencambuk atau paki membawa larik, yakni cambuk.
Sementara lawan yang mendapat giliran menangkis atau ta’ang dilengkapi tameng yang disebut nggiling. Tameng tersebut terbuat dari kulit kerbau dan berbentuk hampir bundar, dengan batang pegangan yang mencuat di bagian tengah.
Selain nggiling, pemain yang melakukan ta’ang juga dilengkapi agang. Peralatan tersebut berupa dua bilah bambu panjang yang melengkung, dengan panjang lebih dari dua meter, yang diikat menjadi satu dan dilengkapi seutas tali yang menjuntai.
Sasaran cambuk mulai dari bagian pinggang ke atas hingga wajah. Penangkis harus selalu siap karena pemukul mengintai setiap kesempatan.
Dalam satu kali bentrokan, pemukul hanya dapat mencambuk satu kali. Setelah itu, ia harus bersiap menerima balasan dari lawan.
Meski mengalami luka lecutan yang bercampur keringat, para pemain tetap terlihat santai. Usai berlaga, masing-masing petarung saling berpelukan dan tertawa.
Melestarikan Budaya Manggarai di Perantauan
Vitalis yang ikut turun ke arena mengatakan Caci merupakan seni permainan tradisional yang dilakukan secara turun-temurun saat Penti sebagai sarana hiburan sekaligus uji ketangkasan.
“Caci juga dilaksanakan saat perayaan tertentu, misalnya memeriahkan perayaan HUT kemerdekaan, penyambutan terhadap para rohaniwan yang ditahbiskan menjadi pastor, serta memeriahkan event nasional terutama yang berhubungan dengan pariwisata,” katanya.
Menurutnya, sebagai bagian dari budaya Manggarai, masyarakat perlu mengikuti dan menjaga tradisi tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya, di mana pun mereka berada.
Di tanah rantau, Penti bukan sekadar ritual adat. Ia menjadi ruang untuk merawat ingatan tentang kampung halaman, menghormati leluhur, mempererat keluarga, serta membangun persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat yang beragam. (bas)
Editor : Basilius Andreas Gas